Senin, 27 Oktober 2014

Vonny dan Office Boy yang Beruntung

Reza

Perlahan-lahan motor Honda berwarna hitam itu memasuki sebuah jalan cukup lebar di kompleks perumahan di BSD. Pengemudinya yang berkulit coklat tua menjurus hitam itu kelihatan sedang mencari-cari nomor rumah tertentu, menandakan bahwa ia bukan penghuni di jalan itu. Akhirnya ditemukannya nomor yang dicarinya, motornya dihentikan didepan rumah cukup besar dan terletak agak tinggi dibandingkan jalanan. Si pengemudi yang terlihat masih muda sekitar duapuluhan dengan ciri biologis pribumi asli itu lalu turun dan mematikan motornya, agaknya ragu-ragu namun kemudian mengajukan langkahnya mendekati pagar pintu besi, dan dicarinya tombol bel yang seperti pada umumnya rumah-rumah baru di situ agak tersembunyi di belakang pintu besi itu. Setelah memencet ketiga kalinya maka pintu rumah itu terbuka, muncullah pemuda yang agaknya si penghuni rumah berusia sekitar akhir dupuluh atau awal tiga puluhan tahun.
"Selamat sore pak Ridwan", tegur sang pemuda tamu setelah melepaskan helm penutup kepalanya sehingga terlihat rambutnya yang tebal agak bergelombang dengan wajahnya lumayan cukup keren berkumis, disertai senyum agak malu dan menoleh ke kiri ke kanan, ternyata jalanan itu cukup sepi.
Selamat sore dik Reza, ayo masuk tak usah malu dan sungkan, bawa masuk aja motornya, biarpun disini biasanya cukup aman tapi kan engga tahu kalau yang niat jahat bisa ada dimana saja", demikian sambutan ramah sang tuan rumah yang berkulit jauh lebih bersih dengan raut wajah khas keturunan.
Reza mengangguk setuju lalu membawa motornya melewati pintu pagar besi itu, kemudian didorong menaiki jalur masuk kedepan garasi yang memang terletak agak tinggi dibandingkan jalan di depannya.
"Adik Reza sudah makan belum ?", tanya tuan rumah Ridwan.
"Sudah pak, ditengah jalan saya mampir di warung gudeg kesenangan saya", jawab Reza, "ini pesanan bapak saya bawakan", lanjutnya lagi sambil menyerahkan bungkusan kecil kepada Ridwan.
"Oh ya, terima kasih , ayoh masuk dan minum dulu, kan capek dijalan pasti macet tadi, kita ngobrol-ngobrol sebentar, jangan malu-malu engga ada siapa-siapa hanya istri saya di rumah, tapi dia lagi mandi", lanjut Ridwan dan menatap Reza disertai kedipan mata penuh arti.
"Iya deh pak , tapi engga lama nanti takut hujan nih", Reza mengikut dibelakang Ridwan yang masuk melewati pintu rumahnya menuju ruang terima tamu.
"Ayoh silahkan duduk, kalau hujan ya tak apa-apa, kan kini di bawah atap jadi engga basah kalau nunggu disini, dik Reza mau minum hangat atau dingin segar ?", tanya Ridwan.
"Engga usah repot-repot pak, seadanya saja", jawab Reza masih agak sungkan.
"Biasanya kalau jam-jam segini enak minum teh jahe, pasti adik senang teh jahe ginseng nanti - badan jadi terasa hangat, segar dan dapat tambah enersi", lanjut Ridwan, kembali dengan kalimat yang rupanya menjurus ke arah maksud tertentu.
"Nanti saya cari dan lihat dulu dimana letaknya bungkusan teh itu, maklum pembantu lagi sakit dan yang biasanya bikin teh ginseng ini istri saya, tapi mungkin dia sudah selesai mandi", demikian Ridwan sambil melanjutkan langkahnya menuju kebagian dalam rumah yang cukup besar itu.
"Baiklah pak, saya ikut aja apa yang biasanya bapak dan ibu minum di waktu sore", jawab Reza.


Ridwan melangkah masuk kedapur dan ternyata disitu berdiri Vonny istrinya yang telah selesai mandi, dengan rambut masih agak tergerai di pundaknya, memakai baju rumah tanktop pendek yang hanya menutup setengah pahanya, berwarna coklat tua tipis cukup merayang tanpa BH sehingga dengan nyata terlihat puting buah dadanya dan celana dalamnya yang berbentuk string. Vonny rupanya sedang membuat kopi dengan alat Philips Senseo sehingga aroma harum memenuhi dapur itu. Ridwan memeluk istrinya Vonny dari belakang, menciumi pundak serta lehernya yang putih jenjang, jari jemarinya yang iseng meraba raba pinggang Vonny merantau ke depan lalu meremas ketiaknya, mulai meremas remas gundukan gunung kembar yang tak tertutup BH sehingga terasa sangat padat kenyal itu. Tak sampai di situ saja Ridwan mulai menarik tanktop yang dipakai istrinya sehingga naik ke atas mencapai bulatan pinggulnya, menyebabkan betis dan kedua pahanya terpampang jelas, kemudian mulai pula diraba dan dielus-elus paha serta bulatan pinggul Vonny.
"Von, tuh si office boy udah datang, lagi nunggu di ruang tamu, rupanya kehausan juga dia, bolehlah diajak minum sekalian", ujar Ridwan sambil terus menerus menggerayangi tubuh Vonny.
"Udah ah, geli kan, mau ngapain sih dia dateng sore begini ?", tanya Vonny sambil menggeliat geliat.
"Kan dia nganterin barang pesenan, lagian mungkin udah kangen ngkali pengen liat nyonya bahenol", jawab Ridwan yang sebelumnya memang telah merencanakan untuk "mempersembahkan" istrinya.
"Ngga usah ya, emangnya dia sendiri engga punya bini atau simpenan", sahut Vonny yang sebenarnya masih agak ragu dengan petualangan swinger, walaupun sudah mengetahui bahwa Reza selalu "lapar" mata dan mengawasi tubuhnya jika ia datang ke kantor dimana Ridwan bekerja.
Vonny dan Ridwan adalah pasangan muda sangat modern dengan prinsip hidup liberal kebebasan sepenuhnya, juga termasuk dalam hubungan pasutri. Keduanya sering membaca bersama cerita erotis dalam weblog semarak di internet saat ini, dimana soal tukar pasangan dengan persetujuan kedua belah fihak juga merupakan salah satu thema yang mengundang banyak pembaca. Mereka berdiskusi dengan terus terang dan saling menanyakan apakah misalnya Vonny keberatan jika Ridwan menggauli seorang wanita lain , dan juga sebaliknya apakah Ridwan bersedia "membagi" kebebasan serupa jika ada lelaki asing yang ingin mencicipi tubuh Vonny. Mula mula Vonny sangat terkejut dengan diskusi itu, namun rupanya gairah tubuh mudanya disertai rasa ingin tahu lebih besar daripada rasa malunya.
Tentu saja sebagai seorang wanita dan istri yang menjaga diri dan tak mau disebut "murahan" begitu saja Vonny tak langsung mengatakan setuju, hanya jika ditanyakan dan didesak apakah mau digauli oleh si office-boy dikantor, maka jawabannya selalu mengelak dan tak langsung setuju.
揈ngga ah, ntar jadi ketahuan orang lain, belum tentu si Reza bisa dipercaya mau tutup mulut, lagian mau ngapain sih", demikian selalu jawaban Vonny mengelak. Setelah beberapa minggu dirayu dan dipancing dan "dipanasi" terus menerus dengan pelbagai cara, jawaban Vonny berubah menjadi :
"Engga tahu lah, lihat aja deh gimana, belum tentu juga dia ada minat, mungkin dia cuma senang ngawasin dan ngeliat aja, kan biasa mata lelaki begitu semua, kayak kamu juga gitu".
Dari jawaban ini Ridwan mulai merasa yakin bahwa istrinya tidak menolak mentah mentah dan ingin tahu juga apakah kesan melakukan perselingkuhan dengan izin suami sendiri.


"Udah selesai kan kopinya buat tiga orang, coba bawa deh keruang tamu, taruhan yuk si Reza bakalan melotot ngeliat kamu pakai baju kaya begini", demikian kelakar Ridwan semakin menghasut istrinya.
"Kamu aja yang bawain, mau tukar pakaian yang lain", jawab Vonny pura-pura, padahal dia sengaja pakai baju tanktop pendek dan merayang itu karena tahu OB Reza di sore itu akan datang.
"Ayolah, pake malu malu gitu, abis mandi kan kelihatan seger banget, pasti kecium badannya si nyonya amoy bahenol wangi merangsang", desak Ridwan kepada istrinya.
Di sore itu memang pembantu mereka sengaja diberikan bebas jalan-jalan dan nonton film di mall ditambah uang jajanan, yah mana ada pembantu muda zaman sekarang yang menolak extra bonus begitu. Dengan langkah masih agak ragu namun tetap terlihat lemah gemulai disertai lenggokan menawan tatapan pria Vonny perlahan lahan keluar dari dapur dengan membawa nampan dengan diatasnya tiga cangkir kopi dan beberapa potong coklat serta kueh kering sebagai snacks. Meskipun agak menundukkan matanya karena harus memperhatikan cangkir kopi yang penuh namun Vonny melihat Reza langsung berdiri melihat kedatangannya dengan mata tak berkedip sama sekali. Di saat meletakkan nampan dengan cangkir kopi dan snacks di meja tamu yang terlapis kaca itu Vonny mau tak mau harus membungkuk sehingga bagian atas baju tanktopnya terbuka untuk mata tatapan mata Reza yang melotot melihat betapa putih dan montoknya belahan buah dada Vonny dan di tengah kedua gundukan itu mencuat puting yang rupanya agak mengeras entah karena dinginnya AC. Setelah meletakkan dan membagi ketiga cangkir kopi Vonny dan Ridwan kemudian duduk bersama berdampingan di kursi salon lebar , sementara Reza duduk langsung di hadapan Vonny yang berpura-pura malu menarik ujung rok tanktop yang dalam posisi duduk hanya menutup setengah pahanya. Mereka kemudian bercakap cakap dan ngobrol ke kiri ke kanan sampai di suatu saat Ridwan bertanya apakah Reza sudah berkeluarga, dan dijawab olehnya "belum". Masih nyari pasangan yang cocok susah zaman sekarang katanya, belum lagi suasana keuangan belum mantap, untuk sendiri aja tak cukup apalagi harus menanggung keluarga lanjutnya. Mendadak HP Ridwan yang terletak di meja kerja di ruangan sebelah dalam berbunyi, sehingga Ridwan permisi masuk meninggalkan Vonny dan Reza. Kini keduanya hanya berdua dan terlihat bahwa Vonny agak kikuk, karena dirasakannya mata Reza semakin binal mengincar tubuhnya yang merayang di bawah baju tanktop tipis. Terutama bagian buah dada serta pahanya menjadi sasaran menyebabkan Vonny ingin lebih menarik ujung tanktop ke bawah serta berusaha merapatkan belahan pahanya agar tak bisa di"intip". Agaknya Reza makin berani dan mulai yakin bahwa wanita muda di hadapannya "kepanasan" menantikan kegiatan yang lebih menjurus maksud tertentu. Ketika Reza ingin menggeser duduknya lebih maju kearah meja untuk meletakkan cangkir kopinya, maka muncullah Ridwan yang ternyata telah menukar bajunya dan telah memegang kunci mobil.
"Eeh, mau kemana koq udah tukar baju ?, tanya Vonny kaget dan menjadi agak gugup karena hal ini di luar dugaan dan tak pernah dibicarakan lebih dahulu, padahal ini sudah termasuk rencana Ridwan dan Reza sejak kemarin dikantor.
"Harus balik ke kantor sebentar say, ada transaksi Forex dan hedge funds tak dapat ditunda, kalau engga rugi", jawab Ridwan, "setengah jam pasti udah balik, Reza tolong temani istri saya sebentar, nanti makan malam sama sama, saya ntar mau beli sate kambing, Reza doyan kan ?", lanjut Ridwan.
Vonny kini sadar bahwa hal ini pasti diatur oleh Ridwan dan agak jengkel juga "dijebak" namun sebelum ia sempat protes Ridwan telah bergegas keluar kedepan garasi, masuk ke dalam mobil Nissan Qashqai Trail dan kemudian melaju ke arah jalan setelah menutup pintu garasi di belakangnya, meninggalkan istrinya Vonny yang sangat terombang ambing di antara rasa tak nyaman, agak takut tapi juga tergoda oleh kenyataan bahwa kesempatan untuk selingkuh kini terbuka lebar !!! Ridwan memang telah agak lama merayu dan akhirnya berhasil membujuknya sejauh mungkin antara lain dengan mengajaknya membaca pelbagai kisah sangat erotis yang semarak di pelbagai weblog,  sehingga rasa ingin tahu untuk mencoba bagaimana rasanya ML dengan lelaki asing tergugah tinggi, juga dengan lelaki pribumi asli berkulit hitam legam kasar sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih sebagaimana khasnya orang keturunan.

Hanya diperkirakannya bahwa semua akan berlangsung tahap demi tahap, kenalan, ketemu dan ngobrol basa basi dulu beberapa kali sebelum memasuki taraf lebih lanjut, tidak langsung sedemikian cepatnya. Vonny ingin rasanya lari keluar tapi mana mungkin dengan pakaian seperti itu selain itu untuk mundur dari permainan "sandiwara" yang tak langsung telah disetujuinya sendiri juga terlambat. Dari sudut matanya Vonny melihat senyum mesum Reza. Reza yang memang sudah bersepakat dengan Ridwan kini memperoleh kesempatan seluasnya untuk mulai melakukan aksinya. Telah disepakati dengan Ridwan bahwa ia boleh menggarap Vonny asalkan tidak disakiti apalagi dilukai. Boleh dibujuk, dirayu, didesak dan yah sedikit dipaksa bolehlah, selama satu jam penuh Ridwan belum akan kembali, demikian perjanjiannya, jadi Reza lumayan punya waktu. Apa yang tak diketahui oleh Reza bahwa sebenarnya Ridwan berniat untuk beberapa menit kemudian kembali lagi ke rumahnya, mobil akan di parkir di depan rumah sebelah, masuk diam-diam lewat pintu kecil samping garasi, lalu mengintip peristiwa swinger Vonny dengan Reza si Office Boy yang beruntung. Reza melihat betapa gugupnya Vonny menghadapi situasi yang sama sekali tak diduganya itu, oleh karena itu Reza berusaha sedikit mengalihkan pembicaraan sehingga lebih mudah untuk mendekati.
"Ibu senang bunga ya, bagus amat anggreknya yang dipasang dekat jendela, ngerawat sendiri bu ?", Reza pura-pura menunjuk ke arah bunga anggrek merah muda berbintik-bintik yang memang dipasang dekat jendela.
Vonny merasakan bahwa ini kesempatan untuk sedikit menghindar tatapan mata Reza yang sangat haus selama ini, dan bangun dari tempat duduknya untuk berjalan ke arah bunga anggreknya.
"Iya, saya coba coba sendiri, baru mulai bulan lalu entahlah bisa tahan apa engga", Vonny telah berdiri didepan jendela dengan hiasan anggrek kesayangannya.
Tapi justru dengan berdiri di hadapan jendela itu maka sinar matahari semakin menyorot dan menyebabkan silhouette tubuhnya semakin jelas di balik tanktop tipisnya. Selain itu Reza malahan memperoleh kesempatan untuk ikut berjalan dan kini telah berdiri di belakang Vonny, semakin lama semakin dekat sehingga tubuh mereka hampir berdempetan dan Vonny merasakan hembusan nafas hangat Reza di belakang lehernya. Kemudian dirasakannya tangan Reza berada di atas pundaknya , berdiam sejenak disitu kemudian mengelus serta meraba kulitnya yang mulai merinding, sebelum bibir hangat Reza menyentuh leher dan bahunya.
"Wah relax bu relax dikit, pundak ibu terasa sangat tegang otot ototnya, coba duduk lagi di sofa panjang bu, nanti saya pijat pasti ibu senang dan hilang tegangnya" ujar Reza meneruskan usahanya.
Vonny ingin membalikkan tubuhnya namun dengan sigap Reza telah memeluk pinggangnya yang ramping dengan tangan kirinya, sementara ciumannya dileher dan belakang telinga Vonny semakin gencar. Sejenak kemudian Vonny merasakan kedua tangan Reza memegang pundak dan belakang lehernya yang lalu diurut dan dipijat sehingga dirasakan sedikit nyaman mengurangi ketegangan.

"Ennngmmh, udaaah ah, jangan mas, saya kan istri orang, tak baik kalau ini ketahuan orang", protes Vonny masih berusaha mengendalikan diri, walaupun ia tahu bahwa penolakannya tak sepenuh hati.
"Emmmh, saya engga tahan lihat badan ibu, sudah lama saya pingin meraba, kini kan kita berdua, tak ada yang tahu, nikmati bu, kehausan ibu nanti akan hilang", suara Reza mendesah di telinga Vonny.
Sementara terus memijit dan mengurut dengan tangan kanannya Reza melingkarkan lengan kirinya di pinggang Vonny dan perlahan lahan ditariknya mundur selangkah demi selangkah menjurus kearah sebuah bangku panjang, semacam sofa yang empuk dan cukup lebar. Vonny menengadahkan kepalanya dan menghembuskan nafas lembut yang lama kelamaan menderu semakin cepat, kedua tangannya meraih kebelakang memegang kepala Reza yang berada di belakang lehernya sambil terus menciumi bergantian kedua telinganya, menyebabkan Vonny semakin kegelian. Langkah demi langkah Reza setengah menyeret Vonny kebelakang dan keduanya telah mencapai sofa empuk yang panjang itu dimana Reza langsung menghempaskan dan meletakkan "mangsanya" yang masih berusaha segera bangun dan berdiri. Namun Reza lebih sigap dan tubuhnya yang cukup tegap berat telah menindih Vonny, dan karena rontaannya itu maka justru ia kini dalam posisi tertelungkup. Dengan keadaan ini maka Reza dengan mudah menindihinya dan secara sangat pandai ia tetap memijit dan mengurut leher pundak Vonny, sementara pinggul yang begitu bulat menggairahkan ditindihnya.
Vonny tak sanggup banyak bergerak atau berontak dalam keadaan tak menguntungkan itu, hanya kedua tangannya saja terkadang menggapai ke belakang berusaha melepaskan diri dan mendorong tubuh yang menindihnya. Semua sia sia saja, bahkan dengan pergulatan itu tanktop yang dipakainya telah tersingkap naik ke pinggangnya, menyebabkan punggungnya jelas terpampang. Sebagaimana umumnya wanita pemakai tanktop tidak mempunyai perlindungan BH di bawahnya, dan ini diketahui pula oleh Reza, tangannya yang memijit leher pundak Vonny kini mulai berani turun ke bagian depan.
"Aaiiih, ooooooh, mas udah dong, jangan terusin, suami saya pasti sebentar lagi pulang, jangan aah, lepas dong, tolong saya, enggga mauuu", Vonny semakin liar menggeliat ketika dirasakannya jari-jari Reza menaiki lereng bukit kembarnya dari samping dan mulai bergerilya menekan meremas remas.
Menduga bahwa perlawanan Vonny sudah sangat menurun maka Reza semakin berani, ditarik serta disingkapnya tanktop berwarna merah muda itu dengan sigap melawati bahu dan kepala Vonny dan hanya dalam waktu beberapa detik bagian atas tubuh Vonny telah telanjang tanpa penutup apapun. Tanktop itu sengaja dibiarkan oleh Reza menyelubungi kedua bahu dan lengan Vonny menyebabkan mangsanya itu sementara agak "terjirat-terbelenggu" sehingga sukar berontak melepaskan diri. Vonny semakin panik dan meronta ronta, tak diduganya bahwa Reza begitu berani melangkah sejauh itu, tapi semua usahanya tidak memberikan hasil, sementara tubuhnya kini hanya tinggal memakai CD string.

"Tenaaaang aja bu, tenaaaang, relaaaax, pasti ibu engga nyesel, pak Ridwan pasti masih sibuk, apalagi mau beli makanan dulu, ibu nikmati aja permainan saya, engga ada yang tahu bu", Reza menghibur sambil meneruskan aksinya, kini telah ditemukannya puting yang segera dipilin dan dicubit cubitnya.
Vonny tak berdaya menghadapi serangan yang bertubi-tubi itu, hanya kedua betis kakinya menekuk menghentak hentak, sementara kedua tangannya yang berusaha mencakar ke belakang kini dipegangi dan ditelikung oleh tangan kiri Reza, dan ini sangat menambah nafsunya sehingga si otongnya berdiri.
Mendadak Reza bangun dan membalikkan tubuh Vonny sehingga terlentang yang segera ditindihnya lagi, kedua pergelangan tangan Vonny yang langsing diletakkan diatas kepala dan dicekalnya dengan hanya satu tangan kiri, sementara tangan kanannya menggerayangi dan meremas buah dada Vonny. Mulut Reza yang cukup besar dengan bibir tebal itu segera mencakup mulut Vonny yang jauh lebih kecil sehingga gelagapan, terutama ketika dirasakannya lidah Reza yang berbau rokok berusaha membelah bibirnya untuk memasuki rongga mulutnya. Karena Vonny tidak mau langsung membuka mulutnya maka Reza menarik dan mencubit puting buah dada yang telah mencuat itu, menyebabkan Vonny merasa amat kengiluan dan tak sadar meringis ingin berteriak, disaat mana lidah Reza menerobos masuk !.
"Auuuuw, eemmppfhh, sshhhh", hanya desis itu yang keluar dari mulut Vonny yang kini dirajah Reza.
Vonny semakin kewalahan menghadapi serangan Reza, tubuhnya yang baru mandi kini mulai dibasahi kembali keringat karena pergumulannya dan perlawanannya yang sia-sia, tanpa disadari lidahnya mulai ikut "bersilat" melayani lidah Reza, ludah keduanya semakin tercampur, bau rokok yang sebenarnya tidak disenangi Vonny sudah tak diperdulikannya lagi, sapuan lidah Reza kini menyapu langit� rongga mulut Vonny menyebabkan timbul rasa geli, apalagi disertai remasan cubitan Reza di puting susunya. Reza merasakan di cekalan tangan kirinya bahwa geliatan pergelangan tangan Vonny berkurang, entah memang Vonny sudah mulai lelah, atau memang nafsu birahinya sendiri sudah terbangun sehingga tak mempunyai semangat untuk melawan. Kesempatan ini segera dipergunakan sebaik-baiknya oleh Reza dengan sigap dan tak terduga menarik celana dalam string Vonny sebagai penutup aurat terakhirnya. Vonny memekik kecil sambil meronta namun semuanya telah terlambat, kini sempurnalah tubuhnya yang kuning langsat putih terbuka di depan mata Reza, disertai dengan senyuman lebar kemenangan. Merasa yakin bahwa Vonny tak akan melawan lagi Reza melepaskan cekalan tangan kirinya di kedua nadi mangsanya dan segera tangan Vonny secara refleks melintang didadanya dan berusaha menutup celah selangkangannya. Sambil menatap naik turunnya buah dada montok Vonny akibat memburunya nafas sebagai tanda ketegangan akan apa yang terjadi selanjutnya Reza melepaskan kemaja dan kaos serta sekaligus jeans serta celana dalamnya. Kini dua insan berlainan jenis telah bugil bagai Adam dan Hawa ditaman firdaus : wanita keturunan muda belia dengan kulit putih kuning langsat tubuh montok terlentang disofa dalam posisi tak berdaya menghadapi seorang lelaki pribumi bertubuh kekar, berkulit hitam gelap dengan alat kejantanan telah tegang mengacung siap tembak membantainya.
"Udah mas, jangan diterusin, saya engga mau, nanti ketahuan orang, saya kan bersuami dan sebentar lagi pulang, jangan mas, saya akan rahasiakan peristiwa ini, tapi hentikan dong", Vonny berusaha tenang walaupun degup jantungnya telah sangat cepat karena menahan emosi yang tak terkekang.
"Jangan takut, ibu tak akan saya sakiti, ibu sebenarnya kepingin merasakan petualangan juga, tak usah malu lah bu, semua biasa saja, tubuh ibu yang muda juga ibarat bunga harus banyak disiram air", Reza berusaha menenangkan Vonny sambil kini tubuhnya mulai menindih mangsanya yang terlentang.

Reza yang nafsunya telah sangat memuncak itu ragu sebentar: apakah istri boss-nya di kantor ini akan dipaksanya untuk menyepong alat kejantanannya, tapi setelah beberapa detik diputuskannya untuk tidak melakukan hal itu saat ini, mungkin dalam kesempatan berikutnya.
揕ebih baik sekarang justru gue yang jilatin memeknya si amoy bahenol ini  agar dia betul-betul terangsang sehingga menggeliat kehausan bagaikan hysteris mohon dipuaskan, ya ini siasat terbaik saat ini�, demikian keputusan Reza.
Reza menurunkan kembali wajahnya dan mulai menciumi leher Vonny, menjalar mengendus meniup-niup telinga kiri kanan, sementara tangan kiri meremas memijit dua gundukan daging putih di dada sambil memilin putingya, sedangkan tangan kanan turun ke arah pusar, bermain sebentar disitu lalu semakin turun mendekati bukit venus yang dihiasi rambut halus yang jelas sangat dirawat dan sering dicukur. Vonny berusaha menggeliat dan meronta namun terlihat bahwa perlawanannya tidaklah sepenuh hati seperti seorang wanita yang sedang mempertahankan mati-matian kehormatannya. Ketika mulut Reza dari leher turun ke buah dadanya untuk menggigiti putingnya, terlihat Vonny hanya memalingkan wajahnya ke samping sambil mendesah lembut, sementara kedua tangannya bahkan memegangi rambut Reza. Ciuman dan cupangan Reza beralih dari kedua puting kemerah-merahan yang telah terlihat mengkilat basah mencuat ke atas kini menurun pusar yang disedotnya dengan rakus, lalu semakin merantau mendekati pusat kewanitaan Vonny. Tangan kiri Reza tetap aktif di puting yang semakin mengacung dan peka, sementara tangan kanannya meraba mengusap bagian dalam paha Vonny yang putih merangsang itu.
"Aaaah, udaaah dong, geliii, bapak nakal amat sih, udaah dong suami saya pulang nih, ntar ketahuan", Vonny mendesah sambil berusaha mengatur nafasnya yang semakin memburu menahan nafsu.
"Udah tanggung bu, kepalang basah, nikmati aja lah, bapak masih sibuk di kantor", Reza menghibur dan sekaligus melanjutkan penjelajahannya - sementara wajahnya telah menempel di daerah lipatan bagian dalam paha Vonny, mengecup dan menyupanginya dengan mesra sehingga memerah jambu.
Vonny tetap memalingkan wajahnya , dengusan nafasnya bersilih ganti dengan pekikan kecil kegelian jika Reza menggigit bagian dalam pahanya yang sangat peka itu. Geliatan dan liukan serta rontaannya makin menjadi ketika Reza mulai mencium daerah bukit kemaluannya. lidah Reza yang lebar kasar menjulur-julur keluar bagaikan ular mencari mangsa, mendekati celah sempit yang tersembunyi. Setelah di temukan maka lidah itu menjilati tepi bibir pelindung vagina Vonny, membasahinya dan akhirnya berusaha menyelinap masuk ke bagian lebih dalam. Sambil melakukan kegiatannya itu Reza telah berhasil menaikkan kedua paha Vonny dan ditekuknya dibagian lutut serta diletakkannya di pundak kiri kanannya. Kini terpampanglah bukit kemaluan Vonny didepan wajahnya, sementara mangsanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri ke kanan sambil menggigit bibir bawahnya.
"Hmmmmh, memeknya wangi amat bu, bukan wangi sabun tapi harum wanita yang pengen digituin", celoteh Reza bagaikan perayu ahli dalam film bokep, menyebabkan pipi Vonny semakin memerah.
Menduga bahwa Vonny sudah ikut terbangun gairahnya dan tak akan melawan maka Reza tanpa ragu menjulurkan lidahnya menyelinap masuk ketengah liang surgawi yang telah dicium sebelumnya. Lidah yang kasap itu mengusap menjilat dinding vagina Vonny semakin lama semakin dalam, menerobos ke atas ke bawah, selintas menyentuh lubang saluran air kemih yang kecil namun cukup peka. Akibatnya Vonny menggelinjang kegelian - hal mana tak pernah dialami sebelumnya dengan Ridwan suaminya sendiri, dan tak diduganya bahwa office boy suaminya yang kini tanpa rasa jijik melakukan hal ini.

Reza semakin meningkatkan usahanya untuk memanjakan istri boss-nya, setelah liang kecil itu maka berikutnya lidahnya merantau keatas diantara lipatan bibir kemaluan Vonny untuk mencari sebutir daging kecil yang tersembunyi. Setelah ditemukannya maka dengan lahap namun hati-hati disentuhnya daging merah itu dengan ujung lidahnya, disapu, diusapinya, dijilatnya, di-emut-emut dengan bibirnya sendiri, kemudian dijepitnya mesra di antara giginya, kemudian dijilatinya kembali. Ibarat terkena aliran listrik Vonny meronta menggeliat-geliat menahan rasa geli tak terkira sambil memekik manja.
"Ooooh, udaaah bang, geliiiii, auuuuw, geliiii bang , saya ngga tahaan lagi, aaaaah , saya mau pipiiiis", Vonny mendesah dan mendengus sambil memekik ketika dirasakannya cairan lendir keluar mengalir membasahi vaginanya, menandakan bahwa ia telah mencapai orgasmus dan liang kenikmatannya kini siap menerima batang kemaluan sang pejantan yang sedang menjarahnya.
Reza juga merasakan bahwa bibirnya yang melekat di dinding vagina Vonny semakin basah lengket-lengket terulasi oleh air mazi pelumas wanita, dan kini tibalah saatnya untuk memasuki lubang sengama Vonny. Dengan penuh kepuasan Reza menatap wajah Vonny yang agak mengkilat karena keringat, penisnya yang telah menegang itu dipegangnya dengan tangan kiri kemudian diarahkannya ke liang surgawi, dan...... perlahan namun pasti, milimeter demi milimeter batang rudal itu memasuki tubuh Vonny..
"Ooooooh, aaaauh, aaaaah, pelaaan pelaaaan ya bang, aaaahh, ssssh, oooooh bang Rezaaaaa", Vonny mendesah dan mengeluh ketika dirasakannya kemaluan office boy itu menusuk dan menggali semakin dalam sehingga akhirnya amblas semua, bulu kemaluannya telah bersatu dengan bulu kemaluan Reza.
"Hhhmmmhhh, ooooh nikmaaaatnya, ibu masih peret gini, latihan kegel tiap hari ya bu ?", tanya Reza sambil mulai dengan gerakan pinggulnya maju mundur yang disambut oleh Vonny dengan putaran pinggulnya, membuat Reza semakin bergairah menumbuk-numbuk rahim istri boss-nya.
Kedua insan berlainan jenis itu telah mandi keringat, sangat mengasyikkan melihat kontras-nya warna kulit merek, Vonny dengan kulit yang halus kuning langsat sedang ditindih digeluti oleh pria berkulit kasar dengan warna coklat tua kehitaman. Namun pada saat ini tak ada perbedaan atau pemisahan antara keduanya, yang ada hanyalah gairah nafsu birahi menguasai keduanya, desahan, dengusan, rengekan, rintihan dan geraman keduanya silih berganti. Semakin lama terlihat keduanya melupakan segalanya, gerakan maju mundur pinggul Reza semakin cepat walaupun pinggangnya telah dijepit paha Vonny. Kedua tangan Vonny telah memeluk tubuh Reza seolah tak ingin melepaskannya, rasa panas dan gatal menguasai vaginanya ketika terus menerus digesek dengan cepat , akhirnya...............
"Oooohh, ibuuu , aaaah, nyonya bahenooool, abang mau banjir nih", dengusan Reza di telinga Vonny.
"Iyyaaaaahhh, ooooooohh, sssssshhhhh, teruuuuuuusss, iyaaaaaa, masukiiiiiiin teruuuuus, iyyyyaaaa", bagai histeris Vonny mencakar lengan Reza dan menggigit bahunya ketika mereka bersama mencapai klimaks dan office boy itu menyemburkan lahar panasnya berulang ulang kedalam rahim Vonny.

Sepuluh menit kemudian keduanya bergegas ke kamar mandi untuk mengeringkan keringat dari tubuh mereka, Vonny kembali merapihkan baju tank-top-nya, sedangkan Reza memakai lagi seragam kantornya. Satu jam kemudian mereka makan bersama hidangan yang di beli oleh Ridwan, ketiganya ngobrol dengan santai dan tanpa ada rasa risih, seolah-olah tak ada yang terjadi sama sekali. Vonny juga merasakan sangat puas dengan petualangannya itu, meskipun dalam hati kecilnya muncul keraguan apakah lebih baik berterus terang kepada suaminya mengenai kenikmatan terlarang yang dialaminya. Namun disudut lain di hatinya pun bertanya-tanya apakah ia akan tahan godaan untuk menolak keinginan Reza seandainya ia kembali datang secara tak terduga ketika suaminya Ridwan sedang keluar. Pepatah mengatakan bahwa sesuatu yang terlarang justru mempunyai daya tarik untuk dilakukan. Yang tidak diduga oleh Vonny bahwa suaminya Ridwan - setelah mendengar sendiri dari Reza bagaimana mula-mula perlawanan Vonny berubah menjadi sambutan gairah - bahkan merencanakan swinger berikutnya: tak hanya dengan seorang, namun dua office boys sekaligus! Kalau selingkuh hanya dengan satu lelaki memang dapat dianggap bahwa seorang istri yang kesepian mencari pengganti sejenak, artinya satu tubuh digantikan dengan satu tubuh. Tapi satu tubuh seorang suami kan tak mungkin bisa digantikan dengan dua tubuh lelaki - apakah reaksi Vonny, setuju dan akan menyerah dikuasai dua lelaki ataukah ia akan memutuskan bercerai meninggalkan Ridwan ???.  

Bagaimana kelanjutannya kisah ini ............. ? 

? TAMAT ?

elzhakhar@hotmail.com
SPG [Si Pemangsa Gadis]

Amoy Hunter Clan: Fransisca, Sang Istri Pengusaha

----------------------------------Episode 1--------------------------------------------


Fransisca baru saja menikah dengan seorang calon penerus pemilik sebuah perusahaan yang lumayan besar. Fransisca yang keturunan Tiong Hoa ini memiliki tinggi badan sekitar 168cm dengan tubuh langsing. Payudaranya yang berukuran ideal menjadi salah satu aset fisiknya yang paling 'menonjol'. Selain itu dia juga memiliki wajah yang lumayan cantik dengan kulit putih dan mulus. Terkadang Fransisca berkunjung ke kantor suaminya itu untuk membawakan bekal makan siang atau sekedar melihat-lihat keadaan kantor perusahaan suaminya itu. Setiap dia datang, dia selalu memberi salam atau melempar senyuman kepada orang yang berpapasan dengannya tanpa memperdulikan jabatan dan posisi mereka. Biasanya karyawan-karyawan tersebut membalas senyuman Fransisca sambil manggut-manggut sampai Fransisca berjalan menjauh sehingga mereka dapat dengan leluasa memperhatikan lekuk tubuh ramping nya dari belakang, bahkan beberapa kali mereka menyempatkan diri untuk diam-diam mengambil foto dengan HP mereka. Tubuh putih tinggi langsing itu seperti pemacu semangat dan hiburan satu-satunya bagi para karyawan di kantor itu.

----------------------------------4 tahun kemudian--------------------------------------------

Waktu berjalan, lama kelamaan Fransisca mulai berubah. Kehidupan sebagai istri orang kaya merubah sifat ramah dan murah senyumnya itu menjadi sedikit angkuh dan agak sombong. Dia tidak lagi menyapa atau memberi senyuman kepada orang yang di jumpainya di kantor perusahaan suaminya setiap dia datang berkunjung. Entah itu dorongan dari sang suami untuk tidak terlalu ramah dengan bawahan, atau memang kehidupan barunya membuat dia lupa bahwa dia sendiri berasal dari orang biasa saja. Perilaku nya ini sangat disayangkan oleh karyawan-karyawan yang bekerja di kantor tersebut. Fransisca yang kini berumur 30 tahun masih memiliki bentuk tubuh yang indah dan ideal seperti waktu dia baru menikah.Mungkin ini di karenakan dirinya yang belum pernah mengandung anak di perutnya. Pernikahannya selama bertahun-tahun dengan si bos perusahaan belum membuahkan anak. Di saat itu juga perusahaan tersebut sudah sepenuhnya di kendalikan oleh suami Fransisca. Tak lama setelah dia mengambil jabatan tersebut, suaminya melakukan PHK karyawan secara besar-besaran, bahkan karyawan yang sudah bertahun-tahun bekerja di sanapun terkena pemutusan hubungan kerja tersebut. Jeber, Gembul, Bonar, Ambon, dan Bopeng adalah office boy dan satpam yang masuk dalam daftar panjang PHK tersebut. Mereka sangat kesal dengan peristiwa ini, padahal selama ini mereka sudah bekerja
dengan baik. Bahkan Jeber dan Bonar yang sudah agak berumur sudah bekerja selama belasan tahun
disana, sejak ayah mertua Fransisca masih memimpin perusahaan. Hanya orang-orang yang pandai menjilat sajalah yang masih di pertahankan di perusahaan tersebut. Mereka bahkan tidak diberikan pesangon yang sepantasnya dan hanya di berikan waktu seminggu untuk angkat kaki dari kantor perusahaan tersebut.
"Wah, kita udah dianggap kayak binatang aja sama si bos. udah kerja lama disini , main di PHK aje!" kata
Jeber ke teman-temannya para OB dan satpam yang ikut dipecat sepihak.
"IYA! Ngepet tuh si bos!" tambah Bopeng.
"Kaga bisa nih kita biarinin begini aje! Harus di bales nih si gendut sialan bos kita itu!" kata
Gembul.
"Ah kau sudah gendut pake ngatain orang gendut juga Bul! Bedanya, dia gendut tapi bisa punya bini
macam Fransisca gitu. Sedangkan kau, sama-sama gendut tapi tidak laku-laku!" Semua yang disana tertawa terbahak, termasuk si Gembul yang diejek.
"Eh, ngomong-ngomong soal Fransisca...gimana kalo kita bales dendam lewat si amoy bini bos itu? Setuju ngga lo pada?" kata Ambon.
"Gimana caranya Mbon?' tanya Bonar.
"Tenang, gua ada ide nih, kebetulan gua punya channel buat bantu" seru Ambon sambil senyum.
"Channel alat apaan tuh Mbon?" tanya Bopeng.
"Ah bego lu! Channel tuh artinya gua kenal
orang yang bisa bantu kita buat jalanin rencana ini" kata Ambon sambil menampol muka Bopeng.

"Emang mau kita apain si Fransisca itu?" tanya yang lain. "Tenang aja, lo lo pada bakalan bisa ngerasain
enaknya ngewein memek tuh amoy, itung-itung bales dendam sekaligus dapet nikmat HAHAHAHA" kata Ambon sambil tertawa.
Semua yang disana menyetujui dengan penuh antusias.

----------------------------------sebulan kemudian--------------------------------------------

Sore itu Fransisca sedang dalam perjalanan pulang dari kantor suaminya, melewati jalan yang biasa di lewati. Fransisca yang duduk di baris kedua tampak sedang asik BBMan. Dalam kesehariannya, Fransisca selalu menggunakan busana santai meskipun busana sederhana itu merupakan produk bermerek mahal. Tshirt berwarna putih dengan corak abstrak dipadukan dengan celana pendek seatas lutut. Sedangkan rambutnya yang hitam lurus dibiarkannya tergerai indah. Di baris depan ada sopirnya yang sedang mengendalikan laju mobil SUV mewah tersebut. Saat sedang berhenti di lampu merah perempatan yang dikenal lama jeda antara merah ke hijau nya, SUV Fransisca diserbu segerombolan anak-anak kecil peminta-minta tepat di jendela depan samping sopir dan jendela baris kedua tepat di samping Fransisca. si sopir memberikan tangan menandakan "ngga ada receh" ke anak-anak tersebut. Begitu juga Fransisca yang enggan membuka kaca di lampu merah karena takut kena debu di wajahnya yang putih mulus dan bersih itu. Namun anak-anak tersebut tetap bersikukuh menempel pada kaca SUV tersebut. Akhirnya Fransisca buka mulut
"udah kita kasih aja, daripada mobil jadi kotor dan baret-baret ditempelin sama anak-anak" ujar Fransisca ke sopirnya sambil mencari-cari uang receh di mobilnya.
Setelah mengumpulkan uang-uang receh tersebut, Fransisca membaginya dengan sopirnya supaya dia juga bisa memberikan receh tersebut ke anak-anak di bagian kaca sopirnya itu. Namun karena anak-anak itu tergolong bertubuh kecil kaca mobil SUV tinggi itu harus di buka sampai habis untuk membagi uang receh tersebut. Sesaat ketika kaca Fransisca dan sopirnya terbuka lebar, muncul tiga orang berhelm full face dari antara kerumunan anak-anak kecil tersebut. BUKK!! Satu orang langsung memukul kepala sopir hingga dia pingsan, satu orang memasukan tangan ke dalam kaca bagian Fransisca dan membuka kunci mobil dari dalam. Setelah pintu terbuka satu orang lagi langsung menarik tubuh wanita cantik itu sambil menyekap mulutnya dengan kain yang sudah di siram obat bius. Tak jauh dari sana ada dua buah motor yang sudah di siapkan. Fransisca tak sadarkan diri ketika ketiga orang itu membopongnya ke atas motor pertama dengan posisi bertiga (Fransisca dihimpit di tengah) dan dibawa kabur masuk ke dalam gang-gang kecil. Sore itu Fransisca berhasil di culik!

----------------------------------tiga jam kemudian--------------------------------------------

Fransisca masih memejamkan mata, meskipun kesadarannya mulai kembali. Dia mendengar ada suara desahan-desahan kecil dari sampingnya.
"uuuhhh ahhhh ooohhh mmmm..." terdengar dari suara itu.
Pandangan Fransisca masih buram, tapi dia merasa ada sosok kecil sedang berlutut di samping tempat dia berbaring. Dan dia juga merasakan ada sesuatu di dalam tshirt-nya sedang bergerak kesana kemari. Fransisca berusaha memulihkan kesadarannya dan betapa kagetnya dia dengan apa yang dilhatnya. Seorang anak cowok abg sekitar umur 12 tahunan sedang memegangi tangan kanan Fransisca dan di pergunakan untuk mengocok penis anak itu, sementara tangan satunya lagi sedang merabai payudara Fransisca dari bawah Tshirt nya yang kini sudah terangkat sampai bawah dada. Anak abg dekil itu terlihat sedang memejamkan mata keenakan sambil melakukan semua itu terhadap Fransisca. Fransisca yang kaget setengah mati itu langsung menarik tangannya dari penis hitam dekil anak itu dan berteriak,
"Ngapain kamu!?"
ABG dekil itu juga ikutan kaget, dia tidak menyangka Fransisca akan sadar secepat itu. Namun kekagetannya itu tetap tidak membuatnya melepaskan tangan satunya lagi dari payudara Fransisca yang masih mengenakan BH tersebut.
"Lepasin!!" teriak Fransisca sambil menampik tangan ABG dekil tersebut. Setelah itu Fransisca berusaha bangun,
namun kesadarannya belum pulih benar. Kakinya masih lemas, sehingga dia hanya bisa bergerak duduk mundur sampai punggungnya menempel pada tembok di belakangnya. Tidak lupa dia menurunkan Tshirtnya yang terangkat sebelumnya. Si ABG dekil bangun berdiri dan memasukan penisnya yang masih berdiri ke dalam celananya. dan pergi meninggalkan Fransisca keluar dari ruangan lewat celah pintu yang sudah tak berpintu. Satu-satunya akses keluar dari ruangan tersebut. Kesempatan itu di pergunakan oleh Fransisca untuk kembali memulihkan kesadarannya. Meskipun masih agak buram, dia berusaha
melihat sekitarnya. Terlihat saat ini dia sedang duduk di kasur busa yang tampak lusuh dan dekil. Ada speaker besar di tiap sudut ruangan yang tidak terlalu besar tersebut. Tampak beberapa kasur busa dekil bergeletakan di ruangan tersebut. Temboknya terlihat dekil, kotor dan penuh coretan-coretan pylox. Sepertinya ruangan ini adalah bagian dari gedung yang sudah tidak dipergunakan lagi. Hal itu membuat Fransisca menegakkan tubuhnya supaya tidak menyender di tembok yang kotor. Jendela-jendela di ruangan itu tampak sudah tidak terawat. Kaca-kacanya sudah pecah dan di gantikan dengan papan triplex membuat satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu hanyalah lampu neon putih yang banyak di hinggapi cicak di plafonnya. Fransisca yang selalu bersih itu tampak sangat jijik dan ketakutan, dia memeluk lututnya sebentar sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang. Fransisca kembali kaget ketika sadar ternyata lehernya sudah di jerat semacam rantai anjing yang rantainya digembok ke pipa besi di tembok belakangnya. Rantai sepanjang 4 meter itu membuatnya tidak bisa lari dari ruangan tersebut. Segala upayanya untuk melepaskan rantai tersebut dari lehernya gagal total.

----------------------------------15 menit kemudian--------------------------------------------

Si ABG dekil kembali masuk ruangan. Hal itu membuat Fransisca kembali waspada, dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan merapatkan lutut ke tubuhnya sambil menyender ke tembok di belakangnya.
"Mau ngapain lagi kamu??" tanya Fransisca.
Namun si ABG tidak menghiraukan dia dan terus berjalan ke arah Fransisca. Ternyata ada satu orang lagi masuk, tapi orang ini sudah jauh lebih dewasa dengan badan besar hitam dengan rambut gimbal ala Bob Marley. Badannya penuh tato dan wajahnya penuh tindikan anting. Penampilan orang itu membuat Fransisca takut bukan main, dia sampai tak bisa berkata-kata. Matanya mulai berkaca-kaca dan badannya
gemetar hebat.
"Lo apain die sampe bisa siuman secepet ini?" tanya si Gimbal ke anak ABG dekil tersebut.
"Kaga aye apa-apain bang! sumpah! Aye cuman liatin doang, pan abang sendiri yang suruh aye jagain nih amoy" kata si ABG dekil ketakutan.
"Kaga mungkin die bangun secepet ini kalo kaga lo gangguin!! pasti lo grepe-grepe ye!?? dasar kecil-kecil cabul lo!!" bentak si Gimbal
"Gua udah bilang, ntar juga lo dapet jatah!! tapi nunggu giliran dong! yang tua2 dulu! Dasar kaga tau sopan ssantun lo!" tambah si Gimbal.
"Hehehe iye sih bang, tadi aye grepe-grepe dikit, tapi cuman dikit kok bang! Suwer! Abis ane kaga nahan liat si amoy putih mulus gini. Kagak kayak mpo Ani di warteg seberang yang item gembrot dekil. Apalagi nih susunye kenceng bang!" kata ABG dekil sambil cengengesan.
"Dasar kaga tau di untung lo! Udah bagus mpo Ani kasih lo yang anak ingusan gini ngewein dia, pake dihina segala!! Dah gitu, enak bener lo ye udah ngerasain toket si amoy!! Gue aje belon!! Kampret lo! kembali si Gimbal membentak si ABG dekil.
"Hehehe iye bang maapin aye ye, ane kilaf! kaga lagi deh! Ane nunggu giliran aje abis ini" kata ABG dekil.
"Ya ude, gue telponin dulu si Ambon suruh dia dateng sama temen-temennye, lo jagain lagi si amoy ye! Awas lo apa-apain lagi" seru Gimbal.
Fransisca makin ketakutan, dia menangis tidak tahu harus berbuat apa. Dia berteriak-teriak minta tolong, berharap ada orang di luar gedung yang mendengar jeritan minta tolongnya itu. Si ABG dekil hanya tersenyum melihat tingkah Fransisca, dia berjalan ke arah mesin HiFi di sampingnya dan menyetel lagu metal untuk mengiringi teriakan Fransisca. Dengan santai si ABG menyalakan sebatang rokok yang sedari tadi di selipkan di telinganya dan menghisapnya seakan mengisyaratkan bahwa teriakan Fransisca itu adalah usaha yang sia-sia. Melihat itu, pupuslah harapan Fransisca untuk mengharapkan pertolongan dengan cara berteriak.

----------------------------------setengah jam kemudian--------------------------------------------

"Nah ini diaaaaa!!!!" tiba-tiba ada suara terdengar bersamaan dengan masuknya beberapa laki-laki ke dalam ruangan itu.
Jeber, Gembul, Bonar, Ambon, dan Bopeng sudah tiba di lokasi. Di belakang mereka si Gimbal datang menyusul.
"Bener kan nyang ini amoy nye?" tanya Gimbal kepada Ambon. "Bener abis bro! Emang lo paling jago deh kalo soal ginian" jawab Ambon disambut tawa girang teman2nya.
"Lho!! kalian kan yang dulu kerja di kantor suami saya? Jadi ini ulah kalian!???" tanya Fransisca geram.
Pertanyaan Fransisca itu hanya di sambut dengan senyuman oleh mereka.
"Apa maksud nya ini semua? Kalian mau uang?? Saya bisa minta kok sama suami saya! Perlu berapa? asal jangan apa-apain saya pasti dikasih deh! tambah Fransisca.
"Eh Amoy diem lu, jangan berisik...gua mau ngomong sama temen gua! teriak Gimbal memotong kata-kata Fransisca.
Fransisca terdiam karena takut dengan sosok si Gimbal.
"Mbon lu jangan lupa sama bagian temen2 gua yang bantu nyulik tadi sore ya!" seru Gimbal kepada Ambon.
"Iya tenang aja, temen-temen lo juga demen memek amoy kan?" tanya Ambon. "So pasti dong Mbon! Orang gile aje nyang kaga demen sama cewe putih mulus kayak ginian hahahaha" tawa Gimbal.
"Aye juga demen bang!" celetuk ABG dekil. "Iya Cil! lo juga dapet kok. Tenang aja gua ngga pelit kok hahaha, kalo perlu ajak aja temen-temen main lo yang laen juga pada cepet gede. jangan kerjaannya cuman mainin gundu aja di lapangan. Kita ajarin gimana orang gede main" kata Ambon. (ternyata nama panggilan si ABG dekil adalah Ucil)
"Wah bener nih bang? Aye boleh ya manggil temen-temen aye? tengkyu ye bang!" kata Ucil girang.
"Iye boleh tapi tunggu kita-kita yang gede kelar dulu ya! Dimana-mana yang tua duluan kan." tambah Ambon
"Siap bang! Aye cabut dulu dah manggil temen-temen. Pasti pada seneng dah nih pada. Mereka juga udah bosen ngewein Mpo Ani doang, soalnye cuman die nyang mau di ewe ama anak-anak seumur kite-kite" kata Ucil sambil beranjak pergi.
"Gile anak seumur jagung gitu udah demen ngewe...jaman udah edan ya hahahaa" kata Gembul.
"Tolong dong! Please, sumpah saya ngga bakalan bilang siapa-siapa, tapi bebasin saya...jangan sakitin saya. Saya janji, pasti kalian di bayar mahal deh sama suami saya..." pinta Fransisca memelas.
Tiba-tiba "PLAKK!!!" sebuah tangan melayang menampar pipi Fransisca, membuat pipi yang putih itu menjadi merah seketika.
"DIEM KAGA LU!!!" teriak Gimbal. BUKKK!!! sekali lagi Gimbal menyakiti Fransisca dengan cara menendang perutnya.
Fransisca melintir meringkuk menahan sakit sambil memeluk perutnya. "Ampun pak ampun, uhuk uhuk!!Jangan pukul lagi!" seru Fransisca sambil menangis dan terbatuk-batuk.
"Ayo silahkan mulei duluan nih! Amoynya udah siap hehehe" tawa Gimbal sambil melepas rantai yang terikat di leher Fransisca dari tembok. "Nih pegang! Gua mau nyuruh temen-temen gua nyang tadi sore bantu nyulik supaya dateng" kata Gimbal sambil menyerahkan rantai yang masih terikat ke leher Fransisca ke tangan Ambon dan merogoh HP dari kantongnya dan mulai menelpon teman-temannya itu. Ambon dan teman-temannya menyeringai senang, seakan-akan mereka baru saja menemukan emas di depan mata mereka. Sedangkan Fransisca semakin ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi...

----------------------------------5 menit kemudian--------------------------------------------

Jeber, Gembul, Bonar, Ambon, dan Bopeng selesai melepaskan pakaian mereka. Kini mereka hanya mengenakan celana dalam masing-masing. Sementara Gimbal menyiapkan HP canggih hasil copetannya untuk mengabadikan peristiwa bersejarah ini.
"Ya! iPhone aye udah siap nih buat rekam hehe mantep gambarnye jernih banget!" bangga Gimbal sambil membidikan kamera HP nya dengan gaya videographer handal.
Ambon memberikan rantai yang mengikat leher Fransisca ke tangan Gembul.
"nih Bul! pegang, lo kan paling gede, pasti kuat betot-betot nih amoy belagu..."
"Siipp! sini gua yang pegang" saut Gembul sambil menerima rantai dan langsung menariknya supaya Fransisca terseret mendekat ke arah para teman-temannya itu.
Fransisca yang bertubuh langsing itu sangat mudah di tarik oleh Gembul yang berbadan gendut dan besar itu.
"aduuh sakit ..uhuk uhuk! jangan.... tolong jangan..." pinta Fransisca sambil memegangi rantai anjing yang dikalungkan ke leher panjang dan indahnya itu.
"Kita iket dulu dah tangannya! biar gampang bugilinnya!" kata Jeber sambil menjilati bibir tebalnya sendiri.
"nih talinya" jawab Bopeng sambil mengeluarkan tali tambang dari tas yang dibawanya tadi.
Mereka menangkap tangan Fransisca dan memelintirnya kebelakang tubuhnya yang ramping itu.
"Tolong jangan...aww aduh...tolong jangan begini saya mohon..." rintih Fransisca kesakitan dan ketakutan.
"hehe lo ngga bisa sombong lagi sama kita ya, malem ini lo jadi mainan kita!" seru Jeber sambil mengikat kedua tangan Fransisca ke belakang.
Sementara Bopeng dan Bonar memegangi kedua kaki wanita itu supaya tidak bisa menendang nendang. Setelah kedua tangan Fransisca terikat di belakang, Gembul menarik rantai lehernya dengan tiba-tiba. Fransisca yang tidak dapat menggunakan tangannya untuk menjaga keseimbangan pun jatuh terlentang di atas kasur gabus. Serentak Bonar dan Bopeng bertindak. Bonar meniban kedua kaki Fransisca dengan badannya, sementara Bopeng menekan bahu Fransisca supaya dia tidak bisa bangun meskipun sudah berusaha meronta sekuat tenaga. Tingkah Fransisca yang berusaha mati-matian untuk bebas itu malah menyulut nafsu para lelaki itu. Ambon mempersilahkan Jeber yang tertua di antara mereka untuk memulai duluan. Sekali lagi tampak dia menjilati bibir tebalnya sendiri seperti seekor anjing yang sedang kelaparan. Jeber mendekati tubuh Fransisca yang sudah terbaring tak berdaya karena sudah di kekang oleh Bonar dan Bopeng.
"Jangan...tolong jangan ... saya mohon pak!" pinta Fransisca memelas. Tapi tentu saja tidak ada seorangpun yang mempedulikannya.
Jeber duduk di samping tubuh Fransisca yang terbaring, dan tangannya mulai beraksi. Dengan bagian luar tangannya, dia mengelus pipi dan leher Fransisca. Fransisca hanya bisa menangis tak berdaya dirinya di sentuh oleh Jeber. Jeber melepaskan gembok kecil di leher Fransisca, supaya dia dapat leluasa menikmati leher jenjang putih dan mulus itu.

Jeber mendekatkan hidungnya ke leher wanita itu...mengendusnya seperti seekor anjing pelacak dan mulai menciuminya...di mulai dari leher, pipi dan telinga. Fransisca memejamkan mata sambil berupaya memalingkan wajahnya menjauh dari bibir tebal dan menjijikan orang yang sudah berumur 50 tahunan itu. Namun bibir basah Jeber seperti magnit yang tertarik oleh bibir indah Fransisca dan langsung melahap penuh bibir tersebut.
"MMMmmm ...MMMMMM!!!! Mmmmmm!!!!!!!" Fransisca berupaya melepaskan bibirnya dari bibir tebal Jeber, namun kedua tangan Jeber sudah memegangi wajah Fransisca sehingga dia tidak dapat lagi menghindar.
Selesai puas menciumi bibir Fransisca, Jeber mencekik wanita malang itu sambil mengancam "Ngelawan awas lo ya! gua bunuh!"
Fransisca yang ketakutan hanya bisa menangis sesengukan... sementara Jeber memulai serangan keduanya. Bibir indah Fransisca kembali dilumat oleh bibir basah tebal Jeber, seakan-akan hendak memakan seluruh wajah wanita cantik tersebut. Kali ini serangan Jeber lebih dahsyat. Lidahnya berhasil menerobos masuk pertahanan bibir Fransisca.Fransisca benar-benar mual dibuatnya. Lidah laki-laki tua itu terus mengaduk-aduk dinding dalam mulut Fransisca, namun menangis sajalah yang dapat dia lakukan, sambil membiarkan setiap sudut ruang di mulutnya dirogohi oleh lidah Jeber mantan satpam di kantor
suaminya itu. Setelah puas menyantap bibir indah itu, Jeber menggerakan kedua tangannya untuk mencengkram kedua payudara Fransisca yang tampak menyembul di balik Tshirt nya dikarenakan badannya yang membusung kedepan tersanggah tangan yang terikat di punggungnya.
"aaaawww! sakit jangan!!" teriak Fransisca kesakitan karena payudaranya yang lembut itu di remas sangat kuat.
Untungnya masih ada BH yang sedikit melindungi.
"Ribet neh ada baju sama BH! Gunting! minta gunting dong! atau piso gitu..." teriak Jeber kepada teman-temannya.
"Nih adanya kater" kata Gembul yang sambil menyodorkan sebuah cutter ke tangan Jeber.
"Awas ya moy, jangan banyak gerak nanti toket lo kepotong nyaho lo" Jeber kembali mengancam sambil tangannya mengarahkan cutter ke bagian tengah bawah Tshirt yang dikenakan Fransisca.

----------------------------------1 menit kemudian--------------------------------------------

sedikit demi sedikit Tshirt mahal Fransisca berhasil disobek dengan cutter yang sudah pendek tersebut. setelah sudah lebih dari setengah perjalanan, Jeber melempar cutter itu dan mulai menggunakan kedua tangannya. Dengan tidak sabar, Jeber merobek Tshirt mahal tersebut sampai putus total. Hal ini membuat BH Fransisca ter-expose total. BH berenda warna krem tersebut tampak sangat menawan menyangga payudara mulus Fransisca. Dibalik motif renda transparan itu tampak putingnya  samar-samar mengintip di antara celahnya. Kali ini bukan hanya Jeber yang menjilat bibir, tetapi semua yang berada di ruangan itu melakukannya. Bahkan si Gimbal yang masih sibuk mengabadikannya juga turut melakukannya.
"Jangaaannnnn,lepasiiinn!! Tolooonggg!!!" teriak Fransisca histeris. PLAKK!! Lagi-lagi wajahnya ditampar, kali ini oleh Jeber yang tampak sudah sangat bernafsu sekali melihat gundukan payudara di balik BH indah itu.
"Berdiriin dong, gua pengen liat toketnya dengan jelas" seru Jeber meminta Bonar dan Bopeng memaksa Fransisca untuk berdiri sambil tetap diapit mereka.
Tangan Fransisca tetap terikat di belakang tubuhnya. Jeber berdiri sejajar di depan Fransisca. Tampak jelas tubuh Jeber kalah tinggi dengan tubuh Fransisca yang jenjang meskipun tidak terpaut terlalu jauh. BH bermodel 'Push Up bra' yang di kenakan Fransisca membuat bongkahan payudara itu tampak terangkat seksi, komplit dengan belahan payudara yang sudah dilapisi keringat. Keringat yang membasahi payudara Fransisca membuat bulatan tersebut tampak mengkilap diterpa lampu neon di ruangan itu. WOW benar-benar fantastis! pikir para lelaki hidung belang tersebut. Tanpa berpikir panjang, Jeber membetot BH indah tersebut ke bawah dengan amat sangat kasar sampai putus. Serangan mendadak tersebut membuat payudara lembut milik Fransisca meloncat dan menyembul keluar. Bulatan kulit putih bersih dan mengkilap dihiasi oleh puting dan areola berwarna merah muda itu menjadi tontonan umum di ruangan tersebut. Setelah sepersekian detik Fransisca hanya bisa kaget dan berteriak
"Jangaaaaaaaaaaaannnn!!!!" dan sekali lagi tangan melayang namun kali ini bukan ke wajahnya, melainkan ke bongkahan salah satu payudaranya. PLAAAKKKK!!!!! suara yang nyaring terdengar
bergema di ruangan tersebut. Fransisca kembali berteriak kesakitan. Sementara payudaranya masih berguncang-guncang akibat tamparan keras dari Jeber. Jeber menangkap dan mencubit puting payudara yang masih berguncang tersebut dan menariknya sehingga tubuh Fransisca ikut tertarik mendekati wajah Jeber. Sambil sedikit memelintir cubitannya, Jeber kembali mengancam Fransisca yang sedang menangis kesakitan tanpa suara.
"Lo jangan banyak bacot ya, lo boleh pake tuh mulut buat nyepongin titit gua! bukan buat tereak tereak!!! NGERTI??
Fransisca mengangguk ketakutan, berharap Jeber segera melepaskan pelintiran di puting payudaranya.
"Pinter! gitu dong cepet ngerti" kata Jeber sambil melepaskan pelintiran dan menepuk-nepuk dari bawah payudara tersebut beberapa kali seperti seorang ayah menepuki pundak anaknya. plek plek plek...Hal tersebut kembali membuat payudara itu berguncang-guncang. Tampak puting yang tadinya merah muda berubah menjadi merah cerah setelah dicubit dan dipelintir oleh Jeber. ini Fransisca hanya mengenakan Tshirt yang bagian depannya sudah terbelah lebar seperti rompi dan celana pendek yang masih utuh
meskipun sudah agak kotor.
"Eh lo orang mau pegang-pegang ngga? sebelum gua lanjut lagi hehe" tanya Jeber ke teman-temannya yang jelas saja di iya kan oleh mereka.
Masing-masing mereka mencicipi payudara Fransisca. Ada yang meremasi, memainkan putingnya dengan jari, mengelus-elusnya dan mencubitinya. Mereka bergantian dengan tertib, payudara Fransisca benar-benar diperlakukan seperti mainan yang harus dibagi bersama. Fransisca hanya tertunduk lemas sambil menangis, membiarkan para laki-laki itu memainkan payudaranya dengan seenaknya.

----------------------------------15 menit kemudian--------------------------------------------

15 menit lamanya mereka bergantian memainkan kedua payudara indah Fransisca dengan tangan2 kotor mereka. Bahkan Gimbal yang masih merekam dengan HP nya itu sesekali meremas payudara Fransisca. Sekarang giliran Jeber untuk kembali melanjutkan aksinya. Dia mengangkat dagu Fransisca yang dari tadi menunduk sambil berkata
"tuh kan kalo lo ngga ngelawan, kita juga ngga bakalan mukul, jadi sama-sama enak kan? hehehe" "Nah ayo sekarang tiduran lagi cepet!" tambahnya sambil mendorong tubuh Fransisca sampai kembali jatuh terlentang di atas kasur busa.
Jeber mulai melepas celana dalamnya sendiri. Tampak batang penisnya yang sudah keriput dan beruban itu menunjuk keatas. Penisnya lumayan besar bila dibandingkan dengan ukuran tubuhnya yang agak kecil. Setelah selesai melepaskan celana dalamnya, Jeber langsung menindih tubuh Fransisca yang masih terlentang di kasur busa. Posisi Jeber menduduki perut Fransisca dengan penis kakunya mengarah ke belahan dada montok Fransisca. Tampak Fransisca memalingkan muka sambil memejamkan mata supaya dia tidak melihat penis Jeber yang menurutnya menjijikan tersebut. Meskipun begitu, Fransisca tidak berani menggerakan tangan dan kakinya karena takut akan disakiti lagi. Jeber yang sudah amat bernafsu melihat payudara indah Fransisca langsung merapatkan kedua payudara tersebut ketengah sehingga menjepit penisnya sendiri. Setelah itu dia mulai menggerakan pantatnya sehingga penisnya terkocok di himpitan kedua payudara lembut Fransisca.
"aaahhhh gila enak banget toket amoy nih! Dari dulu gua ngebayangin mau giniin elo, akhirnya kesampean juga aahhh aaaahhh" ujar Jeber.
Fransisca masih tetap diam menangis dan memalingkan muka sambil memejamkan mata. Dia berharap Jeber cepat selesai karena dia benar-benar jijik melihat penis tua kotor tersebut. Jeber semakin cepat menggoyangkan pantatnya, sehingga Fransisca dapat merasakan buah zakar Jeber yang terus bergesekan dengan perutnya. Benar-benar menjijikan bagi Fransisca. Suara payudara penuh keringat Fransisca bertabrakan dengan pangkal paha dan perut Jeber nyaring terdengar Plak plak plak plak plak... terus menerus. Tiba-tiba mendongak keatas sambil memejamkan mata... Croottttt!!!! keluarlah air maninya tepat ke wajah cantik Fransisca. Fransisca hampir muntah karena jijik dibuatnya. Jeber masih menggoyangkan pantatnya meskipun sudah jauh lebih pelan, untuk memastikan air mani nya sudah terkuras semua. Tampak sedikit air mani masih menetes keleher Fransisca. Sampai akhirnya Jeber berhenti. Tubuh tua lelah itu perlahan bangun dari atas tubuh Fransisca, sambil tidak lupa kembali menepuk-nepuk payudara wanita itu beberapa kali. Plek plek plek...
"Mantep nih toket heh ..heh...untung ngga koit gua heh..heh.." kata Jeber sambil ngos ngosan.
Dia berjalan sempoyongan dan akhirnya menjatuhkan diri di salah satu kasur busa di ruangan itu. Sesuai urutan umur, kini giliran Bonar. Laki-laki botak berkumis berumur 48 tahun itu berjalan mendekati kasur busa Fransisca. Fransisca tampak masih terlentang tanpa bisa berbuat apa-apa karena tangannya masih terbelenggu tali di belakang. Tampak bagian dalam payudaranya yang putih sekarang agak memerah akibat gesekan dengan penis Jeber tadi. Bonang menarik Tshirt rusak yang masih menempel di tubuh Fransisca sampai sobek dan menggunakannya untuk menyeka air mani Jeber di wajah dan leher wanita itu. Fransisca hanya diam memejamkan mata pasrah membiarkan Bonar membersihkan tubuhnya yang dirasa sudah hina itu dengan sobekan pakaiannya sendiri. Setelah Bonar puas membersihkan tubuh Fransisca, dia terdiam sejenak sambil memperhatikan tubuh mulus wanita amoy ini...Bonar tersenyum lebar sambil melihat ke arah Speaker di sudut ruangan tak jauh dari kasur busa Fransisca...

----------------------------------2 menit kemudian--------------------------------------------

"Ayo bangun kau!" perintah Bonar sambil memapah Fransisca bangun. "JALAN kesana!" serunya sambil nunjuk ke arah speaker besar di pojokan.
Bonar menggiring Fransisca yang tangannya masih terikat di belakang, berjalan menuju speaker bar tersebut. Tampak sesekali tangan Bonar mencomot payudara Fransisca yang berguncang menggantung di setiap langkahnya. Sesampai di depan speaker, Fransisca bertanya dengan suara lemah
"Saya mau di suruh apa pak? udah dong pak lepasin saya...tolong pak..."
Bonar hanya tersenyum dan mendorong punggung Fransisca. Menyebabkan tubuh wanita itu menabrak speaker besar. Sekali lagi tangan yang terikat di belakang tubuhnya mempersulit dirinya untuk menjaga keseimbangan, sehingga dia terjerembab tengkurap ke atas speaker yang tingginya tepat sepangkal pahanya. Saat ini posisinya beridiri menungging dengan payudara menempel diatas speaker.
Bonar menekan punggung Fransisca dari atas dengan sikutnya...menyebabkan payudaranya tergencet antara tubuhnya dan speaker.
"aahhhhh!! sakit pak! ampun" teriak Fransisca. Namun lagi-lagi Bonar tidak mengacuhkannya.
Sikut Bonar tetap meniban punggung Fransisca, sedangkan tangannya yang lain berusaha memaksa celana pendek wanita itu supaya melorot ke bawah. Fransisca memberikan perlawanan berusaha mempersulit laki-laki itu menurunkan celananya.
"Eh bantu dong!! Susah kali buka celana ini!" Seru Bonar kepada temen-temannya.
Gembul berjalan kearah pantat Fransisca yang sudah menungging tersangga speaker. Dia hendak membantu Bonar membuka celana Fransisca.
"Eh! bukan bantu yang itu! Enak kali kau mau buka celana dia. Itu tugas ku! kamu sini tiban badannya biar tidak gerak-gerak" herdik Bonar.
"haha iya ya, sori sob!" kata Gembul sambil berjalan kearah Bonar dan bergantian meniban punggung Fransisca.
Berat badan Gembul yang besar tersalurkan oleh sikutnya yang tidak kalah besar. Tubuh yang besar meniban punggung wanita langsing itu membuatbpayudara Fransisca semakin terjepit. Payudara bulat itu tampak memerah seperti hendak pecah dan mengeluarkan isinya. Rasa sakit dan sesak nafas membuat Fransisca berhenti meronta. Dia hanya bisa berusaha merapatkan kedua lututnya....itu pun sebenarnya adalah usaha yang sia-sia belaka. Bonar dengan leluasa membuka kancing dan retsleting Fransisca. Setelah itu dengan amat sangat bernafsu dia menurunkan celana pendek itu dari belakang, melewati paha mulus dan kaki panjang wanita itu. Sekarang Fransisca dalam keadaan berdiri menungging di atas speaker
dengan hanya mengenakan celana dalam sutra tipisnya yang juga berwarna krem.
"Wah satu set ya sama BH nya yang tadi hahahahaha" kata Ambon nyeletuk.
Bonar tampak sangat serius memperhatikan celana dalam Fransisca yang masih menempel di tubuh wanita itu. Dia berlutut dibelakang Fransisca, lalu mendekatkan wajahnya ke belahan pantat Fransisca yang masih menungging itu... dan "bleb!" wajahnya di tempelkan ke pantat indah
yang terbungkus kain sutra itu. Bonar mengendus-endus sampai hidung dan mulutnya tampak terbenam di antara belahan pantat dan selangkangan Fransisca. Kedua tangannya tak henti-hentinya mengusapi paha Fransisca yang mulus itu. Fransisca hanya bisa menangis, itupun sangat sulit baginya karena untuk bernafas saja sudah sulit buatnya yang masih tertiban oleh Gembul.

----------------------------------6 menit kemudian--------------------------------------------

Setelah puas mengendusi selangkangan dan pantat Fransisca dari balik celana dalamnya, Bonar berhenti. Tangannya beralih ke garis tengah celana dalam Fransisca yang menutupi bagian vaginanya. Digosok-gosokkan jempolnya ke bagian itu, tepat di vagina Fransisca, meskipun masih dihalangi oleh sutra tipis. Bagian dari celana dalam itu sedikit agak lembab. Entah karena rangsangan Bonar atau karena keringat Fransisca. Setelah puas mempermainkan vagina Fransisca dari luar, Bonar merasa sudah saatnya melihat isinya. Dengan jarinya dia menarik bagian celana dalam itu ke samping. Penonton yang lain juga sampai memiring-miringkan wajah mereka masing-masing berusaha melihat ke sana, mereka penasaran dengan bentuk vagina Fransisca. Bahkan Gembul yang masih menindih tubuh Fransisca, tampak bersusah payah melihat. Terlihat Jeber yang sedang tiduran juga membangunkan badannya sambil celingukan berusaha melihat. Lagi-lagi Fransisca hanya bisa menangis tanpa suara, membiarkan vaginanya jadi tontonan massal. Tampak bulu-bulu tipis terkuak keluar seiring dengan celana dalam yang digeser. Di antaranya tampaklah lubang vagina Fransisca yang mengintip dari balik celana dalam sutra itu. WOW FANTASTIS! ujar para laki-laku itu dalam hati. Setelah puas melihat itu dari kejauhan, Ambon membisikan sesuatu pada Gimbal.
Gimbal bilang "Sip! bentar ya" dia menyerahkan iPhone nya ke Ambon supaya bisa tetap merekam dan pergi ke luar ruangan.
Tampak bibir liang vagina Fransisca yang berwarna merah muda sangat kontras dengan kulit selangkanganya yang amat putih. Melihat itu nafsu birahi Bonar meningkat pesat. Tanpa basa basi dia langsung melahap vagina indah tersebut. Tindakannya yang seperti kesetanan itu membuat iri laki-laki yang lain. Mereka berharap berada di posisi Bonar saat itu. Bonar menciumi, menyedot dan menjilat vagina Fransisca yang sekarang menjadi basah karena liurnya dengan sangat bernafsu. Terdengar suara-suara mendecit setiap kali Bonar menyedot klitoris vagina indah yang sudah sangat basah tersebut. Sesekali dia menyeka-nyekakan wajahnya ke kiri dan ke kanan ke selangkangan Fransisca, seakan dia ingin menyapu vagina merah muda itu dengan kumisnya.
 "MMmmmhh!!! sudahh cukup...jangann..." Fransisca memaksakan berbicara, meskipun suaranya kalah keras dengan suara yang dibuat oleh Bonar.
Bonar masih terus melanjutkan santapan malamnya itu, tangannya yang satu masih sibuk menggeser celana dalam Fransisca ke samping, sedangkan tangannya yang satu lagi terus meremasi pantat Fransisca yang tidak terlalu montok tapi mulus.
"Bah wangi sekali memek amoy ini...beda sekali dengan bau memek biasanya" Bonar menarik wajahnya dari vagina Fransisca. Tampak hidung dan kumisnya ikutan basah karena liurnya sendiri.
Bonar bangun dengan tetap mengambil posisi di belakang Fransisca yang masih menungging di atas speaker. Setelah itu dia melepas celana dalamnya sendiri. Tampak penis yang cukup besar sudah berdiri mengacung keatas.
"Sudah Bul! Aku bisa pegang sendiri sekarang, tengkyu" perintah Bonar sambil menyuruh Gembul melepaskan tibanannya ke tubuh Fransisca.
Melihat itu, Fransisca berusaha menegakkan badannya karena payudaranya sudah sangat sakit. Namun belum sempat dia beridiri tegak, Bonar yang masih di belakangnya kembali menekan punggungnya sehingga payudaranya kembali menempel pada speaker.
"Siapa yang suruh kau bangun? Diam disitu!" seru Bonar.
"Sudah pak tolong... lepasin saya pak..." lagi-lagi Fransisca memohon sambil menangis.
"aaahh!! DIAM kau!!!" bentak Bonar sambil menghentakan tangannya yang sedang menekan punggung Fransisca. Membuat payudaranya terjepit lagi.
Bonar menggunakan tangannya untuk membidikan penisnya ke lubang vagina Fransisca yang masih mengintip di balik celana dalam yang tergeser.

Merasakan ada penis yang berusaha masuk ke vaginanya, Fransisca histeris "jangan! Jangaaan!! pak jangan pak!!! ampun!!"
"Ah! Benar-benar berisik kali kau ini! macam perawan saja. Padahal sudah sering di ewe sama suami kau kan?" ujar Bonar dan JREEEBBBB!!! masuklah penis itu ke liang vagina Fransisca!
"aaaaaaaaaaaH!!!" teriak Fransisca tak berdaya.
"Wah sempit kali memek ini...padahal sudah sering di entot kan kau? Pasti titit suami kau kecil ya hahaha, kalo titit dia besar, pasti memek ini sudah dower macam bibir si Jeber itu hahahaha" hina Bonar.
Bonar mulai menggerakan pantatnya, membuat penisnya keluar masuk vagina Fransisca. Sementara itu Fransisca yang sudah pasrah, menurunkan kepalanya yang sudah lelah mendongak dari tadi berusaha berontak. Sekarang dagunya menempel di permukaan atas speaker. Melihat itu Bonar mendapatkan ide,
"Eh setel lagu keras-keras dong, biar kita semangat 45 hahaha" dan tak lama musik pun dinyalakan dengan keras.
Musik yang di mainkan adalah musik-musik dugem dengan bass keras, membuat speaker bergetar hebat. Fransisca terpakas kembali mendongakkan wajahnya, karena getaran speaker sangat menyakiti dagunya yang menempel, ditambah lagi suara kerasnya juga mengganggu pendengarannya yang berada terlalu dekat dengan speaker. Bonar semakin bersemangat memperkosa Fransisca. Pantatnya bergoyang dengan brutal, membuat Fransisca melenguh setiap kali Bonar menancapkan penisnya ke dalam vagina sempit itu. Laki-laki yang lain tampak menikmati pemandangan itu. Getaran-getaran hebat di payudara Fransisca yang masih menempel pada speaker setiap kali suara bass terdengar juga menambah rasa nafsu dalam diri para pria tersebut. Fransisca merasakan payudaranya seperti kesemutan terkena getaran-getaran hebat dari speaker besar itu. Keringat yang menetes di payudaranya tampak deras mengalir kebawah di karenakan getaran dari speaker.
"Udah kecilin kecilin! puyeng pala ku lama-lama dekat-deket sama spiker!" ujar Bonar tanpa memberhentikan hujaman penisnya ke vagina Fransisca.
Volume music yang dikecilkan terganti dengan suara pantat Fransisca yang bertabrakan dengan pangkal paha Bonar. "pyak..pyak..pyak..pyak..pyak"
Goyangan Bonar semakin cepat, cepat sekali sampai Fransisca tidak dapat menahan sakit di vaginanya dan melenguh kecil di setiap hujaman Bonar.
"emmh ..emhhh ..uh...umhh.." "pyak pyak pyak pyak pyak pyak" semakin cepat dan keras suara itu terdengar.
Sampai akhirnya Bonar melepas telapak tangannya yang meniban punggung Fransisca dan mencengkram payudara wanita itu dari belakang sampai tubuh Fransisca sedikit terangkat ke atas. Penis Bonar semakin cepat menyoblos vagina itu, begitu pula cengkramannya yang semakin keras di payudara Fransisca, mengakibatkan payudaranya memerah. Rasa sakit yang luarbiasa dirasakan Fransisca di payudara dan vaginanya.
"aaahh!!! aaah! ah! ah!!ah! ah! ah! ah!" jerit Fransisca di setiap tusukan.

Tiba-tiba Bonar mengejang sambil terus menghunuskan penisnya...
"Jangan!! jangan!! tolong pak! jangan di dalam!!" jerit Fransisca panik.
"AAAHH!!!" Bonar menyambut jeritan Fransisca dengan teriakan juga.
Tubuh tua Bonar mengejang lagi sambil terus menusukan penisnya ke dalam vagina Fransisca. Cengkraman di payudara Fransisca semakin kuat, Pantatnya terus menekan-nekan ke depan seperti berusaha memasukan penisnya lebih dalam lagi ke vagina Fransisca yang sudah mentok itu. "aaahhhhhhhhh...." Bona mengerang lega.
Fransisca kembali menangis merasakan cairan hangat membanjiri vaginanya dari dalam. Bonar melepaskan cengkramannya di payudara putih Fransisca yang kini tampak berbekas tapak tangan berwarna merah. Dia juga mencabut penisnya dari lubang vagina Fransisca. Cairan putih turut keluar ketika penis itu tercabut. Air mani Bonar tampak menetes ke lantai.
"Wah memek amoy memang tiada tandingannya...huuuffffhh! habis tenaga aku ini." seru Bonar sambil mundur mencari tempat bersender.
Sementara Fransisca kembali tengkurap diatas speaker karena lemas dan putus asa. Dia menangis dengan lemah dengan posisinya yang masih berdiri menungging. Air matanya menetes di atas speaker.
"Nah! Kali ini kau pasti bunting! Harusnya kau bilang terima kasih sama aku! Selama ini kau mau coba bunting gagal terus kan? Kalo sama aku yang subur ini...pasti jadi HAHAHAHA anakku saja sudah 8 orang, subur kan?" tawa Bonar sambil menjatuhkan diri ke kasur busa.

----------------------------------2 menit kemudian--------------------------------------------

Gimbal yang tadi keluar, sudah kembali bersama dua temannya.
"Wah udah di ngecrotin aje tuh amoy! Sial pas gua keluar, kaga liat deh...gimana bang? Enak kaga meki nye?" seru Gimbal sambil melihat kearah Bonar. Bonar yang kehabisan tenaga hanya bisa memberikan tanda 'Jempol'.
"Eh kenalin temen-temen gua nih... Codet dan Tato , mereka yang tadi sore bantu gua nyulik si amoy. Oh iya ini Mbon, pesenan lu..." Gimbal memperkenalkan kedua temannya itu sambil menyerahkan
sebuah kantong plastik belanjaan Minimarket ke tangan Ambon.
 "Weh tengkyu bro! Kayaknya emang belom sedep kalo belom dipakein ini nih si amoy..." seru Ambon sambil menukarkan iPhone dengan kantong plastik itu.
Semua orang di ruangan itu menengok kearah kantong plastik yang ada di tangan Ambon, termasuk Fransisca yang masih tengkurap lemas diatas speaker. Wanita itu takut, apalagi yang akan di lakukan mereka pada dirinya...
"Wah kebetulan, sekarang kan giliran gua!" kata Ambon memecah hening. Ambon berjalan ke arah Fransisca sambil menyeringai.
"Yuk neng, sini!" kata Ambon menggoda Fransisca.
Fransisca cepat-cepat berdiri dan berlari kepojokan menjauh dari Ambon. Tangannya yang masih
terikat di belakang tidak dapat melindungi tubuhnya yang hanya tinggal mengenakan celana dalam. Fransisca yang ketakutan menempelkan tubuhnya ke tembok, sementara bayangan tubuh Ambon semakin mendekat.

Story by: Adidit
Ilustrated by: NeoDevil

Selasa, 14 Oktober 2014

Predator Sekolah 3: Para Murid Bengal

Pak Risman Kusbiantoro

Pagi hari tepatnya jam 06.30 di suatu sekolah menengah atas yang dipimpin oleh pak Risman Kusbiantoro si kepala sekolah mesum sudah terjadi kesibukan. Para staff dan guru-guru di sekolah tersebut sedang sibuk membereskan ruang rapat. Ya, hari ini kabarnya mereka akan mengadakan rapat dengan orang tua siswa perihal biaya anggaran pengadaan fasilitas belajar di sekolah tersebut. Murid-murid tidak diliburkan, akan tetapi mereka dibebaskan dari pelajaran hari itu.
Jam 07.00 sekolah mulai tampak ramai. Para orang tua siswa sudah mulai berdatangan. Pak Risman menyambut mereka didepan ruang rapat yang telah disiapkan didampingi oleh semua guru dan staff sekolah tersebut. Beliau menyalami semua orang tua murid sekolah tersebut dengan ramah, walaupun pikiran mesum masih saja terlintas ketika mendapati beberapa orang tua murid yang berparas cantik dan berbody sexy. Tak terkecuali ketika ia menyalami bu Melisa, salah satu orang tua siswa disekolah tersebut. Bu Melisa yang kesehariannya bekerja di bagian accounting salah satu perusahaan swasta tampil sangat sexy hari itu dengan balutan busana khas perempuan karir. Menggunakan rok pendek berwarna biru cerah yang menggantung di atas lutut menampilkan kemulusan setengah dari pahanya. Sementara kemeja lengan panjang bu Melisa yang berwarna putih nampak sangat tipis, sehingga BH hitam yang ia pakai untuk menutup payudaranya yang membulat menggoda nampak menerawang.
"Saya Melisa pak, orang tuanya Vita..kelas tiga" ucap bu Melisa ketika ia menyalami pak Risman.
"Oh bu Melisa, saya Risman..kepala sekolah di sini, senang bertemu ibu.." jawab pak Risman dengan senyum ramah dan tak ketinggalan mata yang mencuri-curi pandang terhadap body mulus dan sexy bu Melisa.
"Aduhhh...ko burung saya jadi ngaceng ya, mana tangannya halus..cocok banget buat ngocokin kontol saya nih" itulah yang ada dibenak pak Risman saat ia menyalami bu Melisa.
Jam 08.00 rapatpun dimulai. Didahului dengan sambutan dan berbagai macam pemaparan dari kepala sekolah.

Sementara ketika rapat tengah berlangsung, terlihat di salah satu tempat di sekolah itu beberapa orang siswa tengah berkumpul. Mereka berkumpul di pinggir ruangan kepramukaan yang terletak di ujung paling belakang sekolah tersebut. Nampak sekali siswa-siswa bengal tersebut sedang melakukan hal yang sebenarnya tidak layak dilakukan oleh pelajar seusia mereka. Mereka sedang asik mengobrol dengan rokok yang terselip di jari-jari mereka, dan sesekali merekapun tampak menenggak minuman keras yang mereka masukan ke dalam botol air mineral. Aldo, Firman, Reska dan Noval, serta tak ketinggalan juga Rizal si Murid bengal beruntung yang saat itu sedang asik bermabuk-mabukan.
"Eh...do, lu di sekolah ini paling pengen ngentotin siapa?" tanya Rizal kepada Aldo sambil menghisap rokoknya.
"Bu Indah bro...secara dia khan baru kawin pasti memeknya masih sempit" jawab Aldo yang ditimpali dengan gelak tawa teman-temannya. "Kalau lu Val?" Kembali Rizal bertanya, kali ini terhadap Noval.
"Kalau gua sih kayanya bu Ernita..haha...lu liat kan pantatnya men? Gile deh kalau tuh pantat bahenol ngelindes kontol gua" jawab Noval sambil menerawang membayangkan dirinya tengah bersetubuh dengan bu Ernita, dan kembali gelak tawa terdengar di sana.
Firman yang sedari tadi tampak diam hanya membayangkan obrolan-obrolan keempat temannya itu sambil sesekali menenggak minuman dan menghisap rokoknya.
"Lu nanya-nanya terus Zal..kalau lu sendiri siapa guru yang paling pengen lu entot?" tanya Reska sambil menjitak kepala Rizal temannya.
"Hehe..kalau gua sih udah pernah entotin bu Ernita, bu Linda sama bu Astri..tinggal bu Indah bro" ungkap Rizal sambil membetulkan posisi kemaluannya yang terasa sudah berdiri akibat obrolan itu.
Mendengar jawaban Rizal tersebut, sontak gelak tawa terdengar dari keempat temannya, mereka berpikir jika Rizal hanya membual. "yee..kalian pada gak percaya ya" ungkap Rizal kepada teman-temannya.
"Ngimpi lu bro...paling cuma ngayal sambil coli..haha.." Firman yang dari tadi diam menimpali.
"Nih gua punya videonya bu Ernita lagi dientot pak Risman sama bu Astri lagi dientot mang Yono sama pak Risman sambil nyepong kontol gua.." sahut Rizal sambil mengeluarkan handphone dari tasnya.
Serempak keempat temannya mengerubungi Rizal. Sambil asik minum-minum mereka menonton rekaman tersebut. Sedang asik-asiknya, kelima siswa bengal tersebut dikagetkan oleh kedatangan bu Indah yang saat itu tengah berkeliling di sekolah tersebut. Mereka tak sempat menyembunyikan minuman-minuman serta rokok yang tengah mereka nikmati.

"Oh..jadi kalian seperti ini ya kalau sedang bebas pelajaran" bentak bu Indah dengan wajah galak terhadap lima orang siswa tersebut sambil melipatkan tangan di dadanya yang membusung.
Tampak sekali raut ketakutan dari kelima orang siswa yang ketahuan sedang menenggak minuman keras itu. Mereka hanya bisa menunduk ketakutan.
"Baik...bawa minuman-minuman itu ke ruang konseling buat barang bukti..biar kalian dikeluarkan dari sekolah ini" kembali bibir ranum bu Indah berucap dengan geram terhadap kelima siswa bengalnya itu.
Namun pikiran Noval yang dipengaruhi minuman keras malah menerawang ke hal lain melihat bu Indah yang sedang marah waktu itu. Ia malah terangsang melihat tubuh bu Indah dalam balutan seragam mengajarnya yang berwarna abu-abu, rok selututnya yang ketat menonjolkan pantatnya yang walaupun tidak sebesar bu Ernita atau bu Linda tapi tetap menggoda kelelakiannya, apalagi dengan rambut panjang yang disanggul rapi menambah aura kecantikan elegannya, serta sepatu hak tinggi yang menambah sexy guru muda tersebut. Ternyata apa yang ada dipikiran Noval sama dengan keempat temannya. Seperti sudah dikomando, kelimanya secara bersamaan menghampiri bu Indah yang tengah berdiri berkacak pinggang tak jauh dari kelima muridnya. Bu Indah yang tidak menyadari apa yang akan dilakukan murid-muridnya tampak tenang. Hingga ia dikagetkan oleh remasan tangan dipantatnya, yang ternyata itu dilakukan oleh Reska.
"Hey...kurang ajj..aaah" ucap bu Indah terpotong karena ia kembli dikagetkan oleh Firman yang meremas payudaranya. Tubuh bu Indah kini mulai dikerubungi oleh kelima siswa-siswa bengal itu.
"Ap..apa yang kalian lakukan..ahhh..kurang ajar" maki bu Indah terpotong, karena kini tubuhnya tengah dijamah kelima siswanya.
"Ini akibatnya kalau ibu gangguin kami..." Ucap Firman sambil matanya melotot terhadap bu Indah dan dengan tangan meremas-remas payudara gurunya tersebut berebutan dengan teman-temannya.
"Bro..bawa masuk ke ruang pramuka aja.." Ucap Noval kepada teman-temannya. Lalu tubuh bu Indah yang meronta-ronta mereka seret dengan paksa memasuki ruangan ruangan tersebut.
Ruangan itu memang terletak terpisah dan lumayan jauh dari bangunan yang lain, hingga teriakan bu Indah sekencang apapun tak akan terdengar oleh orang-orang yang tengah berada di areal sekolah tersebut. Di dalam ruangan tersebut bu Indah mereka letakan terlentang di atas meja yang tak terpakai. Firman dan Reska memegangi kedua tangan bu Indah yang meronta, tangan mereka berdua pun tak tinggal diam dengan meremas kedua payudara membusung bu Indah. Sementara itu Rizal dan Aldo meraba-raba kedua paha mulus Bu Indah yang tersingkap karena meronta. Rizal kini bahkan melepas rok yang dipakai Bu Indah sehingga kedua kakinya hanya tinggal memakai sepatu hitam berhak tinggi, celana dalam putih berenda tipis menutupi wilayah segitiga emasnya yang menggiurkan.

Rizal, Aldo, Firman, Reska & Noval

Noval dengan tergesa-gesa mendekatkan mukanya ke depan selangkangan bu Indah, lalu jari-jari tangan kanannya menyingkap CD putih bu Indah, Lidahnya mulai menyapu belahan vagina bu Indah yang dihiasi bulu tipis menggoda.
"Auuuhhh...hentikan...bia..dab kalian..ku..rang..ajjjar ahhh" lenguhan dan makian bu Indah terdengar ketika ia merasakan sapuan lidah kasar Noval di vaginanya.
Firman, Reska, Aldo dan Rizal tak mau ketinggalan. Mereka terus berebut tubuh mulus bu Indah dengan meraba, meremas, dan mengelus seluruh bagian tubuh bu Indah yang hanya bisa menjerit-jerit histeris menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tangisan dan lenguhan bu Indah bukannya menghentikan aksi dari kelima siswa bengal tersebut. Kini mereka malah menikmati tangisan mengiba dari guru mereka ini.
Selang 5 menit mereka bergantian menjilati vagina bu Indah yang walaupun menolak tetap saja vaginanya membanjir. Kancing baju seragam bu Indah telah terbuka semuanya. BH putih berenda yang senada dengan CDnya juga telah tersingkap keatas menampakan payudara yang membulat padat nan menggiurkan, yang kini puting-putingnya tengah dikulum oleh Rizal dan Aldo. Kaki jenjangnya yang berhias sepatu hitam berhak tinggi masih meronta-ronta dengan dipegangi Reska dan Noval. Sementara itu Firman menikmati basahnya vagina bu Indah dengan jilatan kasarnya serta tusukan jari telunjuknya yang menusuk lubang anus gurunya tersebut.
"Auuuh...toll..ong..tidakkk...ahhh" bu Indah melenguh ketika merasakan vaginanya berkedut memancarkan cairan orgasme di mulut Firman muridnya, yang dengan lahap menyedot vaginanya.
Sontak gelak tawa terdengar di ruangan tersebut menyambut orgasme bu Indah di tangan murid-muridnya. Hati bu Indah sangat pedih, ia menangis tersedu meratapi tubuhnya yang mengkhianati dirinya. Ia sangat malu menyadari dirinya orgasme di tangan murid-muridnya.
"Sudah..hentikan..saya guru kalian" ucap bu Indah sambil menangis, melihat Reska yang kini mempersiapkan kemaluannya yang walaupun tidak besar tapi cukup panjang dan keras di depan vaginanya yang masih tertutup CD putih berenda.
"Kemarin bu Indah memang guru kami..tapi mulai sekarang ibu akan jadi pelacur kami" ucap Reska sambil tersenyum memuakan dan menyingkap CD putih gurunya, lalu menusukan kemaluannya itu ke vagina bu Indah yang hanya bisa memejamkan mata dan menggigit bibirnya merasakan perih di hatinya dan kenikmatan di lubang vaginanya.

Dilema mulai terjadi dihati bu Indah. Setengah dirinya menikmati perkosaan ini, akan tetapi setengah kesadarannya mengutuk apa yang dilakukan kelima muridnya ini.
"Ouh...aku menikmati jilatan nafsu anak-anak muda ini di memekku..ouh..tidak..ini tidak boleh..ini tabu" itulah yang terpikirkan oleh bu Indah saat Reska menggenjot vagina legitnya.
Reska tak bertahan lama, ia tak kuasa menahan nikmatnya jepitan vagina bu Indah. Hanya 5 menit ia mampu menggenjot vagina gurunya, ia mencabut kemaluannya dan memuntahkan seperma kental di perut gurunya.
Rizal langsung menggantikan temannya, ia terlihat mengocok pelan kemaluan panjang dan besar miliknya yang kemarin ia gunakan untuk menaklukan 3 orang gurunya.
"Ini memek guru keempat yang akan saya nikmati" begitulah pikir Rizal sambil memegangi paha bu Indah dan menekan kemaluannya memasuki vagina gurunya.
Sementara bu Indah seakan tak percaya melihat kemaluan muridnya tersebut.
"Oh...sungguh besar, kontol suamiku pun tak sebesar itu" pikir bu Indah melihat dengan takjub kemaluan Rizal memasuki vaginanya.
Bu Indah benar-benar merasakan kenikmatan yang sempurna dari kemaluan Rizal yang menggenjot pelan vaginanya. Ia memejamkan mata dan melenguh-lenguh penuh kenikmatan.
"Auuuuh...yeah..mmmh.." Begitulah lenguh bu Indah kala itu, saat dimana Rizal dengan perkasa menggenjot pelan vagina gurunya yang sempit.
"Ibu haus? Minum ini bu" tiba-tiba Reska mencekoki bu Indah dengan minuman keras yang ia bawa.
"Uhuk..uhuk..aaahhh..mmmh" bu Indah tersedak akibat minuman yang diberikan Reska muridnya, tetapi ia tak menolak ketika Reska kembali menyodorkan minuman itu.
Beberapa saat kemudian, efek dari minuman keras itu mulai dirasakan bu Indah. Kepalanya terasa ringan, tubuhnya terasa panas. Bu Indah mulai lupa akan statusnya sebagai seorang pengajar. Ia kini merasa birahinya sangat tinggi dan hanya ingin menuntaskannya saat itu. Senyum manis nan menggoda mulai tersungging dibibirnya.
"Persetan dengan suamiku..aku hanya ingin kontol besar mengisi memekku" itulah yang kini ada dalam pikirannya.
Efek minuman keras telah merubah bu Indah yang tadi menolak dan mengutuk pelecehan yang dilakukan murid-muridnya terhadap tubuhnya, kini dia malah meminta dan memohon untuk di lecehkan.

Bu Indah

Kini bu Indah tampak mengangkat pinggulnya, ia mengimbangi setiap gerakan Rizal yang memompa pelan vaginanya dengan goyangan pinggul yang ia perlihatkan kepada murid-muridnya.
"Ouh...yeaahh..nikmati tubuh ibu..zal..ahhh" desahan bu Indah benar-benar menggugah hasrat.
Diiringi dengan senyum genit dan kerlingan mata binal, bu Indah menyuruh semua muridnya bertelanjang, yang tentu saja ditanggapi oleh semuanya dengan semangat. Bu Indah membagi tugas terhadap murid-muridnya tersebut untuk memberikan kenikmatan pada tubuhnya. Firman dan Noval ia suruh menyusu di payudaranya, sementara Aldo dan Reska Ia nikmati kemaluan keduanya secara bergantian dengan mulutnya. Aroma persetubuhan tercium sangat kental di ruangan tersebut, lenguhan, desahan, erangan penuh kenikmatan terdengar menggairahkan. Hingga kurang lebih 15 menit kemudian lenguhan Reska yang kembali tidak bisa menahan kenikmatan dari kuluman bu Indah membuatnya memuncratkan sperma di mulut gurunya.
"Oooooh...gile bro...nik..mat bangettt...ahhh" erang Reska ketika mengeluarkan spermanya yang nampak dinikmati oleh bu Indah sampai Reska meringis-ringis karena kepala kemaluannya di sedot bu Indah.
Bu Indah pun sudah mendapat 2 kali orgasme dari genjotan Rizal. Namun anehnya stamina dan nafsu berseetubuhnya tak kunjung padam.
"Ahhh...ampun bu...ohhh..gak kuat..." Lenguh Rizal ketika bu Indah menggoyangkan kembali pinggulnya, sehingga memaksa Rizal menumpahkan spermanya di dalam vagina gurunya.
Bu Indah menanggapi lenguhan Rizal yang takluk oleh goyangan pinggulnya dengan senyuman yang genit. Setelah Rizal menyelesaikan hajatnya, bu Indah bangkit dari meja tempat ia terlentang menikmati hujaman kemaluan muridnya barusan. Sementara Rizal dan Reska tampak duduk kelelahan. Bu Indah lalu berjalan ke arah matras yang sudah tergelar di ruangan itu. Lalu dengan goyangan erotisnya ia melucuti sisa pakaian yang menutupi tubuhnya lalu membuka ikat rambutnya sehingga rambutnya yang lurus sebahu jatuh ke pundaknya. Dengan jentikan jari dan mata binal ia memanggil Aldo dan menyuruhnya terlentang di matras. Bu Indah lalu menunggangi Aldo muridnya yang mempunyai postur tubuh paling besar di antara kelima muridnya itu, diikuti firman dan Noval yang langsung menyodorkan kemaluannya di depan mulut bu Indah. Persetubuhan hebat itu terjadi hampir 3 jam, dimana tubuh bu Indah digilir oleh lima orang siswanya. Entah berapa kali bu Indah mengalami orgasme, dan entah berapa banyak pula sperma yang tertumpah dari kelima murid bengal itu. Hingga di akhir persetubuhan itu bu Indah tampak meringkuk di atas matras kusam di dalam ruang kepramukaan, dengan mata terpejam dan senyum yang menghiasi bibir manisnya. Sementara kelima siswa bengal itu tampak duduk kelelahan masih dalam keadaan telanjang. Di tangan mereka tampak rokok-rokok yang menyala sedang mereka hisap. Sesekali Rizal mengabadikan keadaan bu Indah dengan kamera handphonenya. "Hahahaha...nambah lagi ni lonte gua" ucap Rizal dalam hati.

################
Bu Ernita
Masih di waktu yang sama ketika rapat sedang berlangsung, di sebuah ruangan disekolah itu nampak seorang wanita cantik dengan masih mengenakan baju khas para pengajar sedang asik menaik turunkan tubuhnya di pangkuan seorang laki-laki paruh baya yang jauh dari kata tampan. Pakaian wanita tersebut telah terbuka semua kancingnya, serta nampak wanita itu tidak memakai BH sehingga payudara putih mulusnya langsung tersaji di hadapan laki-laki paruh baya itu yang dengan rakus menjilati, mengulum bahkan menggigit kecil payudara wanita itu. Sementara celana panjang serta CD keduanya nampak berserakan di lantai ruangan tersebut.
"Oh..iyaahhh..bu Ernita..ayoh lebih kencang buh" ucap laki-laki itu kepada wanita yang tengah asik menunggangi batang kelelakiannya yang hitam berotot.
"Mmmhh..iyahhh..innih..mangh..oh" balas wanita itu sambil terus menghentak-hentakkan pinggulnya yang semok di atas pangkuan laki-laki paruh baya tersebut yang tampak kewalahan mengimbangi gerakannya. Ya, mereka yang tengah bersetubuh itu tak lain dan tak bukan adalah bu Ernita si guru bahasa inggris yang alim itu, yang kini telah ketagihan rasa batang kemaluan laki-laki. Dan laki-laki yang kini beruntung mendapatkan service bu Ernita adalah mang Yono sang penjaga sekolah mesum yang selalu mupeng melihat lenggak-lenggok tubuh guru-guru muda di sekolah itu. Mereka tengah bersetubuh di ruang UKS yang letaknya tak jauh dari ruang kepala sekolah. Lenguhan-lenguhan bu Ernita menjadi pembangkit semangat Mang Yono dalam mengimbangi gerakan erotis bu Ernita yang semok. Sementara bagi bu Ernita, batang kemaluan mang Yono yang hitam, panjang dan besar serta berotot mampu memberikan rasa persetubuhan yang lain daripada persetubuhan yang biasa ia lakukan dengan suaminya.
"Mangh...saya nyampe mangh...ohhh" ungkap bu Ernita ketika orgasme pertama dipagi itu datang menenggelamkannya dalam kenikmatan. Tubuhnya berkelojotan di atas tubuh mang Yono yang meringis menahan kenikmatan yang ditimbulkan oleh kontraksi dari vagina bu Ernita yang mendapatkan orgasme.
"Ahhh...bu..konthol mamang..rasanya kayak dikunyah" timpal mang Yono ketika merasakan efek yang ditimbulkan oleh orgasme yang menimpa bu Ernita. Setelah beberapa menit mengistirahatkan tubuhnya mereka kembali melanjutkan persetubuhan itu. Kini bu Ernita tampak pasrah mengangkang di atas kasur yang tersedia di ruang tersebut. Tangan bu Ernita tampak memeluk mesra tubuh kurus mang Yono yang kini tengah asik memagut bibir ranum bu Ernita dengan pinggul yang menghentak kasar memompa kemaluannya keluar masuk vagina guru bahasa inggris tersebut.

##################
Sementara itu di ruang rapat, tampak semua berjalan dengan lancar.
Kini yang tengah berbicara adalah pak Kusnadi yang dikenal sebagai wakil dari yayasan. Beliau sedang memaparkan apa saja yang dibutuhkan sekolah tersebut guna memenuhi kelengkapan sarana belajar siswa-siswinya. Saat itu pak Risman bukannya memperhatikan apa yang tengah dibicarakan. Kepala sekolah mesum itu malah sedang menikmati elusan tangan halus bu Astri yang tengah mengelus lembut batang kemaluan pak Risman dari luar celana panjangnya. Meja di depannya membuat kegiatan mesumnya bersama bu Astri terlindung dari perhatian orang-orang di ruangan tersebut. Sedang asik-asiknya bermesum ria di muka umum, pak Risman dikagetkan dengan kedatangan bu Melisa dihadapannya.
"A..ada apa bu?" Tanya pak Risman kaget melihat kedatangan bu Melisa. "Gini pak, saya ada penawaran untuk sekolah ini..bisa kita bicara sebentar?" Jawab bu Melisa singkat.
"Oh..iya tentu bu tentu...sebentar saya kasih instruksi dulu anak buah saya" ucap pak Risman semangat.
Setelah meminta izin kepada beberapa pimpinan yayasan dan memberikan perintah kepada bawahannya untuk mencatat hasil rapat tersebut, pak Risman lalu keluar ruangan diikuti bu Melisa.
"Begini pak, perusahaan saya bisa bekerja sama untuk pengadaan komputer di sekolah ini yang katanya sudah banyak yang rusak" ucap bu Melisa sesaat setelah mereka keluar ruang rapat. "Keuntungannya bisa kita bagi dua, bagaimana menurut pak Risman?" Lanjut bu Melisa memberikan penawaran.
Tampak pak Risman sesaat seperti sedang berpikir, padahal yang dia pikirkan bukanlah barang yang bu Melisa tawarkan melainkan barang yang ada di balik pakaian yang bu Melisa kenakan.
"Gini bu..kayaknya gak enak kalau kita ngomongin ini disini, gimana kalau kita ke ruangan saya saja" ajak pak Risman kepda bu Melisa dengan tawa yang menunjukan kemesumannya.
Lalu setelah bu Melisa menyetujui ajakan pak Risman, kepala sekolah itupun menunjukan arah menuju ruangannya. Sambil berjalan pak Risman tidak hentinya melirik tubuh bu Melisa.
"Hmmm...ini namanya tua-tua kelapa..makin tua makin banyak santannya" pikir pak Risman mengagumi tubuh bu Melisa yang tengah berjalan di sampingnya.
Bu Melisa memang tampil luar biasa menggoda. Tubuhnya masih segar dengan kulit yang masih terlihat kencang di usianya yang menginjak 42 tahun. Pantat yang menungging serta payudara yang tampak membusung sama sekali tidak memperlihatkan kalau dia telah mempunyai anak yang kini telah duduk di kursi SMA kelas 3. Apalagi hari itu, pakaiannya sangat sexy dengan memakai rok ketat di atas lutut dan kemeja putih transparan, serta rambut coklat yang ia kuncir ke belakang memperlihatkan leher yang putih mulus menggoda kelelakian siapa saja yang melihatnya.

Di tengah perjalannan menuju ruang kepala sekolah. Mereka berdua dikagetkan oleh suara desahan serta lenguhan dari dalam ruangan UKS yang mereka lewati. Bu Melisa tampak mengernyitkan dahinya sambil menoleh ke arah pak Risman. Ia sangat hafal dengan suara-suara itu.
"Pak..tampaknya ada yang tidak beres di dalam sana" ucap bu Melisa setengah berbisik kepada pak Risman sambil tangan kanannya menunjuk ruangan asal suara itu keluar.
Pak Risman mengangguk pelan, hatinya mulai was-was. Ia tau di ruangan tersebut pasti sedang terjadi persetubuhan.
"Waduh..bisa gawat ini kalau ketahuan..lagian siapa sih yang asik-asikan ngentot di ruangan ini" pikir pak Risman.
Lalu bu Melisa menghampiri pintu ruangan tersebut, ia mengintip apa yang sedang terjadi di ruangan itu dari lubang kunci. Bukan main kagetnya bu Melisa saat itu. Walaupun terlihat tidak terlalu jelas, namun ia tahu jika didalam tengah terjadi persetubuhan. Ia hanya bisa melihat pantat seorang wanita berseragam guru tengah dipompa oleh laki-laki kurus. Suara wanita itu tampak menikmati apa yang dilakukan laki-laki kurus di belakangnya. Beberapa saat kemudian, tanpa bisa dicegah bu Melisa dengan emosi mengetuk pintu ruangan tersebut. Lalu tak berapa lama seorang laki-laki paruh baya membuka ruangan itu, wajahnya menampakan ketakutan dengan keringat yang masih mebasahi tubuhnya ia keluar dari ruangan tersebut. Tanpa ampun bu Melisa mencaci maki laki-laki tersebut yang tampak gemetar yang beberapa menit kemudian disusul oleh seorang wanita cantik berpakaian seragam pengajar dengan rambut yang belum ditata rapi.
"Terkutuk kalian...biadab...kalian melakukan tindakan cabul di tempat yang tidak semestinya" maki bu Melisa sambil melayangkan tangannya ke arah wanita yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
Namun pak Risman dengan cekatan menangkap tangan bu Melisa. "Tenang bu jangan terbawa emosi...kalian berdua ikut ke kantor saya" ucap pak Risman dengan nada galak yang di buat-buat.
Ya, bu Melisa sudah memergoki bu Ernita dan mang Yono yang tadi tengah bersetubuh di ruang UKS. Keempat orang itu kini sudah berada di ruang kepala sekolah, yang tanpa sepengetahuan bu Melisa, pak Risman telah mengunci ruangan itu. Tampak bu Ernita dan mang Yono duduk berdampingan di atas sofa didalam ruangan tersebut. Mang Yono hanya bisa menunduk ketakutan, sementara bu Ernita terlihat datar seakan-akan tak terjadi apa-apa. Pak Risman menyilangkan kedua tangan di depan dadanya dan menggeleng-gelengkan kepala, bersandiwara seakan-akan dia tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Beberapa menit suasana diruangan kepala sekolah tersebut hening. Sebelum bu Melisa angkat bicara dan memaki-maki penuh emosi terhadap bu Ernita dan mang Yono.
"Kamu wanita jalang...tak pantas jadi guru di sekolah ini...dasar pelacur murahan" maki bu Melisa dengan nada yang menunjukan kemarahannya.

Bu Melisa

Namun tanpa disangka-sangka bu Ernita malah menghampiri bu Melisa yang tengah dilanda emosi.
"Kalau memang saya pelacur apa urusannya sama ibu? Apa ibu merasa tersaingi untuk mendapatkan kontol-kontol perkasa menjejali memek ibu?" Dengan nada sinis bu Ernita mengucapkan kata-kata itu tepat di depan wajah bu Melisa.
Mendengar perkataan bu Ernita, tak ayal lagi bu Melisa langsung melayangkan tangannya hendak menampar guru binal itu. Namun lagi-lagi tangannya ditangkap pak Risman, yang kini dengan kurang ajar langsung mendekap tubuh bu Melisa dari belakang.
"Hey...pak Risman apa-apaan ini" protes bu Melisa sambil meronta-ronta mencoba melepaskan dekapan pak Risman dari tubuhnya.
Akan tetapi bukannya melepaskan, pak Risman kini malah nampak membenamkan mukanya di leher jenjang bu Melisa. Hidungnya mengendus-ngendus menghisap aroma harum tubuh bu Melisa, bahkan lidahnya mulai berani menjilat leher jenjang itu.
"Bu Ernita saja bisa nikmatin kontol saya dan mang Yono, kenapa bu Melisa tidak sekalian saja menikmati juga" bisik pak Risman di telinga bu Melisa yang kemudian mengulum telinga wanita itu.
"Anjing kau Risman..lepaskan..tak sudi aku melayanimu kepala sekolah bejat.." teriak bu Melisa sambil terus meronta-ronta.
Sementara itu mang Yono dan bu Ernita hanya menonton bu Melisa yang meronta meminta untuk dilepaskan dari dekapan pak Risman. Semakin lama rontaan bu Melisa mulai melemah, tenaganya untuk melawan dekapan pak Risman mulai habis. Kini ia hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Sementara tangan pak Risman mulai bergerilya di tubuh sexy bu Melisa. Tangan-tangan pak Risman mulai secara intens meremas-remas payudaranya yang empuk. Diperlakukan seperti itu bu Melisa hanya bisa menangis, hingga bu Ernita memanggilnya.
"Bu..lihat sini, ni lihat..ini enaknya jadi pelacur,dapet kontol segede ini tiap hari" ucap bu Ernita yang kala itu tengah berlutut di depan mang Yono yang telah memelorotkan celana berikut celana dalamnya dan memperlihatkan batang kejantanan kebanggaannya di depan bu Ernita.
Bu Melisa terbelalak kaget melihat aksi dari bu Ernita yang menjilati batang kemaluan mang Yono didepan mata kepalanya sendiri. Ia sungguh tak menyangka, guru wanita secantik ini mau melakukan hal yang merendahkan harga dirinya di depan laki-laki paruh baya yang kurus dan dekil serta jauh dari kata tampan. Bahkan wanita itu tampak menikmati pelecehan yang dilakukan laki-laki di depannya.
"Apa..yang wanita cantik ini lakukan..begitu nikmatkah kontol itu?" Itulah yang ada dipikiran bu Melisa saat melihat bu Ernita tersenyum ketika mang Yono memukul-mukulkan batang kemaluan besarnya di wajah guru bahasa inggris tersebut.
"Uh..apa..besar..ya, kontol itu memang sangat besar..nikmatkah?" Kembali pertanyaan terbersit dipikiran bu Melisa.
Dilema terjadi didalam pikirannya, melihat batang kemaluan mang Yono yang hitam, besar dan berotot mengacung keras serta mengkilap akibat air liur bu Ernita yang dari tadi memanjakannya. Apalagi sudah tiga bulan ini bu Melisa tidak melakukan persetubuhan kerena suaminya adalah seorang pelaut. Di tengah-tengah kekalutannya, bu Melisa dikagetkan oleh sesuatu yang memasuki vaginanya. Tanpa sadar kemejanya telah dilucuti oleh pak Risman, begitupula dengan BH hitamnya yang kini terlihat tegeletak di lantai ruangan tersebut.

Mang Yono
Kini posisinya tengah mengangkang di atas sofa, roknya kini sudah tergulung menggantung di pinggangnya, payudara kanannya tengah dihisap pak Risman dengan rakus, sedangkan payudara kirinya sedang diremas tangan kiri pak Risman yang mendekapnya dari belakang. Sementara itu, vaginanya yang mulai becek sedang ditusuk-tusuk jari tengah pak Risman.
"Aahhh...ough...tidak..bangsattt kamu Risman.." Lenguhan bu Melisa terdengar memilukan ketika jari tengah pak Risman memaksanya mendapatkan orgasme.
Pak Risman tampak terkekeh menjijikan mendapati jari serta telapak tangannya dilumuri cairan putih kental yang menyembur dari vagina bu Melisa.
"Hehe..katanya gak mau..tapi muncrat juga..enak ya bu" tanya pak Risman melecehkan bu Melisa.
"Anjing kau Risman..haah..haah.." Jawab bu Melisa terengah-engah.
Mendengar jawaban bu Melisa, kepala sekolah mesum itu kembali mengocokan jari tengah gemuknya di vagina bu Melisa yang kembali melenguh-lenguh. Sesaat kemudian lenguhannya tertahan dikarenakan bu Ernita kini memagu-magut bibirnya. Bu Ernita kini berada di atas sofa dengan posisi menungging. Di belakangnya mang Yono menancapkan batang kemaluan besarnya di vagina guru bahasa inggris tersebut dan langsung mengocoknya dengan kasar. Kenikmatan yang bu Ernita dapatkan dari hujaman batang mang Yono ia lampiaskan terhadap bu Melisa yang kala itu kembali dilanda orgasme. Selang beberapa menit giliran bu Ernita yang mendapatkan orgasme hebat dari genjotan mang Yono. Itu merupakan orgasmenya yang ke 5 di hari itu yang ia dapatkan dari orang yang sama, hingga ia merasa badannya sudah tak bisa lagi dipakai untuk melayani pejantannya. Sebelum ambruk di atas sofa bu Ernita meminta bantuan kepada bu Melisa.
"Tolong saya bu..tolong gantikan saya untuk memuaskan mereka" ucap bu Ernita kepada bu Melisa.
Entah merasa iba dengan bu Ernita, atau memang bu Melisa menginginkan bersetubuh dan menikmati batang-batang besar milik kedua pejantan itu, kini ia tak menolak ketika disuruh pak Risman untuk menunggangi batang kejantanan mang Yono yang kini tengah duduk selonjoran di atas sofa di pinggir bu Ernita yang meringkuk kelelahan. Tampak bu Melisa menengadahkan kepalanya dan dengan mulut terbuka mengeluarkan desahan tertahan ketika mili demi mili batang kejantanan mang Yono yang ia pegang dengan jari-jari lentiknya memasuki vaginanya yang becek dan licin. Selang beberapa menit, sudah mulai terlihat bu Melisa dengan semangat menghentak-hentakan pinggulnya, menyerahkan vaginanya diobrak-abrik batang kejantanan mang Yono. Desahan penuh kenikmatan yang kini dihiasi senyum yang mengembang di bibir merahnya mengiringi suara tumbukan kedua alat kelamin tersebut. Ketika sedang asik menunggangi mang Yono, bu Melisa dikagetkan oleh batang kejantanan yang tak kalah besar dengan batangnya mang Yono yang menyentuh-nyentuh bibirnya.

Ia menengadah ke atas dan terlihat pak Risman tengah menyeringai menjijikan terhadapnya sambil tangannya mengelus-elus kepalanya. Mengerti dengan keinginan kepala sekolah mesum itu, bu Melisa langsung memperlihatkan kebolehannya menyenangkan laki-laki. Ia mulai menjilati batang kejantanan pak Risman dari biji sampai ujung kepalanya dengan telaten hingga tak ada yang terlewat sedikitpun, lalu setelah itu ia mengulum kepala kejantanan pak Risman dan mengurut lembut batangnya hingga membuat pak Risman melenguh.
"Ouuuh bu..bu Melisa hebat sekali manjain kontol saya...udah kayak pelacur beneran..ahhh" ucap pak Risman ditengah-tengah kenikmatan yang ia dapatkan.
Namun bukannya marah mendapatkan pelecehan tersebut, hati bu Melisa malah merasa senang dengan ucapan pak Risman itu.
"Oh...beginikah yang dirasakan para pelacur itu..haaaah...sangat nikmat" itulah kata-kata yang ada di benak bu Melisa saat itu.
"Terima kasssih pak Risman...saya memang pelacur pak" tanpa sadar kata-kata itu meluncur dari mulut bu Melisa, hingga ia mendapatkan orgasmenya yang hebat.
Setelah orgasme bu Melisa mereda, pak Risman beralih ke belakang bu Melisa. Ia mngorek-ngorek lubang anus milik bu Melisa dengan jarinya serta sesekali meludahinya. Menyadari apa yang akan dilakukan kepala sekolah itu bu Melisa sedikit kaget.
"Oh...pak jangan disitu, sakkkiiit" tolak bu Melisa. Namun pak Risman tak mendengarkan penolakan itu, kali ini ia sudah menempelkan ujung batang kejantanannya di lubang yang mengerucut itu. Perlahan-lahan ia mendorong batang kejantanannya tersebut dengan diiringi lenguhan yang terdengar memilukan.
Tak memberi waktu untuk menghela nafas, pak Risman langsung menggenjot dengan brutal anus bu Melisa yang terus menjerit-jerit. "Ampuuun..oh..oh..panas..ahhh" ungkap bu Melisa merasakan dinding lubang anusnya seperti terbakar.
Tapi setelah beberapa menit, rasa perih, sakit dan panas itu mulai hilang. Kini yang dirasakan bu Melisa adalah rasa nikmat yang tiada tara yang ia dapat dari kedua batang besar yang menyumpal lubang vagina dan anusnya.
Persetubuhan ketiganya terus berlanjut dengan berganti-ganti gaya maupun posisi. Kini bu Melisa sudah ketagihan batang kemaluan besar mang Yono dan pak Risman, bahkan ia rela melakukan adegan lesbian dengan bu Ernita demi membangkitkan gairah pejantan-pejantannya yang saat itu menonton kebinalannya beradegan lesby bersama bu Ernita dengan batang-batang yang layu di selangkangannya masing-masing.

to be continued...
by: Lagimabok