Tampilkan postingan dengan label Karya Ninja Gaijin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Ninja Gaijin. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2015

Demi Tugas 5 (Final)

Juanisa
Hujan menyambut kembalinya Nisa ke kota. Tapi ke mana tujuannya? Rumah orangtuanya sendiri sudah tidak lagi menyambutnya. Keluarga besar? Kejadian barusan sudah menghancurkan kepercayaannya pada keluarga besarnya. Dengan uang tersisa, Nisa mencari angkutan ke tempat tinggalnya yang terakhir, asrama polwan. Sesudah kasus Ryoko selesai, Nisa memang kembali ke sana. Tapi dia hanya mendapat sodoran tas berisi barang pribadinya dan komentar dingin dari penjaga di depan.

“Karena sudah dipecat, Anda sudah tidak berhak tinggal di sini lagi. Ini barang-barang Anda.”
 Satu lagi tujuan Nisa. Kombespol Bambang Harjadi. Nisa nyaris kehabisan uang. Tapi dia berhasil sampai juga di rumah besar Bambang Harjadi yang sepi. Lagi-lagi…
“Bapak tidak ada di tempat, sedang ke luar negeri,” kata bintara penjaga rumah dari balik kaca sempit pos jaga.
“Kapan pulangnya?”
“Maaf, Mbak ini perlunya apa ya? Bapak ke luar negeri untuk tugas negara. Kalau tidak ada keperluan penting, saya tidak bisa bantu.”
Nisa tidak bisa bertanya lebih lanjut karena si penjaga langsung menutup tirai jendela kaca pos jaga.
Habis…! Sesudah institusi dan keluarga, Bambang Harjadi pun telah meninggalkannya. Tidak ada lagi manusia yang mau menolong Juanisa. Dengan langkah gontai dan jiwa terguncang dia berjalan terseok menjauhi rumah Kombes Bambang, aliran air matanya tak terlihat di tengah guyuran hujan lebat.

Andai ada Ryoko…
Ryoko sudah kau khianati!
Tapi dia penjahat!
Apa bedanya dengan dirimu? Biarpun penjahat, justru Ryoko tak pernah mengkhianatimu kan?
Mana orang-orang baik? Mana keluargamu? Mana lembagamu? Mereka orang baik kan? Bukankah justru orang-orang baik mengkhianatimu?

Hampir dua jam Nisa berjalan tak tentu arah, dan hujan tetap turun dengan deras. Nisa sudah tak peduli lagi, ia benar-benar kehilangan pegangan. Berkali-kali dia terpeleset, dan terciprat ketika kendaraan melintas di sampingnya. TEET TEEET! Nisa menoleh. Seorang pengendara motor berada di sebelahnya, dan berkata kepadanya,
“Ojek, Non?”
Sejenak Nisa tertegun. Lalu dia memutuskan untuk naik ojek itu. Ke manapun dibawa, dia tak peduli…
“Ke mana?”
Nisa menggumam tak jelas. Tapi si tukang ojek seolah mengerti… dan ojek pun melaju menembus hujan, di tengah kota yang menuju senja.

*****
Menjelang malam

“Pemirsa. Skandal penggerebekan jaringan prostitusi Ryoko yang melibatkan oknum polwan kembali membuka babak baru ketika beberapa hari ini di masyarakat mulai beredar video porno yang diduga dibintangi JP, oknum polwan tersebut. Meski demikian Kepolisian menyatakan video itu tidak ada hubungannya dengan kasus ini dan bukan melibatkan JP. JP sendiri diketahui telah diberhentikan secara tidak hormat karena terbukti melakukan pelanggaran kode etik…” Siaran berita malam terus menayangkan hal-hal yang menohok Nisa.
“Maati’iiin TV-nyaaa…” suara Nisa mengeluh panjang ditingkahi gelak tawa beberapa laki-laki.
Mereka semua sedang berada di satu warung kecil di kawasan kumuh, di tengah asap rokok, kulit kacang, dan botol-botol minuman keras. Nada bicara Nisa melantur karena dia sendiri sudah tak kuat mengangkat kepalanya dari meja. Dia mabuk. Dia dibawa ke warung itu oleh si tukang ojek dan dibikin mabuk.
“Eh gue ada videonya yang ada di tivi itu loh!” seru seorang laki-laki di dekat Nisa. “Gue dikasih sama si Kus tukang pulsa di depan. Mau nonton nggak?”
Teman-temannya merubung. Orang itu memutar video di HP-nya. Bunyinya diperkeras. Dan terdengarlah desah nafsu Nisa di dalam warung itu.
“Oh! Ahh! Entot akuu!! Ngh! Nguhh!”
Para laki-laki itu, tukang ojek, preman, pedagang asongan, tukang parkir, pengangguran, tertawa dan berkomentar jorok melihat hiburan kecil di tengah dinginnya hujan yang berlanjut sampai malam dan mengguyur warung itu.
“Eh Non, mau ikut lihat film seru nggak?” Si tukang ojek yang tadi memboncengkan Nisa mengangkat kepala Nisa sehingga Nisa bisa melihat video di HP temannya.
Seorang temannya lagi, sepertinya preman, mengelus paha Nisa. Nisa yang mabuk tak kuasa melawan ketika dipermainkan seperti itu. Di atas meja warung juga ada koran murahan yang memajang beberapa foto Nisa ketika sedang menyamar menjadi pelacurnya Ryoko. Video itu jelas dari kamera video Ryoko yang disita pada saat penangkapan di pelabuhan, dan foto-foto berasal dari penyelidikan Savitri. Andai Nisa masih berpikiran jernih, dia layak curiga dengan bocornya semua bukti itu ke pers—pasti ada permainan orang dalam. Namun bergelas-gelas minuman keras sudah mengaburkan akalnya. Si preman meraih wajah Nisa dan menciumnya dengan paksa. Bau alkohol di satu mulut bertemu bau alkohol di mulut lain. Teman-temannya malah tepuk tangan dan menyemangati. Mereka tidak tahu, tidak peduli, siapa perempuan cantik kebingungan yang dibawa si tukang ojek ke tempat nongkrong mereka itu. Alkohol dan video porno memancing birahi mereka dan kebetulan ada perempuan…
“Lonte yang lu bawa cakep ya. Mirip sama yang di video!” kata si pemilik HP.
“Sembarangan lu, yang di video kan polwan?”
“Eh udah tengah malem nih. Gue mau tutup!” kata seseorang, sepertinya pemilik warung. “Ayo bayar, jangan pada ngutang! Lu pada buka botol aja sampai sepuluh…”
Si tukang ojek lalu bilang, “Sori Bang, gue kagak ada duit. Ni cewek aja numpang nggak bayar. Tapi kalo gue bayar pake dia aja gimana?”
“Maksud lu apa bayar pake dia?” kata si pemilik warung.
“Lu boleh pake ni cewe semau lu, gimana?” si tukang ojek menawarkan.
Sementara si tukang ojek berusaha ‘menjual’ Nisa, si preman terus menciumi dan menggerayangi Nisa. Dia lalu memaksa Nisa meminum segelas miras lagi.
“Oke,” kata si pemilik warung sambil memperhatikan tamu perempuannya yang mabuk itu. “Tapi gue duluan yang pake dia. Gue kagak mau bekas elu pada.”
“Tutup dulu warungnya,” kata si tukang ojek. Si pemilik warung langsung menutup pintu dan jendela warung. Orang-orang di sana menyingkirkan semua yang ada di atas meja, lalu mengangkat tubuh Nisa dan menaruhnya telentang di atas meja, disiapkan untuk menjadi tempat pelampiasan nafsu.

*****
Pagi...

Nisa terbangun dari tidur dengan kepala sakit, hangover. Tubuhnya terasa linu, seluruh ototnya pegal. Dapat dia rasakan kulit punggungnya menyentuh alas kayu—Dia sadar dia tertidur telanjang. Pelan-pelan dia membuka mata dan dilihatnya cahaya matahari yang sudah agak tinggi.
“Ahh...” rintihnya, merasa kepalanya sakit.
“Sudah bangun?” terdengar suara perempuan di dekatnya.
“Kepala... sakit...” keluh Nisa.
“Kebanyakan minum sampai ketiduran di sini ya?”
“Auhh... ngga tau... Badan... sakit semua...” Nisa cuma bisa bicara putus-putus. Dia belum melihat siapa perempuan yang bicara dengannya.
“Sampai ga pake baju gini. Ayo, bangun, pake baju dulu.”
Nisa bangun dengan susah payah, lalu memakai lagi bajunya yang berserakan. Dia pun sadar di dalam vaginanya ada sisa-sisa sperma. Dia teringat kejadian-kejadian serupa ketika masih menyamar, dia tertidur sesudah melayani laki-laki, ditinggal begitu saja dengan benih mereka dalam dirinya.
“Ada... kamar mandi di sini?”
“Ada air di belakang,” kata si perempuan sambil menunjuk. Nisa kini bisa melihat dia: perempuan 40-an dengan rambut keriting, wajah keras yang masih sedikit menyisakan kecantikan, tank top lusuh, dan kuku bercat merah yang tak rapi.
Nisa menuju belakang warung, di sana ada WC jongkok sederhana yang jorok dengan ember dan gayung. Menahan jijik, dia membersihkan diri seperlunya, lalu kembali ke tengah warung.
“Katanya Alip kamu mau nyari kerja di wisma?”
“Alip? Wisma?”
“Tukang ojek. Tadi pagi dia bilang bawa kamu ke sini katanya kamu mau nyari kerja.”
Nisa agak bingung.
“Bingung? Baru pertama ke sini yah? Tempat ini namanya Kalirotan,” si perempuan menjelaskan, sambil menyalakan rokok.
“Kalirotan. Oh...” Nisa tahu nama itu. Nama salah satu lokalisasi kelas bawah di kotanya. Statusnya setengah legal.
“Oh iya kenalin. Nuri...” kata perempuan itu sambil menyalami. “Bener mau kerja di wisma? Kamu lumayan cakep. Di tempatku aja mau?”
Nisa termenung mencerna tawaran perempuan itu.

*****
“NGENTOT!!”
“MINGGAT LU BANGKE!!”
BUKK! BRAK! DUGG!!
Seorang laki-laki terjatuh di jalanan. Dua orang laki-laki lain menendang dan menginjaknya. Laki-laki yang jatuh itu susah payah berdiri dan akhirnya berhasil kabur. Dua orang yang menyerangnya memaki-maki.
“Ooii ribut-ribut apa sih itu?” teriak Mami Nuri dari dalam warung tendanya.
“Orang main ga bayar Mbak!” orang yang tadi menendangi berteriak membalas.
“Berisik amat sih,” omel Mami Nuri sambil melongok ke jalan. Seorang laki-laki berdiri di luar warung. Bapak-bapak setengah baya, kumisan, dengan rambut tipis dan kemeja lusuh. Tampangnya seperti pegawai rendahan, laki-laki yang gagal meraih sukses padahal umur produktifnya hampir habis. Tetap saja Mami Nuri menyambutnya dengan baik, mempersilakannya duduk di sofa depan dan tanpa diminta langsung membukakan botol minuman. Mami Nuri lalu memanggil anak buahnya. Lima orang perempuan langsung mendekat dan memajang diri di depan si bapak. Bentuk mereka bermacam-macam, dari ABG kurus kering sampai STW montok. Bau macam-macam parfum murahan bertabrakan di hidung si bapak. Para pelacur kelas bawah itu berusaha tampil seksi, mengumbar belahan dada dan paha, namun kesan murahan tidak bisa hilang. Tapi si bapak merasa ini malam keberuntungannya. Di lokalisasi kelas bawah yang dia kunjungi itu, ternyata ada juga yang lumayan. Dia menunjuk perempuan yang berada di tengah. Perempuan itu mengenakan blus tanpa lengan putih tipis dengan bra hitam berenda membayang di baliknya, rok superpendek kotak-kotak, sepatu hak tinggi. Rambut panjangnya dikuncir ekor kuda, sehingga sepasang telinganya yang digelantungi anting lingkaran terlihat. Meski dandanannya semenor yang lain, dengan bedak tebal, lipstik merah, eyeshadow biru, dan bulu mata palsu, wajahnya tetap lebih cantik. Si bapak memilih dia. Si bapak memilih Nisa. Sudah dua minggu Nisa berada di sana, melacur di warung remang-remang Mami Nuri. Dia benar-benar merasa tak punya harga diri lagi sesudah dipermalukan di mata publik, dipecat, dibuang orangtua, dikhianati keluarga, dan terakhir digilir oleh sekelompok begundal kelas teri ketika mabuk. Maka dia pun tak berpikir macam-macam ketika Mami Nuri menawarkan pekerjaan. Dia tak lagi merasa dirinya perempuan baik-baik. Apalah lagi dia selain seperti yang dituduhkan seluruh dunia, semua orang kepadanya? Dia pelacur. Lonte. WTS. Di sinilah tempat yang pantas baginya, di mana semua orang di dalamnya tak punya harga diri. Di mana semua perempuannya mengangkangkan kaki demi uang. Nisa tersenyum dan menggandeng si bapak keluar dari warung remang-remang Mami Nuri, sesudah si bapak membayar minuman yang tidak diminta dan harganya kemahalan. Mereka menuju kamar tempat kencan—sebenarnya tenda tertutup dengan ranjang bambu dan kasur di dalamnya. Dari tenda-tenda lain terdengar desahan dan rintihan palsu para pelacur murahan yang sedang bekerja. Satu-dua preman berjaga di sana. Seperti itulah kehidupan Nisa sekarang, hakikatnya sama dengan pekerjaannya di bawah Ryoko dulu, namun kelasnya jauh berbeda. Dari kamar hotel bintang lima ke warung tenda. Dari jutaan ke seratusan ribu. Dari pengusaha, pejabat, petinggi ke sopir, kuli, preman. Nisa tak repot-repot mengajak bicara atau berkenalan si bapak, dia langsung melucuti pakaian laki-laki hidung belang itu, kemudian menelanjangi diri. Untuk memancing nafsu, dia menciumi sekujur tubuh si bapak yang langsung berbaring di ranjang. Tangan, lengan, ketiak, leher, belakang telinga. Turun ke dada, perut, dan akhirnya kemaluan. Si mantan polwan langsung menjulurkan lidahnya dan menjilati kepala burung si bapak seperti menikmati lolipop. Keahlian blowjobnya yang sangat terasah ketika bekerja untuk Ryoko tak hilang. Sesudah membasahi seluruh kepala burung itu dengan liur, lidahnya bergerak turun sepanjang batang, menggelitik pelir, dan turun terus sampai lubang anus. Si hidung belang merasa geli-geli nikmat dibegitukan, dia benar-benar beruntung mendapat servis kelas tinggi di tempat murahan itu.
Lalu Nisa mengangkangi tubuh si bapak dan menancapkan penis yang basah dengan liur itu dalam vaginanya.

Dia sudah tidak berpikir menggunakan kondom—dia tak peduli lagi dengan dirinya, tak peduli risiko hamil ataupun penyakit. Nisa tersenyum palsu selagi dia mulai menggoyang-goyang tamunya pelan, lalu dia menundukkan tubuh ke depan sambil merangkul kepala si bapak agar menikmati payudaranya. Si bapak dengan bahagia menyusu kepada Nisa. “Uhhh!! Isep Mas!” rayu Nisa.
Yang agak di luar dugaan, ternyata ereksi si bapak tahan lama. Nisa menggenjotnya sampai dia sendiri orgasme, tapi tamunya tetap tegang. Mereka kemudian tukar posisi jadi misionaris, dan si bapak menggenjotnya cukup lama, mungkin 20 menit, sampai dia mandi keringat dan si bapak pucat.
“Kok gak keluar-keluar sih! Pake obat kuat ya?” maki Nisa kesal. Si bapak nyengir. Ternyata kejantanan hasil dibeli dalam bungkusan! Sekali lagi Nisa orgasme, tapi dia tak menikmatinya. Vaginanya sudah terasa kering karena kelamaan dipakai.Akhirnya si bapak ejakulasi juga, meski disambut wajah cemberut Nisa. Sialan! Umpatnya dalam hati. Bapak itu menaruh uang di atas ranjang dan mengeloyor pergi. Nisa terkapar mengangkang, nyeri. Namun pekerjaannya belum selesai. Kecantikan alami Nisa telah membuat para lelaki hidung belang menyemut ingin menikmati kemulusan tubuhnya. Dan baru saja Nisa bangkit dan mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bugilnya, pintu bilik tempat pertempurannya tadi sudah membuka dengan paksa. Tiga orang preman mabuk dan berwajah sangar masuk dengan seenaknya, Salah seorang dari mereka yang sepertinya pemimpin gerombolan itu lalu membuka resleting celana jeans lusuhnya. Nisa masih terlalu lemah untuk melawan, selangkangannya masih perih setelah digempur penis bandot tua pelanggan sebelumnya, dan ia memang tak ingin lagi melawan. Ia membiarkan saja si preman menjambak rambutnya, memaksanya berlutut di lantai yang hanya diaci seadanya. Lututnya sedikit sakit karena terbentur semen kasar, dan perih ketika ia dipaksa beringsut mendekati selangkangan sang preman. Preman itu sama sekali tidak berperasaan, dengan kasar ia menjejalkan penis kotor dan bau miliknya ke dalam mulut indah sang gadis yang kini tersedak, dan berusaha sebaiknya untuk memuaskan lelaki yang telah membayar tubuhnya untuk memberikan pelayanan terbaik. Sementara dua temannya mulai menelanjangi diri mereka sendiri, lalu mulai mengelilingi Nisa... lalu memaksa sang gadis men-deepthroat penis mereka juga. Ah... seandainya Nisa tahu kalau para preman itu sama sekali tak membayar satu rupiah pun untuk menikmati tubuh indahnya! Seandainya Nisa tahu kalau Mami Nuri sekarang sedang mengurut dada karena harus membiarkan primadonanya dijadikan upah uang keamanan yang memang rutin ditagih para preman.  Dan Mami Nuri hanya bisa mendesah mendengar rintihan Nisa, erangan sang gadis, serta jerit tertahan perempuan itu seiring tubuhnya yang diperlakukan bagai binatang oleh ketiga preman. Akhirnya Mami Nuri hanya bisa terisak pelan ketika ia masuk ke dalam kamar dan melihat Nisa telentang pingsan tak berdaya, semprotan sperma memenuhi wajah, payudara dan bagian tubuhnya yang lain... Vagina sang gadis memar, dan anusnya membuka...

*****
Hampir lima bulan Nisa menjalani profesi sebagai pelacur kelas teri. Namun kecantikannya tak pudar, bahkan kenggunannya makin terpancar walau ia tak mengenakan banyak riasan seperti rekan-rekannya yang berdandan sangat menor demi menarik perhatian lelaki hidung belang. Riasan Nisa yang sederhana, bahkan nyaris tak bermake-up malah membutanya menjadi sangat anggun, dan menyebabkan banyak lelaki yang menginginkan pelayanan dari dirinya. Kecantikan alaminya, kepasrahan total yang dilakukannya membuat pelanggannya begitu menyukai dirinya. Dan begitu total pelayanan yang diberikan Nisa hingga para pelanggannya tak lagi mengetahui kalau sang gadis mulai memalsukan orgasmenya. Ya, seperti pada umumnya para pelacur yang terlalu sering melayani laki-laki, Nisa pun mulai merasa rangsangan pada vaginanya mulai berkurang... hingga ia mulai berakting untuk membuat para tamunya merasa bagai laki-laki hebat. Walau kenyataannya jika bukan karena obat kuat, maka dalam hitungan 3 sampai 5 menit maka para lelaki itu sudah berejakulasi dalam rahimnya...
Dan selama lima bulan itu, kepopuleran yang diperoleh Nisa mulai membuat seorang pelacur yang sebenarnya masih lebih muda dari Nisa merasa tersaingi. Karena sebelum Nisa datang dirinya-lah primadona di seluruh kompleks Kalirotan.
"Bang..." desah Mira, pelacur belia itu sambil membelai dada bidang Margo, kepala preman Kalirotan yang sangat disegani.
"Apa?" kata Margo pelan namun dengan nada tegas.
"Aku ngga suka sama si Nisa..." desah Mira dengan manja, bibirnya yang bergincu merah manyun bagai anak kecil yang ingin diperhatikan.
"Nisa yang mana?" tanya Margo sambil lalu, walau sebenarnya ia sudah bisa menebak perempuan mana yang disebut Mira, karena ia sendiri telah beberapa kali mencicipi kehangatan dan pelayanan total sang gadis yang diberikan secara cuma-cuma sebagai bonus pembayaran uang keamanan dari Mami Nuri. Termasuk ketika dengan tanpa jijik dan risih perempuan itu menjilat bersih penisnya yang baru saja menghamburkan benih di anus sang gadis...

"Itu, bang... yang di tempat Mami Nuri...."
Iya... aku tahu…  ujar Margo dalam hatinya. Ia kini dalam dilema.
Bagaimana tidak, lima bulan yang lalu, ketika ia sedang menunggu anak buahnya menyetor hasil keamanan di warung langganannya, mendadak kepalanya ditutup kantung hitam dan sebuah sengatan taser di uluhatinya membuatnya limbung sehingga ia tak bisa melawan ketika diseret ke dalam mobil dan dibawa pergi dari Kalirotan. Sinar lampu yang diarahkan ke wajahnya membuatnya silau. Tangannya terborgol ke belakang kursi. Margo sudah tak aneh lagi dengan ruang interogasi. Ia sudah beberapa kali harus duduk dalam ruangan seperti itu, bernegosiasi untuk keamanan Kalirotan yang sesungguhnya...
Namun kali ini permintaan, bukan... perintah yang diterimanya cukup unik. Ia malah belum mengenal siapa interogatornya kali ini. Suara pria itu begitu dalam, bahkan ia pun mengakui kalau ia jadi menaruh hormat pada orang itu.
"Margo, sekarang ini di Kalirotan ada orang baru, namanya Juanisa Putri,” kata lelaki itu sebagai permulaan. Margo yang biasanya tak sabaran dan berani melawan kini memilih menyimak.
"Ia sekarang tinggal di tempat Nuri. Aku mau, kau awasi dia... Kau dan anak buahmu boleh memakai dia sebagai jasa uang keamanan seperti yang biasa kau lakukan."
Hembusan cerutu cuba menerpa wajah Margo. Orang ini hebat, pikir Margo... ia bertemu lawan yang jauh lebih tangguh daripada dirinya.
"Anak buahku juga akan sering datang seperti biasa, meminta jatah darimu... dan kamu akan antar mereka untuk menikmati perempuan itu. Aku mau perempuan itu dijarah habis-habisan... kau harus atur hingga tamunya jadi lebih banyak dari tempat yang lain, walau sebenarnya tanpa bantuanmu pun dia sudah pasti akan jadi primadona di sana... Sebarkan berita, sebarkan tentang dirinya... kecantikannya, kemolekannya..."
Maro akhirnya memberanikan diri untuk bertanya... "Kenapa kau ingin menghancurkan perempuan itu begitu rupa... apa salahnya padamu?"
Lelaki itu menjawab, "Aku ingin menghancurkan dirinya, hingga bila waktunya sudah tiba... ia akan patuh seutuhnya pada diriku... Namun, seblum ia mendapatkan posisi yang terhormat di telapak kakiku... ia harus merasakan apa itu namanya neraka dunia, apa itu neraka jahanam..."
Margo bergidik. Lelaki ini gila, pikirnya.

*****
Dering Sony Experia Ultra hasil curian bergetar halus di samping meja butut dalam kamar Margo, dan membuat Margo kembali ke alam sadarnya. Ia mengambil HP itu dan tertegun...
"Ya?" jawab Margo.
"Baik... Siap... Baik... Laksanakan..."
Mira melihat kalau Margo jadi pucat setelah menerima telepon itu... dan Mira belum pernah melihat Margo setakut itu.
"Siapa Bang?" tanya pelacur itu manja. Margo menghalau gadis itu.
"KELUAR!" bentaknya, membuat Mira takut.
"Ada apa Bang?"
"Keluar kataku! Aku mau urus Nisa, kau boleh ikut lihat dia disiksa. Tapi sekarang, keluar!"
Mira segera keluar dari rumah Margo yang sederhana itu, namun hatinya sedikit puas karena ia bisa menghasut Margo untuk menghancurkan Nisa. Ia tak lagi peduli dengan Margo yang kini terduduk pucat.
Percakapan tadi membuat Margo sangat takut. Lelaki itu benar-benar iblis...
"Margo... tentunya sekarang Mira sudah memberi tubuhnya padamu sebagai bayaran untuk menghancurkan Nisa..." kata lelaki itu, yang membuat Margo terdiam.
Bagaimana ia bisa tahu?
"Kau akan melakukan apa yang ia minta... kau bawa Nisa ke gudang kosong, ajak kesepuluh panglima wilayahmu... silakan siksa Nisa, perkosa habis-habisan, tapi jangan sampai dia mati... Kau boleh ajak Mira, biar dia juga ikut menyiksa Nisa untuk melampiaskan dendamnya..."
"Namun satu saja perintahku kau langgar... MATI!"

*****
Nisa yang sedang belanja sayuran, hanya mengenakan tank top dan celana pendek, tak terlalu memperhatikan Mira yang datang mendekatinya. Ia menganggap wanita itu sama seperti dirinya... hanya penampungan sperma.
"Eh Nisa..." sapa Mira berlagak ramah. "Belanja?”
Nisa hanya tersenyum simpul, ia sedang tidak ingin berbasa-basi. Bahkan sebenarnya ia sendiri tak banyak memiliki teman di Kalirotan. Ia menjadi lebih tertutup dalam pergaulan. Yang ia ingin lakukan hanyalah membuka pahanya lebar-lebar, dan membiarkan para lelaki hidung belang kelas teri menikmati vagina, lubang anusnya dan mulutnya secara maksimal.
"Nisa... saya mau minta tolong sebentar, saya mau ambil barang di gang sebelah, saya males sendiri... maklum banyak yang suka godain, hihihi!"
Nisa yang enggan ingin sekali menolak, namun Mira mencekal lengannya dan menariknya ke tempat yang agak sepi sebelum menodongkan pisau ke pinggang Nisa.
"Ikut gua, anjing! Atau gua tusuk elo di sini!" bentak Mira.
Nisa terpaksa mengikuti langkah Mira ke arah gang yang ia tahu merupakan bagian terkejam di Kalirotan, dan tak ada satupun PSK yang cukup waras untuk menjajakan diri di tempat itu...
Mira  mendorong Nisa masuk ke dalam satu rumah yang lebih mirip gudang, Dorongannya cukup keras sehingga Nisa terjerembab jatuh masuk ke dalam rumah yang gelap itu. Ketika sang gadis bangkit, ia dapat mendengar kalau pintu di belakangnya ditutup. Untuk sekejap, kegelapan total.
Byaaaar! Nyala lampu yang mendadak itu membuat sang gadis mengerjap karena silau. Dan ketika ia sudah bisa memperoleh kembali pengelihatannya. Margo dan sepuluh panglimanya telah mengepungnya. Mira kemudian melangkah ke tengah lingkaran, ia mendekati Nisa dan…
PLAK! Tamparan keras sang pelacur yang tak disangka oleh Nisa membuat Nisa terhuyung. Lalu pukulan dan tendangan bertubi-tubi Mira membuat Nisa terjengkang. Mira yang seakan kesetanan menerjang Nisa yang terjengkang, jatuh terlentang di lantai gudang. Mira menduduki perut Nisa, dan dengan membabi buta memukuli wajah Nisa, menjambak rambut gadis itu, dan membenturkannya ke lantai gudang. Cakaran Mira yang sengaja mengincar wajah Nisa meninggalkan bekas di wajah mulus sang mantan polwan. Pada awalnya Nisa memilih pasrah. Namun nalurinya untuk bertahan kembali muncul. Begitu mendapat peluang, Nisa segera memberikan perlawanan. Ia balas mencakar, menjambak, meninju dan menendang Mira. Para lelaki tertawa melecehkan, ya... kecuali Margo...Ia memandang gaya perkelahian kedua pelacur di hadapannya itu.... terutama Nisa, pelacur yang sangat diperhatikan oleh sang perwira.
“Aneh... gaya berkelahinya begitu biasa”, batin Margo... “Malah lebih mirip pelacur berkelahi....”
Ya, Nisa kini tak lagi bertarung bagai seorang polwan. Ia kini hanya bertarung berdasarkan naluri survival... dan ini cukup mengherankan Margo, yang mengharapkan kalau pelacur yang sangat diperhatikan ini memiliki keahlian bertarung yang bisa membuat sang perwira terkesima. Namun, sesederhana apapaun Cat Fight yang tersaji, jelas nampak kalau Mira mulai kewalahan. Nisa sendiri mulai nampak kembali ke style bertarungnya yang dulu.

Margo memberi tanda kepada seoang anak buahnya yang dengan sigap menelikung Nisa, menjambak rambutnya hingga sang gadis meringis dan mengaduh kesakitan. Mira menyeka darah dari bibirnya yang terluka oleh tonjokan Nisa, merapikan rambutnya yang kusut sambil mendekati sang gadis yang meronta kesakitan.
BAM! Mira menghajar wajah Nisa, menyebabkan bibir pecah.
BAM! Pelipis sang gadis.
BAM! Hidung Nisa... hingga mimisan...
dan
SCRATCH! Kuku Mira yang cukup panjang menggores wajah Nisa hingga meninggalkan guratan melintang dari kening kanan ke pipi kiri hingga ke rahang  sang gadis. Mira tersenyum iblis melihat wajah Nisa yang sudah dibuatnya cacad itu. Namun ia belum puas... Ia mengepalkan tangannya dan…
BUGH! Nisa sampai muntah dan megap-megap. Mira menghajar telak di uluhatinya. Panglima Margo melepaskan sang gadis yang segera jatuh terduduk, dan Mira memberikan tendangan keras ke rusuk sang gadis, menyebabkan Nisa terjengkang dan meringkuk kesakitan.
"Mira! Cukup!" suara Margo yang tegas menghentikan langkah Mira.
Ternyata Mira sudah menggenggam sebilah pisau cutter. Tadi cutter itu digunakan untuk menodong Nisa. Mira memandang Nisa yang merintih menahan sakit di perutnya. Tangan yang menggenggam cutter itu bergetar... Dan Mira melangkah maju. Kini Margo sendiri yang menghajar Mira dangan sekuat tenaga. Sang gadis terjengkang, menjerit kesakitan. Ia memerintahkan lima panglimanya untuk memberi pelajaran pada Mira, yang kini beringsut ketakutan. Samar-samar Nisa mendengar pukulan, tendangan, jerit Mira, bunyi cabikan pakaian. Namun kini ia harus memikirkan dirinya sendri yang tidak lebih baik. Margo mendekati dirinya bersama lima panglimanya yang lain. Ia mencoba merayap menjauh, namun sebuah kaki yang menginjak telapak tangannya dengan keras membuatnya menjerit kesakitan.
Nisa memandang belati komando yang dipegang Margo, belati dengan baja pilihan yang sangat mengkilat. Dengan tubuh tertelungkup, Nisa haya bisa merinding merasakan dinginnya baja yang digesekkan di balik celananya. Baja dingin itu menjalari pantanya yang sangat digilai banyak lelaki yang menikmati tubuhnya... bokong sekal yang seakan menggoda setiap lelaki untuk meremasi bongkahan itu, menamparinya, mengigitinya, bahkan menjilatinya... Dan terutama lubang indah yang seakan tak pernah membuka lebar itu yang menjadi pelabuhan penis-penis yang sangat jarang memperoleh kenikmatan serupa, baik dari istri sah mereka maupun pelacur lain yang memilih untuk tak membiarkan lubang pembuangan mereka dimasuki penis. Nisa bisa merasakan baja itu mengangkat bahan celana pendeknya, dan bunyi robekan perlahan terdengar, menandakan kalau kini kain penutup selangkangannya mulai tercabik dan membuat selangkangan indahnya terpapar dinginnya lantai gudang yang kotor dan dingin. Dengan tubuh yang masih ditahan tengkurap di lantai gudang kembali Nisa bisa merasakan dinginnya baja belati merayapi punggungnya... kemudian...sreeeeeeek! Bahan tanktop tipis itu tak sebanding dengan kuatnya baja belati, hingga dengan beberapa gerakan saja tubuhnya terpampang bebas di hadapan lelaki bajingan yang selalu memperlakukan para pekerja seks komersial bagai onggokan daging pemuas nafsu. Nisa masih tertelungkup di dinginnya lantai gudang yang kotor dan kasar karena hanya berupa lapisan adukan semen tanpa tegel atau keramik. Payudaranya, perut ratanya, pahanya perih karena tergesek lantai.

Nisa bisa mendengar bunyi sabuk yang dibuka. Ia mempersiapkan dirinya....
CTAAAAR!
Nisa mengigil... tangannya yang dipegangi mengepal dan menggigil... kepala sabuk yang terbuat dari besi itu yang mendera tubuhnya.
CTAAAR!
CTAAAR!
Nisa menjerit sejadinya ketika Margo mengcambuki punggungnya, pantatnya, belakang pahanya...
Dan jeritannya makin kuat ketika Margo memerintahkan anak buahnya untuk membalik tubuhnya, lalu tanpa belas kasihan mencambuki Nisa, di payudaranya, perutnya, rusuknya, dan di vaginanya....
Jerit kesakitan dan teriakan minta ampun Nisa sama sekali tak digubris oleh Margo yang seakan melepaskan kegeraman yang ditahannya selama ini. Ketika lelaki itu selseai, tubuh sang gadis babak belur penuh luka sabetan kepala sabuk, sebagian bilur di tubuh sang gadis mengeluarkan darah.
Margo lalu berlutut di hadapan selangkangan sang gadis, menurunkan celana, dan mengeluarkan penisnya... Lalu dengan seenaknya menghujamkan penisnya ke vagina Nisa yang memar akibat sabetan sabuk yang berulang di sana. Nisa hanya bisa menggeliat kesakitan, penis Margo menerobos kewanitaannya yang kering. Tubuh Margo yang menempel di tubuhnya membuat sang gadis mendesis karena keringat sang kepala preman membuat perih bilur dan luka di tubuhnya. Nisa hanya menggeletar menahan perih ketika akhirnya Margo menarik keluar penis yang telah membuang sperma ke dalam rahimnya.
"Nikmatin tuh perek... sekarang....."
Perintah Margo belum lagi selesai ketika kesepuluh anak buahnya segera merangsek Nisa yang hanya bisa merintih perih, meringis serta menjerit kesakitan. Sementara sang kepala preman sendiri beranjak ke arah sosok tubuh di sudut lain gudang itu. Sosok Mira yang sangat menyedihkan. Pelipis mata sang gadis pecah, hidungnya patah, beberapa giginya tanggal, lengannya nampak patah dan dislokasi.
Pelajaran yang diberikan anak buahnya memang kejam... namun itu perlu. Margo berjongkok dekat tubuh babak belur Mira yang masih bernafas walau hanya sesekali.
"Aku sudah melarangmu, Mira... tapi kamu menentang aku...." katanya sambil bangkit, menarik sebelah kaki Mira menuju pintu belakang gudang. Margo menarik tubuh Mira bagai menarik karung rongsokan ke sebuah kandang di atas panggung yang tertutup terpal.
Margo mengangkat tubuh lemah Mira...
"Lihat baik-baik, Mira... Ini hukuman buatmu," katanya sambil membuka terpal.
Mata Mira yang bengkak sedikit membelalak melihat isi kandang yang bisa menampung dua orang dewasa itu.  Cicit tikus-tikus ganas dalam kandang yang terkejut karena paparan matahari membuat Mira bergidik, Ya... hukumannya baru saja dimulai... dengan tubuh seperti itu, ia tak bisa meronta atau berontak, ia hanya bisa pasrah ketika tubuhnya diangkat Margo dan dicampakkan ke dalam kandang tikus itu. Mira merasakan sakit, namun ia tak lagi mampu bergerak, berteriak atau meronta... Ia hanya bisa merasakan kesakitan tanpa mampu melakukan apa-apa... merasakan tubuhnya perlahan menjadi santapan tikus-tikus kelaparan itu....

*****
Margo memandang anak buahnya yang sedang menggarap Nisa. Dua penis anak buahnya sedang menghajar anus sang gadis secara bersamaan, sementara mulut sang gadis dipaksa mengoral penis demi penis yang disodokkan secara kasar. Vagina sang gadis tak lebih baik nasibnya... seorang anak buahnya sedang menggasak vagina sang gadis dengan kepalannya, dan ia menggerakkan tangannya dengan sangat kasar. Margo memandang ke arah kegilaan di hadapannya, hingga laras sebuah pistol yang menempel di belakang kepalanya membuatnya tersadar. Dan seakan pasukan siluman yang keluar dari neraka, puluhan prajurit dengan seragam kamuflase lengkap menodong kesepuluh anak buahnya. Kini Margo berdiri di hadapan sepuluh anak buahnya yang berlutut dengan tangan berada di belakang kepala. Margo tersenyum bangga melihat ekspresi wajah para kepercayaannya yang tak mengenal takut itu. Ekspresi terakhir yang dilihatnya sebelum sebutir peluru yang menembus dahinya membuat nyawanya terbang meninggalkan tubuhnya. Dan sosok sang bos preman yang berdebam di lantai gudang menjadi gambaran terakhir yang dilihat kesepuluh panglima wilayah yang tak lama juga mengikuti jejak sang pemimpin meninggalkan dunia fana ini dengan rasa bangga telah menjadi bagian kelompok yang sangat ditakuti, yang tak mungkin kalah kecuali dicurangi seperti itu...

****
Pemimpin regu menghampiri sosok yang sedang mengembalikan pistol yang baru saja menghabisi nyawa Margo ke sarungnya.
"Lokasi sudah diamankan, semua ancaman sudah dinetralisir, laporan selesai"
Lelaki itu mengangguk dan pasukan tadi segera keluar gudang. Lelaki itu mendekati sosok tubuh Nisa yang sangat lemah.... Mata Nisa yang tertutup sperma membuka perlahan...
Mulutnya berkata lirih.... "Ba...paaaak?"
*****
Nisa terbangun di ranjang empuk. Ia meraba bagian lengannya yang terasa sakit dan mendapati jarum I.V  di sana. Matanya mengerjap, dan samar-samar ia melihat kamar tempatnya dirawat, rumah sakit dengan fasiitas bagai hotel bintang lima. Perawat silih berganti merawat tubuhnya, memulihkan semua luka. Mereka semua dan para dokter berupaya dengan sepenuh tenaga untuk mengembalikan kondisi Nisa seperti sedia kala. Dan pekerjaan mereka tidak mengecewakan. Ketika Nisa bertelanjang bulat di kamar mandi rumah sakit dan memandang pantulan dirinya di cermin, ia kagum. Tak ada satu cacat pun yang tak diperbaiki, hingga bekas-bekas luka di tubuhnya baru kelihatan kalau diperhatikan dari sangat dekat. Kemudian, dokter yang merawatnya datang dan berkata,
"Selamat Nona, sebentar lagi anda sudah boleh pulang."
Nisa kembali tercenung... Ke mana ia akan pulang? Dengan lesu Nisa memakan makanan rumah sakit dan meminum obat yang diberikan padanya. Dan entah mengapa ia merasa sangat letih.... sangat sangat letih...
****
“Ranjang ini jadi lebih empuk”, batin Nisa sambil membuka matanya...
Dan Nisa melompat bangkit dari tempat tidur itu, segera menjatuhkan diri bersimpuh. Ia menangis sambil memeluk kaki lelaki yang berdiri dengan wibawa tinggi. Laki-laki itu akhirnya datang menjemput.
"Bapaaaak…" tangis Nisa di kaki Kombes Bambang Harjadi, tangis sedih, tangis bahagia....

****
Satu tahun kemudian.

Kombes (Purn) Bambang Harjadi sedang memandang laporan di hadapannya. Ia tersenyum kebapakan pada Nisa yang menyerahkan laporan itu padanya. Laporan rutin saja, mengenai pemasukan dan pengeluaran. Dari jejaring pelacuran yang dulu dikuasai Ryoko, namun sekarang sudah menjadi ladang pemasukan dirinya, dengan hasil yang sangat memuaskan. Dan lebih daripada itu, segala rahasia para klien kini menjadi miliknya, sehingga dia makin hebat dalam berkuasa di balik layar biarpun dia kini telah pensiun. Tidak mengapa mengakhiri karier penegak hukum dengan pangkat terakhir tak mencapai bintang; toh mereka-mereka yang menyandang bintang di bahu bisa dia pegang sewaktu-waktu, karena semua kartu ada di tangannya. Tahun lalu Ryoko divonis ringan, hanya satu tahun penjara. Memang itulah hukuman maksimal bagi mucikari. Ada pasal-pasal dengan ancaman hukuman lebih berat terkait kejahatan trafficking/perdagangan manusia, maksimal 15 tahun, namun pengacaranya, Prabu, berhasil menangkis dakwaan itu, terbantu kesaksian Nisa dulu yang menyatakan bahwa dia melacur di bawah Ryoko dengan sukarela. Ryoko telah menjalani masa hukuman dan bebas. Namun Prabu menyarankan agar segera menyingkir; maka dalam waktu singkat, dengan alasan menikahi seorang asing, Ryoko pun pindah ke luar negeri, tanpa niat kembali ke tanah air selama-lamanya. Nisa telah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Bambang Harjadi. Sepenuhnya dia mengabdi kepada perwira yang dianggapnya sebagai dewa penolong. Itulah rentannya seseorang yang pernah hancur sehancur-hancurnya. Dalam keadaan terburuk, mereka akan menggapai ke mana saja, mencari apapun yang dapat dijadikan pegangan. Dan dari keadaan hancur luluh, akan terbentuk jati diri yang baru yang bisa jadi sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Maka ketika pengabdian yang diminta Bambang Harjadi pada Nisa adalah mengurusi jejaring prostitusinya, Nisa bersedia tanpa ragu. Penghancuran dirinya yang dulu telah tuntas, sosok Ipda Juanisa Putri selaku penegak hukum yang lurus dan memegang teguh nilai-nilai telah mati. Yang menggantikannya adalah pribadi Nisa yang baru. Nisa yang dibentuk oleh tugas terakhirnya dan segala pengalaman sesudahnya. Perempuan dengan moralitas yang sangat berbeda, yang menyadari potensi keindahan tubuhnya dan daya tariknya untuk mendapatkan keuntungan. Perempuan yang tahu cara menguasai dan mempermainkan nafsu laki-laki, tak segan-segan menjual kehormatan diri maupun sesama perempuan demi mendapat apa yang diinginkannya. Dia menjadi seperti Ryoko yang pernah dikhianatinya, dan tak segan-segan memanipulasi perempuan lain sebagaimana dia memperlakukan Savitri dulu. Hampir semua nilai luhur yang ditanamkan didikan keluarga dan profesinya dulu telah dia buang, seiring rasa dikhianati yang menusuk dirinya ketika keluarga dan lembaganya menolak dia ketika dia berada di posisi terendah. Yang menggantikan adalah rasa terima kasih sangat besar dan pengabdian kepada sang penyelamatnya, siapa lagi kalau bukan Bambang Harjadi, yang telah menjadi pegangannya sejak dia menyamar, kemudian memungutnya dari kehancuran dan membentuknya kembali. Maka Nisa pun kini hidup untuk kekasihnya, Bambang Harjadi, melakukan segala perintahnya, membentuk kembali jati diri seperti diinginkan penyelamatnya itu, ingin selalu memuaskan dan menyenangkan sang pegangan hidupnya. Wajah dan tubuhnya telah pulih meski sempat dicederai para penghuni dunia bawah lokalisasi Kalirotan. Namun Nisa memilih mengubah konsep penampilannya, seiring jati dirinya yang baru, sesuai kesukaan dan keinginan Bambang Harjadi.
Bambang Harjadi melihat di hadapannya bersimpuh dua perempuan yang mengabdi kepadanya. Indah, pelayan setianya yang telah lama mengurusi semua kebutuhannya; dan Juanisa Putri, yang telah lama diincarnya. Kedua perempuan itu berpenampilan sama, dengan rambut disanggul, tubuh dibalut kemben dan kain, bahu dan tengkuk kuning mulus dan wangi menyampaikan sensualitas tradisional yang sangat disukai sang perwira. Dia merasa seperti seorang raja zaman dulu di tengah selir-selirnya.
Sang perwira tersenyum puas, dan senyumannya makin terkembang ketika ia melihat kedua pelayannya dengan anggun melepas busana, lalu saling berpagutan dan memandang kepadanya dengan tatapan nakal. Kombes Bambang Harjadi tak pernah salah memilih orang....

TAMAT
by: Ninja Gaijin & Pimp Lord
Mei-Nov 13

Senin, 24 November 2014

Demi Tugas 4

Sementara di kediaman Prabu....

Savitri

"Bagaimana boneka terbaruku Pak Bambang?" kata Prabu sang pengacara sambil menarik kekang yang melingkar di leher Thalia alias Savitri.
Gadis itu berjalan perlahan mengikuti tarikan kekang, tangannya terangkat ke belakang kepalanya membuat payudaranya semakin membusung. Prabu kemudian memerintahkan gadis itu berdiri memajang dirinya dengan kaki membuka dan tangan tetap berada di belakang kepalanya di hadapan sang kombes yang duduk di sebuah kursi dengan ukiran mewah. Tangan sang kombes bertopang di sandaran tangan kursi mewah itu, kedua telapak tangannya bertemu di depan mulut, membut Savitri hanya bisa melihat mata tajam sang kombes yang menatapnya dengan expresi yang tak dapat dibacanya.
"Seleramu memang benar-benar unik, Dik Prabu." kata Kombes Bambang Harjadi sambil memandang ke arah Savitri.
Kembali terbentuk rencana di benaknya yang mungkin diberkati Ares, sang dewa perang yang memang digambarkan sebagai ahli strategi.
"Tentunya bonekamu ini sebanding dengan modal yang kamu keluarkan," katanya lagi.
Prabu menjentikkan jarinya. Savitri segera menjatuhkan diri, merangkak ke arah sang tuan yang duduk di kursi di seberang sang kombes. Savitri kemudian berjongkok, mengangkangi sepatu kulit sang tuan yang duduk bertopang kaki lalu dengan patuh menggerakkan pinggulnya sehingga cairan vaginanya yang basah itu menjadi semir bagi kulit sepatu sang tuan yang berujar sambil tertawa, "Sangat sebanding, Pak. Sangat sebanding...."
"Jadi bagaimana Pak? Semua proposal saya sudah Bapak terima kan. Ada hal yang ingin bapak tambahkan?" tanya Prabu pada KomBes Bambang yang wajahnya masih tetap tanpa ekspresi. Prabu sang pengacara kondang yang terbiasa menjatuhkan mental lawan pun tak berani bertindak gegabah dengan lelaki di hadapannya.
Keduanya terdiam, hanya desahan dan erangan lirih Savitri yang kini sedang memoles sepatu sang tuan yang sebelahnya dengan vaginanya yang semakin basah itu yang mengisi keheningan ruangan pribadi Prabu.
"Aku rasa proposalmu sudah cukup baik, Dik. Tinggal bagaimana kita menjalankannya sesuai rencana agar kita bisa menambah koleksi kegemaran kita masing-masing. Bukan begitu, Dik?"
Keduanya tersenyum penuh arti. Ya. Pundi-pundi keduanya akan bertambah dengan rencana mereka. Prabu memandang ke arah sang kombes.
"Apa Bapak mau bermain dengan boneka baruku?" tanyanya dengan hati-hati, takut menyinggung sang kombes.
Kombes Bambang tersenyum. "Aku memang punya rencana untuk meminjam dia sebentar..."
Prabu tersenyum penuh arti, "Kalau begitu... silakan gunakan kamar tamu kami Pak... biar Bapak bisa lebih tenang." Dia mengajak sang KomBes ke arah satu kamar tamu mewah, sementara Savitri dengan patuh merangkak mengikuti kedua lelaki itu.
"Silakan Pak... selamat menikmati," kata Prabu, mempersilakan Kombes Bambang untuk menikmati bonekanya.
Ketika sudah berada di depan kamar mewah itu, sang Kombes memandang sekeliling, lalu dengan santai ia mengeluarkan alat seperti remote control dari dalam saku celananya dan menekan satu tombol alat itu. Beeeppp! crack... craaaccckkk... craaacckkk...terdengar letupan beberapa komponen listrik dari dalam kamar maupun sekeliling tempat mereka berdiri.
"Akan aku ganti semua alat penyadap dan kamera pengintaimu Dik Prabu..." kata sang kombes dengan tenang sambil mengambil kekang Savitri, lalu menutup pintu kamar.
Prabu tertegun. Setahu dirinya, alat seperti itu hanya dimiliki Bruce Wayne dalam film Batman... apakah alat itu benar-benar ada? Namun ketika ia melihat bahwa ruang pengintainya berada dalam keadaan total shutdown, ia semakin yakin kalau ia tak bisa bermain-main dengan Kombes Bambang Harjadi.

*****
"Siapa namamu?" tanya sang Kombes sambil memerintahkan Savitri untuk kembali berdiri dan berputar pelan, memeperlihatkan seluruh tubuhnya yang sudah diubah total itu.
"Thalia, Tuan..."
"Nama yang indah... sayang kamu juga harus mengganti namamu yang dasarnya sudah indah, Savitri..."
Savitri jatuh terduduk... matanya membelalak tak percaya.... Orang ini tahu....Savitri menangis...Sang Kombes membiarkan sang gadis menangisi nasibnya.... setelah ia tenang sang kombes kemudian berkata,"Apa kamu mau membalaskan dendammu pada Ryoko?"
Savitri mengangguk dan berkata lirih... "Juga pada pelacur yang tak membuat aku disiksa seperti ini...."
Sang Kombes menganggukkan kepalanya..."Kalau begitu... ceritakan semua yang kamu tahu.... dan aku akan memberimu kesempatan untuk menghancurkan mereka berdua...."
Mata Savitri memancarkan secercah harapan... ia tau walaupun ia tidak bisa kembali ke kehidupannya yang dulu, setidaknya ia bisa menghancurkan hidup mereka yang telah membuatnya menjadi boneka seks seperti ini. Namun bukan Kombes Bambang Harjadi namanya apabila tidak bisa mendapat semua yang diinginkannya. Dia tahu, sesudah diubah, keadaan mental Savitri sangat goyah. Dan dalam keadaan seperti itu, apapun perintah dan sugestinya akan diterima dan dilaksanakan. Sesudah memberi segudang janji kepada Savitri, sang petinggi pun meminta bayaran di muka. Savitri pun rela memberi apa saja kepadanya. Dan Savitri pun melenguh pasrah selagi Kombes Bambang menyodok-nyodokkan penisnya dengan kasar ke dalam mulutnya, perwira itu menikmati gesekan bibir lembut si boneka seks di kemaluannya. Pastilah Prabu telah meminta modifikasi itu juga. Dia mencoba membayangkan pelatihan apa yang telah diterima gadis itu, selagi Savitri menatap polos ke matanya. Bibir merah Savitri mengelus senjata sang kombes yang segera menembak, dan gadis budak nafsu itu tak membiarkan satu pun peluru yang ditembakkan lepas, semua masuk ke dalam kerongkongan dan perutnya. Dengan kasar sang perwira lalu mendorong gadis itu sampai tersungkur telungkup di lantai, namun kedua payudara Savitri yang telah digembungkan secara artifisial itu membuat jatuhnya empuk, terdorong ke atas sampai menyangga sedikit wajahnya. Bambang Harjadi mendekati lonte yang tersungkur itu lalu mencolokkan jari ke kemaluan Savitri, memutar-mutarnya sedikit sambil memastikan bahwa gadis itu telah basah. Pantat Savitri bergoyang-goyang selagi digoda seperti itu. Sepasang payudara besarnya tergencet di bawah tubuh. Dengan segera Kombes Bambang merasakan senjatanya siap digunakan lagi. Sekali lagi pemrograman “Thalia” beraksi ketika Savitri malah meraih ke belakang dan membukakan celah kewanitaannya bagi laki-laki di belakangnya itu. Dan sang perwira menyambut baik tawaran dari perempuan yang telah dijadikan boneka seks itu. Dia langsung mencengkeram kedua sisi pantat Savitri dan menusuk vaginanya yang dibukakan. Bambang Harjadi menyetubuhi Thalia dengan gencar, mengacak-acak kewanitaan si boneka seks. Buah dada raksasa Thalia bergoyang maju mundur selagi kedua lengannya ditelikung ke belakang dan ditarik agar dia dapat ditusuk makin dalam. Persis ketika hendak mencapai klimaks, sang perwira mencolok lubang dubur Thalia dengan jari, membuat Thalia tersentak. Sambil tersenyum penuh kemenangan Bambang Harjadi merangsang lubang belakang Thalia sambil menggenjot keras dan berejakulasi dalam rahim gadis mainan si pengacara itu. Sang perwira langsung mencabut senjatanya dari liang kewanitaan Thalia yang penuh sperma dan menyuruh Thalia berbalik badan. Wajah Thalia tetap berbinar ketika Kombes Bambang menyuruhnya membersihkan senjata yang baru menembak dalam vagina itu dengan mulut. Selagi Thalia menjilati dengan patuh, sambil memandangi laki-laki yang baru menyetubuhinya, Bambang Harjadi membayangkan perempuan lain....Juanisa.

>>>>
Malam itu, di kehangatan kamar Kombes Bambang Harjadi. Nisa duduk di kursi di hadapan meja sang Kombes. Tubuhnya hanya terbalut selimut setelah pergumulan liar beberapa saat sebelumnya, sementara sang Kombes berada di kursi empuk, mengepulkan asap cerutu, menghirup kopi hangat, dan membaca surat kabar yang kemudian dilemparkannya ke hadapan Nisa.
“Savitri....” batin gadis itu....
Dibacanya berita yang menyebutkan bahwa ada jaringan prostitusi yang melibatkan ribuan gadis dari berbagai kalangan, termasuk seorang penegak hukum. Nisa memandang sang bapak yang matanya menatap tajam ke pada dirinya...
"Sudah waktunya, n'Duk," kata sang Kombes pelan. "Apakah kamu bimbang?"
Nisa memahami pertanyaan pengayomnya itu. Dari semua penyamaran yang sudah dilakukannya, tugas kali ini yang memang membuat ia mengorbankan jiwa dan raga. Dirinya benar-benar berubah... ia memang menjadi pelacur bagi Ryoko. Ia mengasihi Ryoko... kebaikannya... kepercayaannya...Juga tak bisa dipungkiri, tubuhnya kini terbiasa dengan pemuasan nafsu, merasakah tubuh telanjang berbagai laki-laki yang tak dikenal berdekapan dengan tubuhnya, merasakan kelelakian mereka memasuki relung tubuhnya. Namun ketika ia menatap mata tajam sang Kombes, kesadarannya seakan pulih. Dengan tegas ia menjawab.
"Pengabdianku untuk Bapak."
Sang Kombes tersenyum. Skema serangan diatur....
Dinginnya marmer lantai kamar sang Kombes tak menghalangi keliaran percintaan kedua insan itu.

###############
Ryoko


"Good job, Irina... aku semakin yakin kalau kamu mampu," kata Ryoko ketika Nisa berbincang dengannya di villa mewah tempat mereka biasa mengucilkan diri. Tubuh keduanya berpelukan erat di depan perapian, keringat di tubuh mereka memantulkan cahaya perapian yang temaram, keringat hasil persetubuhan keduanya yang sangat erotis dan sensual itu. Beberapa saat sebelumnya mereka berpagutan, tangan saling meremas tubuh masing-masing, lidah mereka saling menjelajah, mereka saling merangsang, mengoreki vagina... menjilati anus... memberi stimulus.... dan merasakan nikmat orgasme yang datang silih berganti. Ryoko memang melihat sesuatu di diri Irina yang ia tau bisa diandalkan, keberaniannya, nalurinya... dan dengan bimbingan yang diberikannya, kini Irina telah mampu mencari seorang klien yang sangat berkelas, seorang pengusaha yang sangat dekat dengan sejumlah petinggi... dan untuk service kali ini ia akan ikut terjun melihat Irina menjalankan bisnis...

###############
Nisa memang bermaksud membuat Ryoko makin terikat dengannya. Oleh karena itu Nisa memanfaatkan sebaik-baiknya keterbukaan Ryoko dengan dirinya, termasuk dalam seks.
Namun dia kadang merenung, apa sebenarnya hubungannya dengan Ryoko sekarang. Kini mereka berdua telah sering saling cumbu, saling memberi kenikmatan, atau menikmati laki-laki yang sama berbarengan. Ketika sekarang dia terkulai lemas dalam pelukan Ryoko sambil menceritakan bagaimana dia telah memikat sang pengusaha, itu sudah bukan percakapan biasa antara atasan dan bawahan lagi. Tapi bisnis tetap bisnis. Dan sang pengusaha itu telah membuat Ryoko makin kaya beberapa ratus juta rupiah dari booking fee Irina.
“Dia punya ide-ide gila…” Nisa mulai berkata. “Dia pengen lihat live show, pengen lihat aku main sama cewe lain, pengen lihat aku di-gangbang teman-temannya… Dan dia pasti bakal bayar berapa aja yang kuminta.”
“Jangan sampai lepas kesempatannya, Irina…” Ryoko membalas sambil membelai rambut Nisa.
“Mmmhh… jadi kita setujuin aja?” ujar Nisa sambil mendesah manja.
“Iya dong… Kamu bisa kan menuhin semua permintaannya?” kata Ryoko.
“Yang sama cewek lain itu…” kata Nisa, “…emm… kalau sama kamu, kamu mau nggak?”
Ryoko terdiam. Sudah lama sekali dia tidak turun sendiri. Dia berpikir selagi Nisa menggerayangi dan menciumi tubuhnya.
“…ahh… aku pengennya sama ka-muu…” pinta Nisa manja sambil mengulum telinga Ryoko. Ryoko mulai terpancing.
“Dia bisa bayar berapa sih paling mahal…?” tanya Ryoko, berusaha tetap memikirkan bisnis di tengah godaan Nisa.
“Aku rasa kalau kita minta Porsche atau Ferrari juga bakal dikasih sama dia,” kata Nisa sambil mengedip genit.
“Boleh juga…” kata Ryoko, sambil dia kemudian kembali menggeluti Nisa yang terus menggodanya.

*****
Malam berikutnya, di satu restoran.

"Selamat malam, Pak Masno... perkenalkan ini kolega saya, Ryo..." kata Irina sambil memperkenalkan Ryoko pada lelaki nyaris botak bertampang mesum itu.
"Selamat malam, Mbak Ryo... saya Masno. Senang rasanya saya berkenalan dengan anda."
Ryoko tersenyum. Ketiganya kemudian terlibat percakapan ringan sebelum mereka menuju inti pembicaraan.
"So, Irina... seperti yang saya pernah sampaikan dulu, apa Mbak Ryo ini bersedia melakukan apa yang saya utarakan dulu?" tanya Masno.
Ryoko tersenyum lebar, memandang ke arah Masno dan berkata, "Boleh saja."
“Kalau begitu kita atur waktu dan tempatnya bersama teman-teman yang lain ya…” kata Masno.

*****
Masno adalah langganan Irina. Dia seorang pengusaha impor mobil mewah. Untuk meraup untung lebih banyak dia menggunakan jalur “bebas biaya” yaitu berkolusi dengan sejumlah staf kedutaan asing dan orang departemen untuk memasukkan mobil mahal tanpa perlu membayar banyak uang untuk negara karena mobil-mobil itu dicatat sebagai pesanan diplomat asing. Jalur itu relatif sulit ditembus hukum karena perwakilan negara lain memiliki kekebalan diplomatik dan segala urusan mereka tidak mudah diotak-atik aparat. Masno mengajak sekongkol sejumlah ekspat dari negara-negara kecil dan kurang terkenal karena mereka kurang diawasi dan kadang kurang dibayar oleh negaranya. Untuk melancarkan bisnis Masno royal meng-entertain teman-temannya. Dan akhir-akhir ini Irina jadi “piala bergilir” bagi sejumlah laki-laki berbagai bangsa. Namun Irina tak lupa akan misinya. Polwan yang menyamar itu tahu Masno punya kesukaan tertentu dalam seks: dia suka menonton orang berhubungan seks sekaligus suka juga ditonton. Jadi pada suatu kali sesudah menyervis Masno, Irina memberi usul mengadakan pesta seks kepada Masno. Ajak semua temannya bareng, nanti Irina akan melayani mereka semua. Dan, untuk membuat Masno makin tertarik: Irina akan mengajak seorang teman perempuan yang terpercaya untuk mendokumentasikan pesta seks itu. Sekaligus bonus show lesbi antara Irina dan teman perempuan itu. Maka, pada suatu Jumat sore…

*****
Pesona kedua perempuan yang datang ke yacht mewah Masno memang tak bisa ditolak. Mereka sudah memuka sejak turun dari mobil dan melangkah di dermaga menuju kapal kecil itu menghampiri Masno dan tiga temannya. Keempat laki-laki itu langsung ngiler melihat Irina dan Ryoko. Ryoko si “geisha madame” tampil dengan kimono biru hitam selutut dan rambut ditata konde kecil di atas kepala dengan dua tusuk konde. Wajahnya yang alami putih tampak segar dengan pemerah pipi; eyeliner dan lipstik merah memperdramatis penampilannya. Irina serba pink: blus transparan pink dan dalaman tube top pink juga, rok mini ketat, ditambah stoking warna gelap dan sepatu hak tinggi warna hitam. Riasannya lebih tebal, dengan smokey eyes dan lipstik merah darah. Rambutnya kini mencapai sedikit di bawah bahu, menjuntai dengan ujung bergelombang, diwarnai coklat. Keduanya membawa koper kecil beroda; akhir minggu itu akan dihabiskan di atas kapal. Ryoko membawa peralatan dokumentasi dan pakaian secukupnya. Irina membawa “pakaian kerja”: beraneka kostum dan perlengkapan sesuai permintaan Masno dan teman-temannya.
“Tantangan” Irina kepada Masno untuk mengadakan pesta seks dijawab oleh sang importir.
Dia menyanggupi saja ketika Irina meminta bayaran salah satu mobil mewah impor bekasnya, yang dikatakan “supaya teman saya mau”. Tentu saja Masno tak hendak menikmati Irina sendirian. Kesempatan itu juga dia gunakan untuk urusan bisnis. Tiga orang laki-laki lain hadir di sana, untuk deal terbaru Masno. Di dalam yacht itu empat laki-laki dan dua perempuan saling mengucap selamat sambil bersulang, mengadu gelas-gelas berisi wine sebelum kemudian menenggak habis isinya. Para laki-laki itu sedang bahagia, sesudah deal bisnis dengan Masno yang menguntungkan semuanya. Sekarang tinggal menikmati hiburan istimewa yang disediakan. Ketiganya teman-teman sekongkol Masno dalam bisnis impor ilegal mobil mewah. Yang pertama Rozi, berumur lima puluhan dan berambut kelabu, seorang pejabat tua yang kenyang mengorupsi anggaran terkait kerjasama luar negeri; “kenyang”-nya itu mungkin menyebabkan perutnya yang gemuk. Dua lainnya adalah orang asing, staf kedutaan dua negara sahabat: Kim Leng, dari satu negara Asia Tenggara, dan Javad, dari negara Asia Barat. Kim Leng bertubuh pendek, kecil, dan botak, sementara Javad tegap dan brewokan. Keduanya empat puluhan. Negara asal Kim Leng terhitung miskin sehingga para diplomatnya tidak dibayar besar; itulah yang membuat dia mau membantu Masno. Sementara Masno mengenal Javad sebagai seseorang yang suka kenikmatan, yang dilarang keras di negaranya sendiri.
Kenikmatan berupa makanan lezat dan minuman beralkohol sudah tersedia, dan perempuannya… Masno tidak segan-segan keluar banyak.
“Gimana, enak kan, Bapak-bapak? Oh ya kalian udah pada kenal sama Irina kan?” kata Masno.
“Hahaha, iya dong!” kata Rozi. “Terakhir dua bulan lalu, ya, Irina? Habis itu aku sakit pinggang seminggu! Huahahaha!!” Kim Leng dan Javad cengar-cengir. Keduanya termasuk staf lama sehingga tidak canggung berbahasa lokal. Dan keduanya juga sudah pernah mencicipi Irina.
“Irina paling tahu kita semua,” celetuk Kim Leng. Masno menimpali, “Hei, Irina, tunjukin sama kami dong apa yang kamu kasih sama Pak Rozi waktu itu!”
Irina pura-pura mengeluh dan mendesah, lalu menengok ke Ryoko yang diperkenalkan kepada keempat laki-laki sebagai “Ryo”.
“Ayo, Irina!” Javad ikut-ikutan. “Tunjukin lagi buat kami!”

Juanisa

Irina bergerak pelan dan menggoda, lalu membuka blus transparannya sehingga kemben di bawahnya terlihat. Kemben itu perlahan-lahan dipelorotkannya, mengungkap bagian atas sepasang payudara yang kencang sempurna. Keempat laki-laki tak ada yang tak memperhatikan keindahan itu.
“Fantastic,” kata Javad sambil dia meremas satu payudara Irina yang masih setengah tertutup.
Irina menengadah sedikit dan merintih lirih. Ryoko di sebelahnya, mengagumi keahlian dan akting anak buahnya yang terpercaya itu.
“Kiss me babe,” kata Javad sambil mendekatkan wajah brewokannya ke wajah Irina.
Irina menurut dan menyodorkan bibirnya untuk dicium bibir Javad. Lidah keduanya saling bergulat dalam mulut. Sesudah semenit, keduanya berhenti untuk mengambil nafas. “Mau cium yang lain?” tantang Javad.
“Oi, sabar, sabar,” Masno memotong. “Nanti acara utamanya sesudah makan ya?” Javad tampak kurang senang tapi tak mempermasalahkan. Irina lalu membetulkan lagi posisi kembennya.
Yacht bergerak meninggalkan dermaga. Mereka tak menuju ke mana-mana, hanya melaut demi privasi yang lebih besar. Semuanya merasa aman... tak tersentuh. Makan malam di atas kapal berlalu begitu saja, dan ketiga teman Masno lebih menunggu-nunggu hiburan utama. Irina memesona keempat laki-laki di sana dengan kecantikannya. Dia menggoda mereka semua; Rozi tak bisa menahan tangannya untuk tidak mengelus-elus paha Irina di bawah meja. Ditambah lagi, wine membuat pikiran mereka makin panas. Di yacht itu juga ada beberapa orang lain: seorang pelayan perempuan dan dua orang awak yang bertugas mengemudikan. Si pelayan membereskan makanan dan minuman lalu pergi dari kabin utama. Tatanan perabot di sana adalah meja datar rendah dikelilingi sofa di tiga sisi. Irina duduk di atas meja, di tengah ruangan. Semua laki-laki di sana sudah mengelus-elus kemaluan mereka yang mengeras di balik celana. Ryoko, seperti sudah disepakati sebelumnya, bertindak sebagai sutradara sekaligus operator. Dia menyingkir ke pojok ruangan, tempat ada sound system, dan di sana bertindak seperti DJ yang memutar musik.
“Hadirin sekalian, kami tampilkan, Miss IRINAAA!!” serunya, berpura-pura jadi pembawa acara.
Ryoko memutar musik club. Irina berdiri di atas meja mulai bergoyang seksi di atasnya. Dia membelakangi para penonton dan menggoyang pantatnya di depan muka mereka. Dia membiarkan Masno dan Rozi meremas-remas pantatnya. Dia menggesek-gesekkan tubuhnya ke tubuh Kim Leng dan Javad. Masno merangkulnya dari belakang dan meremas dadanya. Rozi dan Kim Leng mengelus-elus pahanya. Javad yang paling tak sabaran sudah buka celana; Irina menggoda kejantanan Javad dengan pantatnya.
“Ryo, sinii,” Irina memanggil dengan manja. “Ayo main sama aku...”
Kedua perempuan itu kini telah begitu dekat secara seksual sehingga Ryoko tak ragu. Si germo maju dan bergabung dengan Irina di atas meja. Ryoko langsung merangkul dan mencium bibir Irina. Irina kaget dengan gerak cepat Ryoko namun langsung terbawa dan membalas ciuman itu dengan penuh semangat.

Para laki-laki tercengang dengan apa yang mereka lihat. Ryoko lalu bergerak ke belakang Irina dan memegangi tube top Irina. Pelan-pelan Ryoko memelorotkan kemben Irina. Nafas para penonton nyaris berhenti melihat sepasang payudara indah kencang dengan puting yang sudah keras.
“Mmm~” gumam Ryoko. “Susu kamu bagus deh. Tawarin dong sama bapak-bapak.”
“Om, mau pegang nggaa~k?” kata Irina menggoda para laki-laki.
Ryoko bergeser ke samping Irina sambil tersenyum nakal lalu memegang salah satu payudara Irina. Lalu dia menyorongkan wajahnya ke depan untuk menjilat kulit halus payudara si pelacur. Sambil dia melirik melihat para penonton yang ternganga. Irina terpejam dan mengerang lembut selagi merasakan lidah Ryoko membelai payudaranya. Desahannya makin keras ketika dia merasakan Ryoko melahap putingnya. Dia menggeliat selagi kenikmatan menjalar dari sana ke kemaluannya yang mulai membasah.
“Enak?” tanya Ryoko.
“Ahnn... enaak...” kata Irina.
“Eit, ga boleh keenakan dulu,” kata Ryoko sambil kembali ke belakang Irina. Dia lalu mengangkat rok mini Irina, mengungkap celana dalam si polwan yang menyamar itu. “Ingat kamu di sini buat apa. Kamu lagi apa di sini, Irina?” kata Ryoko sambil tangannya menyelip ke balik celana dalam ke klitoris Irina.
“Ahhh,” desah Irina.
“Ayo dijawab,” Ryoko mempergencar godaan ke klitoris Irina. “Lagi apa kamu di sini?”
“Lagi kerjaa...” jawab Irina.
“Kerja apa?”
“Jadi... melayani...” ucap Irina pura-pura malu.
“Jadi LONTE!” kata Ryoko keras sambil melengkungkan jarinya dan menjolok lubang vagina Irina. “Ayo bilang gitu ke bapak-bapak.”
“Ahahh! Iya... Irina ada di sini jadi lonte...Ah!” Irina berkata sambil memeknya diacak-acak. Ryoko merasakan jarinya basah. Irina terangsang.
“AH... ah enak... Bapak-bapak... Irina di sini jadi lontenya bapak-bapak... NGH! Nggg! Memek... memek Irina enak...” Irina mulai meracau karena keenakan.
“Iya, Irina, kamu lonte... Artinya... Sebelum keenakan kamu harus ladenin bapak-bapak ini dulu! Kamu tahu harus apa kan?” perintah Ryoko sambil melepas tangannya dari kemaluan Irina.
Polwan itu tersenyum kecil dan melangkah turun dari meja, menuju Masno yang duduk di tengah teman-temannya. Dia berlutut di depan Masno lalu menoleh ke Masno, lalu ke Ryoko. Masno mengerti.
“Mbak Ryo, silakan mulai.”

Ryoko juga turun dari meja. Itu tanda baginya untuk tugas utama: sebagai juru kamera. Dia mengeluarkan handycam, menyalakannya, lalu memberi tanda jempol ke Irina. Irina pun mulai beraksi dengan membuka resleting celana Masno. Ryoko mulai memvideokan. Akting Irina sebagai bintang film porno amatir boleh juga. Dia pura-pura kagum dengan ereksi Masno yang sebenarnya biasa-biasa saja, lalu menggesek-gesekkan wajahnya dengan ekspresi mesum ke penis Masno sebelum kemudian memasukkan batang itu ke mulutnya.
“Anj... Uah enak!” Masno sampai nyaris memaki merasakan hangat rongga mulut Irina di sekeliling burungnya.
Satu tangannya bergerak untuk mencengkeram kepala si pelacur. Yang paling tua di antara mereka, Rozi, berdiri dan mendekati Irina di lantai ruangan. Dia sudah gemas ingin menggerayangi Irina dari tadi. Sementara Irina menyetubuhi kemaluan Masno dengan mulutnya, Rozi menciumi punggung Irina sambil melepas celana dalam Irina untuk mengusap-usap vagina. Kim Leng sudah buka celana dan mengocok kemaluannya sendiri. Irina mengulum kantong pelir Masno, sementara Javad yang juga sudah tak bercelana berlutut di belakangnya sambil menggesek-gesekkan senjatanya—paling panjang di antara semua orang di sana—ke belahan pantat Irina. Ryoko memvideokan itu, dan memancing Irina:
“Irina, ayo bilang, ‘Om, entot aku dong.’”
“Om, entot aku doong,” kata Irina.
“Bilang itu sambil nyepong,” perintah Ryoko lagi. Irina kembali mengulum kejantanan Masno sambil berkata dengan tak jelas, “Mmom mnfopp agf don.”
Masno tak tahan mendengar kata-kata nakal Irina.
“Ahh aku mau crot!” serunya “Telen yah!”
Dia pun orgasme selagi kepala burungnya digenggam Irina dengan bibir. Irina menampung semburan-semburan peju Masno. Yang terakhir mendarat di mukanya karena Masno menarik keluar penis dari mulutnya. Irina tak menghindar.
“Tunjukin ke kamera,” kata Rozi sambil mengarahkan wajah Irina ke kamera video Ryoko.
Irina membuka mulut lebar-lebar, memamerkan genangan putih dalam mulutnya, yang kemudian dia telan seolah-olah makanan lezat. Sisa peju masih menempel di wajahnya. Masno yang puas menyingkir untuk memberi kesempatan kepada teman-temannya. Rozi bersiap. Irina mau menyeka sperma yang masih ada di mukanya tapi distop Ryoko.
“Biarin aja itu,” kata Ryoko, “Aku suka ngelihat kamu habis dipake...”

*****
Sepanjang malam Irina melayani empat laki-laki itu, sampai semuanya tertidur keletihan. Dan pagi berikutnya, sarapan disediakan bagi semuanya dengan suguhan hiburan berupa tayangan video aksi Irina malam sebelumnya, hasil syuting Ryoko.
“Aku nggak cuma pelacur sekarang... aku jadi bintang porno juga...” Irina membatin sambil bersandar lemah ke Ryoko, sementara Ryoko mengelus-elusnya.
Yang tak Irina ketahui, film pornonya tak hanya ditonton di atas perahu mewah itu...

*****
Adegan yang tampil di layar adalah Irina yang mengangkang di atas tubuh telanjang seorang laki-laki setengah baya yang telentang. Kemaluan Irina menjepit erat penis laki-laki itu selagi bergerak naik turun, dan ekspresi mesum Irina tertangkap jelas di kamera. Penontonnya seorang laki-laki setengah baya juga, juga telanjang, hanya saja posisinya berbeda. Ia tegak, sementara perempuan muda yang disetubuhinya-lah yang telentang. Tubuh gadis itu tergeletak pasrah di atas kain batik yang tadi membungkus tubuhnya, sementara si laki-laki menyetubuhinya dengan acuh. Perlahan dia menggenjot, tanpa memandang ke mata pasangannya. Perhatiannya fokus ke TV di kamar yang menayangkan sang aktris film porno amatir yang ditontonnya, Irina. Dia mengagumi kecantikan Irina, juga betapa Irina menghayati perannya. Dia terpikir mengenai seorang aktor asing yang berperan sebagai seorang penjahat psikopat, yang begitu tenggelam dalam perannya sehingga sesudah filmnya selesai sang bintang terperangkap dalam perannya, sehingga menjadi resah dan gelisah tak terkira hingga akhirnya tewas akibat mengonsumsi obat penenang berlebihan. Seperti itulah efek yang dia lihat terjadi pada Ipda Juanisa. Gadis yang disetubuhinya menjerit lemah, G-spotnya menyerah karena dihajar dengan intens dan memutuskan untuk meledakkan orgasme. Si gadis dalam hati bersyukur karena tuannya masih mengingat dirinya, meski akhir-akhir ini lebih sering bersenggama dengan perempuan dalam film itu.
“Anhhh...! Ndoro... saya... keluar ndoroo...”
Sang laki-laki, sang perwira, tampak tetap acuh meski si gadis, si pelayan, menggeliat-geliat keenakan di ujung kejantanannya. Setelah geliatnya berhenti, barulah dia menengok ke bawah, tetap acuh, ke wajah si gadis yang baru dilanda kenikmatan.
“Aku juga, Nduk,” katanya singkat.
“Keluarin di dalam saya saja, Ndoro...” pinta si gadis pasrah.
Sang perwira menembakkan benihnya dalam kewanitaan si pelayan. Tembakannya berkali-kali dengan banyak peluru, dan si gadis merasakan kehangatan memenuhi bagian dalam. Pada saat yang sama Irina di layar tampak sedang membuka lebar kemaluannya yang juga baru menerima semburan peju lawan mainnya, dan dengan cabulnya dia membiarkan cairan putih di sana mengalir dan menetes keluar. Telepon berbunyi.
“Siapkan penyambutan,” kata si laki-laki. Dia lalu menghubungi orang lain.
“Dik Prabu, apa dik Taufiq sudah nonton kiriman saya?”
Suara di telepon menjawab, “Sudah Pak Bambang. Sekarang Taufiq lagi, emm, reunian sama mantan anak buahnya. Savitri.”
Kombes Bambang Harjadi mendengar suara tawa di teleponnya, lalu mendengar desahan perempuan. Dia ingat, itu desahan Thalia alias Savitri, yang kiranya sedang disuguhkan Prabu kepada mantan atasannya, seorang tokoh media.
“Kalau begitu tolong kasih tahu dik Taufiq ya dik Prabu. Semoga berkenan untuk meliput berita besar ini.”
Bambang Harjadi menutup pembicaraan. Di depannya tergeletak seorang perempuan dengan paha mengangkang dan rekahan basah. Dan mau tak mau dia pun merenung mengenai perempuan-perempuan dalam hidupnya akhir-akhir ini...

*****
Pelabuhan, tengah hari

Bunyi peluit kapal menembus udara selagi satu yacht kecil mendekat ke dermaga. Beberapa orang pekerja di dermaga tampak siap menyambut yacht itu, yang pulang ke pelabuhan membawa sejumlah penumpang yang sudah puas berpesta. Seorang awak kapal melempar dua utas tambang ke dermaga, dan orang-orang di dermaga mengikatkan tambang itu ke pasak-pasak baja sehingga mengamankan kapal. Tak lama kemudian para penumpang mulai keluar dari kapal. Masno adalah yang pertama kali turun ke dermaga, lalu Rozi, Kim Leng, Javad. Baru saja dia menginjakkan kaki di lantai kayu dermaga, Masno tiba-tiba ditarik seorang pekerja yang tadi mengikat tambang yacht.
“Polisi! Jangan bergerak, Anda semua kami tangkap!”
Si pengusaha itu langsung diringkus. Para pekerja di dermaga, yang sebenarnya polisi yang menyamar, langsung berlompatan menaiki yacht dan berusaha menangkap yang lain-lain. Petugas-petugas berseragam juga bermunculan. Rozi dan Kim Leng langsung diringkus dan diborgol. Javad yang berada paling belakang, di pintu kabin, langsung berbalik dan berusaha lari, tapi dua orang polisi dengan cekatan menubruk dan meringkusnya. Mendengar ribut-ribut, Ryoko dan Nisa di dalam kabin tersentak.
“Ayo lari!” seru Ryoko sambil menarik Nisa dan menuju sisi lain kapal.
Saking gesitnya Ryoko, Nisa belum sempat bereaksi. Gerakannya seolah dia sudah punya refleks untuk mencari jalan kabur secepat mungkin.
“Berhenti!” Ketika Ryoko membuka pintu kabin, terdengar teriakan dari seorang polisi yang berposisi dekat sana.
Sialnya, si polisi berada di posisi yang kurang menguntungkan—di balik pintu, sehingga Ryoko justru menggebrak pintu keras-keras untuk menghantamnya. Si polisi terhuyung, dan waktu beberapa detik itu cukup bagi Ryoko untuk keluar dan sekalian memanfaatkan ketidakseimbangan si polisi untuk menjatuhkannya ke dalam air.
“Ayo ikut aku, Irina!” seru Ryoko sambil melompat turun ke cabang dermaga di sisi lain yacht. Jelas Ryoko berusaha kabur. Irina mengikuti.
‘Sudah waktunya, n’Duk’.
Nisa melihat punggung Ryoko di depannya. Dan terpintas di benaknya betapa Ryoko telah begitu baik pada dirinya beberapa bulan ini. Juga berbagai kenikmatan yang diberikan oleh Ryoko.
‘Apakah kamu bimbang?’
Kata-kata Kombes Bambang Harjadi pun teringat. Demikian pula sumpahnya terhadap pekerjaannya yang sejati - Polwan -dan tugasnya adalah menegakkan hukum. Nisa menerjang Ryoko dari belakang. Keduanya jatuh berdebam di lantai kayu dermaga. Ryoko terkaget menyadari siapa yang menjatuhkannya.
“IRINA??!!” jeritnya. Namun dia segera berguling menghindar ketika melihat tangan Nisa berusaha menelikung.
“Jangan melawan,” Nisa mencoba memperingatkan. Beberapa polisi mendekat.
“Kamu...” Ryoko akhirnya menyadari rahasia Irina...
“ANJIING!!”

Ryoko yang posisinya sudah terpojok itu menggila. Secepat kilat tendangannya mengincar wajah Nisa; nyaris wajah Nisa memar apabila dia telat menghindar. Nisa balas memukul, dan Ryoko menangkis. Nisa akhirnya mendapat kesempatan untuk menjajal kemampuan bela diri Ryoko.
Namun entah kenapa, para polisi di sekitarnya lebih sibuk dengan Masno dan kawan-kawan serta mengamankan awak yacht. Tak seorang pun maju membantu Nisa meringkus Ryoko. Dia berjuang sendiri. Ryoko kembali melancarkan tendangan ke arah pinggang Nisa, dan kali ini Nisa telat menghindar. Dia roboh dan Ryoko langsung menerkamnya. Emosi menguasai Ryoko sehingga serangan berikutnya yang mengenai Nisa adalah tamparan ke wajah.
“Kenapa?! Kenapa mesti KAMU??!!” jerit Ryoko selagi dia menjambak Nisa.
Bibir Nisa berdarah ketika satu lagi tamparan keras Ryoko mendarat di sana. Dan Ryoko juga menarik bajunya. Ketika itu Nisa mengenakan blus berkancing dan rok pendek. Kelengahan akibat emosi itu bisa dimanfaatkan Nisa. Sodokan lututnya ke perut Ryoko membuat dia bisa menyingkirkan Ryoko dari atas tubuhnya. Cepat-cepat dia berusaha berdiri lagi, menyeka darah dari bibirnya, sambil berusaha mengambil nafas. Dia merasa beberapa utas rambutnya tercabut ketika Ryoko tadi menjambak, dan hampir semua kancing blusnya sudah copot. Nisa menatap mata Ryoko yang kini menyorot penuh kebencian. Ryoko tak punya pilihan lagi, dia menerjang duluan. Nisa menghindar dan berhasil mengarahkan tendangan ke pinggang Ryoko—tapi ternyata tidak kena! Yang terjadi malah sikut Ryoko menghajar ulu hatinya, membuat Nisa menjerit kesakitan. Dan mendadak tubuh Nisa terangkat... Ryoko membantingnya ke lantai! Nisa kesal kepada dirinya sendiri selagi dia terkapar di lantai dermaga. Memang, penugasan penyamarannya selama berbulan-bulan membuat dia kurang latihan. Dan kini lutut Ryoko mendesak perutnya sementara si germo mencekik lehernya. Tatapan tajam Ryoko seolah ingin menusuk menembus mata dan kepala Nisa selagi Nisa susah payah menahan tangan Ryoko menghentikan nafasnya. Dan di sudut mata si germo menitik air mata, kesedihan karena dikhianati seseorang yang sungguh-sungguh ia anggap dekat, seperti adik sendiri, bukan barang dagangan seperti perempuan lain yang ia jual...
“IRINAAA!!” jerit Ryoko, ketika pergumulan mereka berdua dihentikan oleh para polisi yang akhirnya turun tangan.
Bersamaan dengan itu sejumlah kilatan kamera mengabadikan Ryoko dan Nisa yang sedang dipisahkan oleh para polisi. Nisa kelelahan, berantakan, tak peduli dia sedang difoto dalam keadaan baju acak-acakan. Para wartawan itu datang atas petunjuk komandan polisi setempat mengenai penggerebekan, namun yang awalnya mereka kira kasus biasa ternyata sesuatu yang sensasional. Apalagi mereka sudah diberitahu mengenai satu video terkait penangkapan itu.

*****
Di tempat parkir pelabuhan, jauh dari hiruk pikuk keramaian polisi dan pencari berita...
"Dik Prabu, satu penghalang sudah kita singkirkan. Rencana kita berjalan mulus. Selamat," kata Kombes Bambang Harjadi.
"Semua hanya bisa terlaksana karena bapak juga," balas Prabu, si pengacara.
“Bagaimana dengan Savitri?” tanya sang Kombes.
“Kebetulan teman-teman saya di Bangkok bersedia ‘mengurus’ dia,” kata Prabu. “Sayang juga harus menyingkirkan dia. Tapi kita tinggal beli mainan baru, kan? Lagipula kalau kangen kita tinggal terbang ke sana dan datangi club tempat dia disimpan.”
Keduanya terbahak dan pergi.

*****
"ANAK DURHAKA! PELACUR! LONTE! BIKIN MALU KELUARGA!"
Juanisa hanya bisa terdiam. Ia tidak menundukkan kepalanya seperti kebanyakan wanita yang sedang menghadapi cacian seperti itu, terlebih yang datang dari orangtuanya sendiri. Ia hanya diam, ia tak lagi mendengar bentakan dan teriakan ayahnya. Ia tak lagi mengindahkan telunjuk sang ayah yang mengacung menghukum dirinya. Ia tak lagi memandang sosok sang ibu yang terisak, terduduk di tengah rumah mereka yang sederhana itu. Ia seakan kosong... hanya sebuah mortal shell tanpa jiwa. Lemparan koran dengan isian berita penggerebegan bertebaran di sekitarnya... mengenai wajahnya...
ia tak lagi perduli. Isi berita yang jelas sangat berbeda dengan kenyataan yang ada...

Pelacur yang sakit hati membalas dendam pada sang germo!
Pelacuran kelas berat terbongkar: seorang pelacur mengakui semuanya...!

Dan siapakan pelacur itu jika bukan dirinya yang dimaksud. Pemberitaan media yang mengumbar habis jati dirinya, yang jelas dibocorkan oleh Savitri mambuatnya tak lagi bisa berkutik. Dan bukan hanya telunjuk sang ayah. Keluarga besarnya, para bibi yang memang dari dulu mencibir kecantikannya, para paman yang merasa diri mereka sangat suci, walau kenyataannya mereka juga sering bermain gila di belakang istri-istri mereka, para sepupu. Juanisa hanya diam, pikirannya menerawang....

*****
"Saudari saksi... apakah Anda benar bernama Juanisa Putri?" tanya ketua majelis hakim yang memimpin sidang atas terdakwa Ryoko.
Juanisa langsung mencelos mengetahui adanya kemungkinan kalau semua pengorbanannya menjadi sia-sia. Ia melihat sosok Prabu yang duduk di deretan pembela yang disewa Ryoko.
"Ya benar, nama saya Juanisa Putri," kata sang gadis yang berusaha tenang walau hatinya begitu berkecamuk.
"Pekerjaan anda adalah anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia?"
"Benar."
"Pangkat anda?"
"Inspektur dua."
"Apakah anda mengenal terdakwa Faria Rosalin?"
Mata kedua wanita itu bertemu... satu dengan tatapan ingin membunuh dan yang satu kini nampak kosong...
"Ya saya mengenal terdakwa dengan nama Ryoko..." katanya pelan.
"Apakah anda mengetahui pekerjaan terdakwa?"
"Ya...."
"Coba jelaskan di muka sidang mengenai pengetahuan anda akan pekerjaan saudari terdakwa."
"Faria Rosalin atau Ryoko berprofesi sebagai seorang mucikari yang melakukan praktik prostitusi," kata Nisa dengan suara yang sedikit bergetar....
Sang hakim memandang ke arah pembela.
"Silakan jika Anda ingin menanyai saksi."
Prabu mengambil mikrofon. Juanisa memandang tegang, Ryoko menampilkan senyum iblisnya. Persidangan sebenarnya sekarang dimulai.
"Saudari saksi... Anda berkata kalau Anda seorang polisi wanita," kata Prabu sebagai pembuka. "Bagaimana Anda bisa mengenal begitu baik akan aktivitas terdakwa?"
"Saya ditugaskan untuk menyamar dan menginfiltrasi kelompok Ryoko."
“Maksudnya Anda menjadi anak buah saudari terdakwa yang Anda sebut sebagai mucikari? Dengan kata lain Anda menjadi PELACUR?” Prabu sengaja menyebut profesi samaran Nisa itu keras-keras.
“…Iya,” jawab Nisa dengan berat.
"Siapa yang memberi anda tugas?"
Juanisa terdiam.... kelebatan nama muncul di kepalanya...
"Komisaris Rasidi...."
"Sayang sekali, Komisaris Rasidi telah gugur dalam tugas di Papua, bukan begitu Ipda Juanisa?"
Sang gadis tertegun. Bagaimana....?
"Tidak mungkin urusan sekaliber ini hanya diorganisir oleh seorang komisaris, dan Anda pasti mengetahui siapa yang mengorganisir operasi ini."
Tidak.... aku tidak bisa menjerumuskan Bapak.... beliau sangat berharga.... batin Nisa...
"Maaf, tapi atasan langsung saya adalah Komisaris Rasidi," jawab Nisa tegas.
"Kalau begitu saya bisa saja meragukan kredibilitas anda sebagai seorang saksi," serang Prabu lagi.
"Dengan tewasnya Rasidi, kita tidak akan pernah bisa tahu apakah Anda memang ditugaskan atau Anda dengan sukarela menjadi anak buah terdakwa."
Tangan Nisa bergetar ketika ia memegang mike. Dan Prabu masih terus menyerang kredibilitasnya.
"Coba ceritakan bagaimana anda bisa sampai masuk dalam kelompok terdakwa"

Suara Nisa kadang tersendat, bergetar dan nyaris tak terdengar ketika ia harus kembali mengulang semua pengorbanan yang dilakukannya sehingga beberapa kali Prabu harus meminta Nisa untuk mengulangi detail yang ingin sekali ia lupakan...
"Saudari Nisa... berdasarkan keterangan Saudari, nampak jelas kalau Anda berinisiatif untuk masuk dalam kelompok terdakwa."
"Tidak Pak... semua karena tugas" bantah Nisa terbata...
"Seorang polwan tentu akan mencoba beribu cara untuk menolak melayani lelaki seperti yang Anda lakukan namun tetap memiliki integritas dan determinasi dalam melaksanakan tugas," serang Prabu.
"Tidak Pak... saya..."
"Saya meminta catatan mengenai operasi ini dari kesatuan anda, dan tidak pernah ada surat perintah untuk melakukan pengintaian atau infiltrasi."
Nisa terkesiap. Black ops? Tidak mungkin... Semua data jelas. Laporan tertulisnya lengkap....
"Sepertinya Anda sudah menggunakan kewenangan Anda sebagai abdi negara untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri dan kemudian menggunakan kewenangan Anda setelah penggerebekan terjadi," cecar Prabu lagi.
"Tidak!" bantah Nisa. "Tidak benar... saya mendapat perintah... saya menjalankan perintah!"
Nisa panik.. sebenarnya ini persidangan siapa? Siapakah terdakwanya? Kenapa semuanya menyerang dirinya? Bahkan JPU dan hakim tak ada yang menghentikan cecaran Prabu. Kenapa?
"Kalau begitu di depan sidang pengadilan dan masyarakat yang menyaksikan, sebagai saksi yang telah disumpah untuk memberikan keterangan sebenar-benarnya... Jawab!"
Nisa terdiam..
"Apa Saudari mendapat bayaran dari pelayanan yang Saudari berikan pada para lelaki hidung belang itu?"
Kini Nisa tak lagi bisa duduk tegak... kepalanya tertunduk dan ia mulai terisak.
Ketua hakim berkata, "Harap Saudari menjawab pertanyaan tersebut."
Nisa terisak, dengan terbata ia menjawab…
"I... Iya yang mulia... saya mendapat bayaran dari para lelaki yang saya layani...."
"Nah sekarang setelah kenyataan terungkap di ruang publik," lanjut Prabu tanpa memberi kesempatan Nisa untuk menarik nafas, "jelaskan bagaimana jaringan terdakwa beroperasi..."
Maka dengan gamblang Nisa yang merasa harga dirinya sudah sangat dijatuhkan menjelaskan apa yang ia alami selama menjalani 'profesinya' di bawah asuhan Ryoko. Bagaimana proses perekrutan, pembagian tugas, pemilihan klient... tipe pelayanan yang diberikan. Dan dengan pertanyaan Prabu yang meminta rincian tipe pelayanan yang diberikan Nisa kepada para klien, kelelakian seluruh pengunjung sidang, termasuk panitera, JPU, dan hakim mulai terusik. Walau terdengar hujatan dari kaum wanita maupun cibiran lelaki, namun tak dipungkiri, mereka sedikit banyak terangsang oleh cerita Nisa.

***
PLAK! Tamparan sang bunda membuat Nisa kembali ke saat ini, di tengah sidang besar keluarga yang selama ini sangat tak pernah terjadi. Keluarga yang sebenarnya saling membenci satu sama lain.
Mereka sebenarnya tak pernah perduli dengan dirinya. Apalagi dengan profesinya di unit reserse membuatnya tak bisa banyak memaparkan tugasnya. Nisa merasakan bibirnya pedih dan berdarah akibat tamparan sang bunda. Namun tamparan itu tak lagi dirasakan. Ia sudah tahu kalau ia akan kehilangan segalanya. Sejak ia mengambil tugas itu, ia sudah tahu risiko yang akan diterimanya.
Kehilangan keluarga, pekerjaan, nama baik, segalanya...

****
Nisa mencoba tegar berdiri di di tengah sidang disiplin ketika keputusan akan dibcakan...
"Setelah mempertimbangkan segala seuatunya dengan seksama, dengan memperhatikan fakta yang ada selama persidangan, kami memutuskan bahwa Ipda Juanisa Putri secara sah dan benar terbukti melanggar kode etik kepolisian, melakukan pencemaran nama institusi dengan terbukti secara sah menyalahgunakan kewenangan dan melakukan tindakan asusila dengan melakukan tindakan prostitusi dengan berkedok tugas.
Dengan ini memutuskan memberhentikan dengan tidak hormat Ipda Juanisa Putri dan keputusan ini berlaku pada tanggal dibacakannya keputusan ini."
Ketukan palu pimpinan sidang bagaikan godam besar yang dihantamkan ke hati Nisa. Tak ada pembelaan untuk dirinya... namun apa yang bisa diharapkannya? Ia sendiri sudah memutuskan untuk tidak menyangkutpautkan sang panutan dalam kekisruhan yang terjadi ini. Baginya Bambang Harjadi adalah sosok yang harus ia jaga, walaupun berarti ia akan kehilangan segalanya...
Dan kehormatannya sebagai perempuan benar-benar ditiadakan hari itu...
Seagaimana layaknya kepada mereka yang diberhentikan secara tidak hormat, perwira pimpinan sidang mendatangi Nisa yang berdiri tegak walau nampak jelas bergetar...
Ia melepaskan tanda kesatuan, kepangkatan dan topi sang gadis...
Dan...
Nisa menangis namun tetap bersikap sempurna ketika pimpinan sidang melucuti pakaian dinas yang dipakainya... hingga tinggal menyisakan bra menutupi bulatan payudaranya...
Walau ketelanjangannya tidak berlangsung lama karena sang perwira kemudian memakaikan hem putih pada sang gadis, namun kemulusan dan keindahan tubuh sang gadis tertampang jelas untuk mata para rekan kerja yang selama ini hanya membayangkan kemulusan tubuh sang Ipda...
*****
"PERGI KAU ANAK DURHAKA! AKU HARAMKAN KAMU JADI ANAK KAMI! JANGAN SEKALI-KALI LAGI DATANG KE RUMAH INI DAN AKU HARAMKAN KAMU UNTUK MENANGISI KUBURAN KAMI!!"
Nisa diam, ia melangkahkan kaki keluar dari rumah yang dipenuhi tangisan dan teriakan histeris...
"Nisa... ayo... ikut Paman," ujar salah seorang pamannya yang dari tadi memang menanti di luar, nampak tak ikut dalam penghujatan yang diterimanya.
Dengan lunglai sang gadis mengikuti sang paman, yang memacu kendaraannya menuju ke arah luar kota, ke sebuah villa di kawasan pegunungan.
"Ayo, sayang... masuklah dulu... kamu bisa menenangkan dirimu di sini untuk sementara..."
"Terima kasih paman..." kata Nisa lirih sambil masuk ke dalam villa.
Ia tak melihat seringai penuh kemenangan sang paman ketika ia membiarkan sang gadis masuk lebih dulu, ebelum ia menutup pintu dan menguncinya.
"Halo Nisa.... "
Mata Nisa tertegun memandang tiga sepupu dan tiga keponakannya yang masih bersekolah di SMU, semuanya berkumpul di dalam villa itu. Nisa mendadak merasakan bahaya. Ia berbalik dan menabrak tubuh sang paman yang kini nampak beringas itu. Segera keenam kerabatnya mengepung tubuh sang gadis yang meronta sejadinya. Namun Nisa jelas kalah tenaga dan sama sekali tidak siap untuk menghadapi serangan mendadak itu. Dalam waktu tak lama bunyi pakaian yang tercabik mengisi ruang tengah villa... ditingkahi jeritan sang gadis dan tawa kekeh para lelaki buas yang lagi tak memiliki kesadaran kalau yang sekarang sedang mereka gumuli adalah saudara mereka sendiri...
Tak lama kemudian Nisa menjadi bulan-bulanan mereka.Nisa menangis karena frustasinya. Bukan karena seluruh lubang kenikmatan di tubuhnya kembali menjadi sarang penis, namun kenyataan bahwa anggota keluarganya sendiri kini memperkosanya benar-benar menyakitkan hatinya.
Bahkan lebih perih dari ketika pemerkosaan yang dilakukan Rasidi dan rekan-rekannya, walau sama brutalnya... sama liarnya...

***
Selama tiga hari sang gadis disekap dalam villa itu, dan selama tiga hari neraka jahanam menghampiri dirinya. Pamannya membawa teman.... Juga sepupunya... Juga keponakannya...Nisa sangat lemah. Ia sangat sakit, baik badan maupun hatinya. Ia sudah hancur... ia sudah merasa kalau ia memang hanya seonggok daging untuk memuaskan nafsu para lelaki. Hanya sekedar penampungan sperma. Dini hari,
dengan langkah yang tertatih dan dengan menahan nyeri di selangkangannya sang gadis meninggalkan villa terkutuk yang sudah sepi itu. Para pemerkosanya sudah bosan dengan tubuhnya dan meninggalkannya begitu saja. Dengan pakaian seadanya sang gadis menyetop kendaraan pengangkut sayur yang baru berangkat dan membawanya kembali ke kota.

To be continued...
By: Ninja Gaijin & Pimp Lord

Selasa, 27 Mei 2014

Demi Tugas 3


Savitri
Ketika siuman dari bius, Savitri sudah terbaring telanjang di lantai dingin sebuah ruangan yang tak ia kenali sebelumnya. Yang pertama-tama membuat dia panik adalah ketelanjangannya; karena selama ini dia selalu berpakaian menutup seluruh tubuh. Dia berusaha lolos tapi tak bisa; bahkan melihat saja tak bisa karena matanya ditutup.

“Ah, sudah bangun, Tuan Putri?”

Savitri menoleh ke arah datangnya suara. Dia merasakan ada yang membangunkannya ke posisi duduk, lalu membuka penutup matanya. Matanya membelalak memandang seorang wanita dewasa yang mengenakan kimono mewah sedang duduk di kursi mewah bagai takhta.

“Siapa kamu?” tanya Savitri dengan suara parau karena pengaruh obat bius yang masih membekas di tenggorokannya

“Bukankah kamu selama ini cari info tentang aku? Perkenalkan, aku Ryoko… germo yang kamu selidiki.”

Savitri menegang, ia berhadapan langsung Ryoko. Ia berusaha lari, dan kemudian tersadar pergelangan kakinya terikat menyatu dengan menggunakan tambang rami, demikian juga dengan pergelangan tangannya.

“Kamu usil…” kata Ryoko sambil bangkit dan menghampiri Savitri yang berusaha beringsut menjauhi sang wanita yang wajahnya kemudian berubah garang di balik riasan geishanya. Ryoko menjambak rambut sang gadis yang mengernyit kesakitan.

“Aku paling nggak suka orang yang terlalu ingin tahu” katanya lagi sambil melirik ke arah lelaki kekar yang menjadi tangan kanannya.

Savitri menjerit-jerit minta tolong sekeras yang ia bisa. Ryoko tertawa keras, “Silakan teriak. Nggak ada yang bakal dengar suaramu.”

Si bodyguard kekar yang bertelanjang dada itu dengan mudahnya membopong tubuh Savitri dan membantingnya ke atas meja, membuat sang gadis menegang kesakitan. Si bodyguard langsung menautkan tambang yang mengikat pergelangan tangan Savitri, dan mengeratkannya dengan tambang lain ke ujung meja yang sudah dimodifikasi untuk menjadi tempat kaitan tali itu. Meja itu sendiri cukup kecil sehingga pinggul Savitri tepat berada di ujung meja.  Ia menandang-nendang meronta sebisanya ketika sang lelaki melapaskan belenggu kakinya, menyebabkan lelaki itu kesulitan. Si bodyguard lalu melepas sabuk kulit di celananya. CTAAAAARRRRR! Mata Savitri membelalak, mulutnya membuka namun tak ada teriakan yang keluar ketika dengan kejam bodyguard itu mencambuk payudaranya. CTAAAARRRR!!! Kini teriakan menggema ketika sabuk itu menghantam perutnya, pahanya, wajahnya. Dan tubuh sang gadis melonjak-lonjak liar ketika belahan vaginanya merasakan cambukan brutal itu berulang-ulang. Ketika Savitri hanya bisa merintih menahan sakit, bodyguard itu kemudian berlutut di hadapan kedua kaki sang gadis lalu dengan perlahan mengikat masing-masing pergelangan kaki ke kaki meja hingga kini tubuh Savitri membentuk huruf Y mendatar di meja unik itu, meja yang memiliki plat kayu bergerigi melintang di tengahnya.

 

Ryoko mendekati Savitri yang menggeliat berusaha melepaskan diri dari meja itu, pinggangnya sudah mulai sakit oleh tekanan gerigi kayu itu.

“Kamu ingin tahu siapa aku? Aku Ryoko… dan aku adalah… Neraka!”

Ryoko lalu memerintahkan bodyguardnya untuk memutar roda kayu yang berada di kepala meja itu. Savitri mendengar derak kayu berputar, ia terus meronta, dan rontaannya makin kencang ketika ia merasa kalau tambang rami yang membelenggu tangannya itu makin tertarik dan mengencang.

Savitri menjerit kesakitan ketika tubuhnya dipaksa meregang di atas “The Rack” yang kini menyakitinya dengan sangat itu. Tulang rusuknya tercetak jelas di kulitnya yang meregang, bahkan sentuhan ringan tangan Ryoko di kulitnya menyebabkan sang gadis mendesis kesakitan.

“Aku adalah neraka, aku adalah dewi kematian, aku adalah sang penghukum!” kata Ryoko lagi sambil mengambil lilin besar yang menyala dan menetesi tubuh Savitri dengan lilin cair panas itu di spot-spot yang diketahuinya akan sangan menyakitkan sang gadis, seperti di puting dan di belahan vaginanya yang berambut  halus.

Dengan paha teregang Savitri tak bisa berbuat apa-apa ketika Ryoko mengambil semangkuk balsem, lalu memoleskan balsem itu ke vagina hingga ke belahan pantat sekalnya, membuatnya menjerit-jerit kesakitan. Ryoko lalu mengambil lakban dan melekatkan lakban  di selangkangan Savitri. Tangan dan kaki Savitri makin terluka ketika tangannya mengepal mendadak, ia mengejan menahan sakit. Ryoko menyentak lakban itu dengan kasar, meninggalkan kulit kemerahan di selangkanan sang gadis yang kini bersih dari rambut. Roko memberi tanda pada sang bodyguard yang lalu membuka papan kayu di bawah the rack hingga kini Savitri tergantung mengambang dengan hanya tertahan bar kayu dengan gerigi yang telah menggores pinggang dan pinggulnya itu. Si bodyguard itu lalu menyelusupkan tubuhnya dan memposisikan dirinya hingga berada di bukaan selangkangan sang gadis. Savitri melolong mohon belas kasihan…

“Tidak… Jangan… aku masih peraWAAAAAAAAAAARGGGHHHH!”

Hentakan penis sang bodyguard membuat Savitri menjerit kesakitan dan frustasi, keperawanannya direnggut semena-mena oleh orang yang tak dikenalnya, serta dalam kondisi tersiksa seperti ini, namun apa dayanya, darah keperawanan telah mengalir…. Darah juga mengalir dari kulit pergelangan tangan dan kaki yang terluka akibat gesekan tambang rami itu.Dan Savitri kembali panik ketika ia merasakan hangatnya sperma yang ditembakkan secara seenaknya oleh pemerkosanya di dalam rahimnya….

“Aku tidak mau hamiiiiiilllll!” teriaknya.

Ryoko terkekeh dan berkata, “Telat… Benihnya sudah berenang ke dalam, siap membuahi telurmu…  hahaha…  harga yang pantas untuk reportasemu, kan?”

Rasa frustasi beralih menjadi murka, “Anjing kamu Ryoko… aku bunuh kamu…. Aku akan AAAAAAAAAAARGGGGH!”

Kini anusnyalah yang mengeluarkan darah keperawanan ketika Ryoko menyodokkan sebuah dildo ke dalamnya tanpa pemberitahuan.

“Aku yang akan membunuhmu gadis kecil,” balas Ryoko dingin.

Ryoko lalu memberi tanda kepada sang bodyguard yang mengendurkan the rack, lalu membebaskan Savitri yang sudah lemas itu. Savitri hanya bisa merintih kesakitan ketika kedua tangannya diikat dengan erat di belakang tubuhnya. Kedua sikunya diikat erat hingga hampir menyatu. Bodyguard itu lalu mengikatkan pergelangan tangan tangan Savitri dengan pergelangan kakinya, ia lalu membentuk simpul sehingga tali di siku Savitri berhubungan dengan tali di mata kakinya.

 
Ryoko


Savitri yang lelah bisa mendengar rantai diturunkan dari langit-langit. Yang tak ia sadari adalah ketika sebuah kait besar dikaitkan ke simpul itu dan…Savitri kembali menjerit-jerit kesakitan ketika tubuhnya melayang di udara denga posisi menyakitkan itu, ia kini memohon-mohon belas kasihan Ryoko. Ryoko justru memerintahkan sang bodyguard untuk membawa sebuah heater dan menyalakannya tepat di bawah tubuh Savitri. Selain itu sepasang vibrating dildo dicolokkan ke vagina dan anus Savitri yang beberapa saat lalu masih perawan itu. Erangan, rintihan dan geliat tubuh Savitri yang kesakitan dan kepanasan itu malah seakan menambah nafsu Ryoko yang bagai tanpa perasaan menikmati hidangan mewah di meja dekat Savitri tergantung. Dan ketika Ryoko selesai menikmati hidangannya, Savitri sudah hampir pingsan dengan keringat yang membanjir dan bagian depan tubuh yang memerah bagai udang rebus.

Ryoko berbisik di telinga sang gadis yang kepalanya terkulai lemah itu, “Jangan pingsan dulu karena aku belum lagi mulai menyiksamu…”

Ia lalu memerintahkan sang bodyguard untuk memanggul tubuh sang gadis yang sudah sangat lemah ke halaman belakang villa besar yang menjadi sarang penyiksaannya itu. Halaman belakang itu sangat luas, namun itu semua tak ada harganya di hadapan Savitri yang begitu kelelahan menerima siksaan beruntun di tubuhnya, ditambah kenyataan kalau keperawannnya baru saja direnggut paksa.

Savitri hanya pasrah ketika ia dipaksa berbaring telungkup di rumput basah halaman belakang villa itu. ia begitu lelah untuk sekedar melawan ketika diposisikan hingga wajahnya menyamping bertemu tanah basah, sementara pantanya dibuat menungging tinggi. Dua batang leg spreader diikatkan ke pergelangan kakinya serta di balik lututnya memaksanya mengangkang, lalu kedua spreader itu dieratkan ke pasak yang tertancap di tanah. Kedua tangannya diposisikan disamping tubuhnya yang menungging tak wajar itu lalu juga diborgol ke leg spreader di mata kakinya. Lalu untuk menambah kuncian di tubuhnya, lehernya diberi penahan hingga kepala sang gadis tak bisa ditolehkan ke sisi yang lainnya. Dan sebuah ring gag besar dipasang oleh Ryoko sebagai aksesori terakhir.

“Nikmati istirahatmu, Savitri…” kata Ryoko sambil mengajak sang bodyguard meninggalkan Savitri terbelenggu kedinginan oleh angin pegunungan, dan sengatan matahari yang menyakiti punggung dan pantatnya yang menjulang tinggi.

Mulut sang gadis mulai kering karena liur yang selalu keluar dari mulutnya yang membuka lebar itu. Ia menangis… Embikan domba mengagetkan Savitri….Ia bisa melihat kaki-kaki domba yang berkeliaran merumput di sekelilingnya, namun yang tak disangkanya, ia mendengar suara orang….

“Euleuh euleuh…. Geuningan aya bondon anyar nyi Ryoko….”

Savitri mencoba menjerit, namun ring gag itu jelas mengenyahkan maksudnya, dan teriakannya tak membuahkan apa-apa… Ia frustasi, ia bisa merasakan tangan kasar sang gembala meremasi pantanya, dan….airmata sang gadis kembali membasahi rumput ketika penis sang gembala dengan bebasnya mengakses vagina dan anusnya sesuka hati dan kemudia mengisi rahimnya dengan benih kotor. Sesudahnya, dingin yang menusuk tulang menjadi teman bagi tubuh ternoda sang gadis…. Bunyi jangkrik memenuhi malam ketika telinga Savitri mendengar langkah beberapa orang mendekati dirinya….Ia menggumam… memohon Ryoko untuk melepaskan dirinya…Namun….

“Anjrit… Mang Odet teu ngabohong euy…. Alus pisan awakna iyeu bondon, yeuh.” kata orang itu, dan Savitri bisa merasakan beberapa pasang tangan meremasi payudaranya, mengelusi tubuhnya… kenyataan banyaknya sperma kering tak membuat nafsu mereka berkurang, malah makin menjadi.

“Nyi Ryoko memang hebat, bisa ngadapetkeun bondon elit jiga kieu…” kata seorang dari mereka.

“He’euh… bari Nyi Roko ngijinankeun urang-urang ngijut bondon anyarna, garatis deui….”

Jiwa Savitri langsung terbang ke kehampaan ketika ia mendengar bunyi celana yang diturunkan…. Dan kemudian ia kembali disetubuhi, tanpa bisa menghindar.

“Jang… maneh di mana?” ujar orang yang sedang memerkosa savitri sambil menelepon.

“Buru ka dieu…. Ajak nu lainna, nya… he’euh… pokonamah kualitas nomor hiji nu ieumah… henceutna ngagriplah pokonamah….Buruan nya… aing meju heula yeuh….uuuggghhhh!”

Berapa banyak yang harus ia layani?

 

Sementara dari balik tirai villa, Ryoko nampak senang melihat pemuda-pemuda pengangguran, pengemis, pengamen, dan gelandangan bergantian menikmati tubuh terbelenggu Savitri. Ia lalu memandang ke arah sang bodyguard lalu tersenyum mengundang….Dan malam itu dua persetubuhan terjadi….Persetubuhan liar Ryoko dengan sang bodyguard, dan pemerkosaan massal yang dialami Savitri. Dan ketika Ryoko tertidur pulas bersama sang bodyguard, Savitri harus menahan dinginnya angin malam yang ditambah hujan lebat yang mendadak turun seakan ingin ikut menyiksa sang gadis. Mentari mulai meninggi ketika Savitri terbangun. Belenggunya telah dilepas, namun Savitri terlalu lemah untuk bergerak… namun dengan sisa tenaga yang ada ia bangkit untuk mendapati penis sang bodyguard yang berada tepat di hadapan wajahnya. Ketika ring gag-nya dilepas, mulut sang gadis tetap membuka karena masih terasa kaku. Ia disuruh berlutut, lalu penis itu mendesak masuk ke mulutnya hingga mentok. Sang bodyguard mencengkeram kepala Savitri dan mulai memaju mundurkan kepala Savitri. Dengan tidak sabar sang bodyguard menggerak-gerakkan pinggulnya dengan keras lalu menyemburkan sperma kentalnya ke dalam mulut sang gadis. Ironisnya, Savitri sedikit bersyukur karena bisa menghapus rasa dahaga yang melandanya.

Ia tak menolak chain strap yang dipasangkan di lehernya, dan mengikuti dengan gontai langkah sang bodyguard masuk ke dalam villa siksa.

 

*****

Savitri diberi makan dan minum secukupnya tapi kemudian kembali diperkosa. Tiga hari tiga malam dalam neraka bagi Savitri. Sesudah seluruh kekuatan fisik dan semangatnya terkuras dan jiwanya remuk, Ryoko muncul kembali di hadapannya.

 “Bunuh aja... aku....” pinta Savitri lemah, ketika berhadapan dengan Ryoko yang berdandan lebih kalem, sebagaimana seorang executive lady yang sedang menikmati liburan

“Bunuh? Non wartawati, aku bukan pembunuh. Tapi pengusaha baik-baik. Kerjaku bikin orang senang. Buat apa aku bunuh kamu?”

Savitri tak kuat untuk menantang lagi. Kemaluannya terasa sakit sesudah dipakai non stop.

“Kamu badannya bagus, lho...” kata Ryoko. “Sayang kalau diumpetin terus. Gimana kalau pindah kerja sama aku aja? Bayarannya lebih gede, kerjanya lebih enak.”

Savitri menggeleng.

“Tapi kamu nggak bisa nolak. Aku ada job yang pantas buat kamu... Savitri?” Ryoko mengangkat kartu identitas jurnalis yang diambilnya dari bawaan Savitri. “Aku punya nama yang lebih bagus buat kamu. Thalia. Suka nggak?”

Savitri tidak diberi kesempatan menjawab. Anak buah Ryoko kembali meringkusnya...

 

*****

Selama dalam penyekapan, Savitri sempat berusaha tawar-menawar dengan Ryoko. Salah satunya dengan menggunakan Irina. Savitri menuding Irina sebagai penyusup. Ryoko mengatakan, kalau informasi itu asli, Savitri boleh bebas asalkan tidak mengungkap berita tentangnya (tentu sambil mengancam bahwa dia akan diawasi). Sementara kalau bohong.... Maka Ryoko pun memanggil Irina ke villa, sambil pura-pura mengamuk dia mencoba mengkonfrontasi Irina. Tapi reaksi Irina yang menantang Ryoko untuk membunuhnya dengan pisau bedah membuat Ryoko lebih percaya Irina daripada si wartawati. Berminggu-minggu Savitri kembali menjalani neraka. Lebih parah daripada sebelumnya. Tubuhnya tak hanya dipakai. Tapi juga diubah. Dia telah menjadi objek rencana keji Ryoko... yang oleh Ryoko sendiri disebut “inovasi jasa” dalam bisnisnya.

Dan sekarang...

 

*****

Begitu tudung itu terbuka, Irina langsung menarik tali pengikat yang terhubung ke kalung ketat di leher Savitri. Bukan, bukan lagi Savitri.

“Pak Prabu, ini Thalia,” Ryoko memperkenalkan.

Sulit mengenali Savitri yang dulu, yang sebagian besar tubuhnya tak kelihatan untuk umum. Yang ada di hadapan Prabu adalah seorang perempuan yang telah dimodifikasi, bernama baru Thalia. Payudaranya telah diperbesar sehingga kelihatan seperti sepasang bola yang bergelantung padat di dadanya, dengan pentil mencuat seperti peluru. Rambutnya merah, semerah bibirnya yang penuh dan basah. Dan bibirnya terpaksa membuka memuat ball gag dalam mulutnya. Masing-masing telinganya ditindik dua lubang dan digelantungi anting lingkaran emas besar. Kuku-kuku jarinya juga diwarna merah, namun itu belum terlihat oleh Prabu karena kedua tangannya diikat di belakang punggung. Dia mengenakan sepatu hak tinggi dan tubuhnya hanya tertutup sabuk-sabuk kulit. Di depan pusarnya ada satu cincin besi terhubung ke empat sabuk. Satu sabuk menghubungkan cincin itu ke kalung ketat dan lewat di antara sepasang payudaranya yang diperbesar, dua melingkari pinggang, satu lagi ke bawah menyelusup di kemaluannya yang tak tertutup lalu naik lagi ke cincin lain di punggung. Cincin di punggung tidak terlihat karena tertutup rambut merah yang panjang sampai ke sana. Sabuk yang melewati kemaluannya juga menahan dua benda tepat dalam posisinya: dua vibrator, satu dalam vagina, satu dalam anus.

“Suka nggak?” tanya Ryoko.

Prabu tersenyum lebar lalu mendekati Thalia. Ketika telah dekat dia mempelajari seluruh perubahan yang dibuat Ryoko pada tubuh Thalia. Prabu meraba payudara baru Thalia, tidak muat di satu tangan saja. Rambut merah menyala di samping telinganya disibak; terlihat earphone masuk ke telinga Thalia. Ketika dicabut, dan Prabu coba mendengarkan, yang terdengar adalah suara perempuan mendesah ketika disetubuhi, juga meminta-minta disetubuhi dengan kata-kata mesum, sambil mengaku sebagai pelacur, lonte, cewek murahan, dan semacamnya.

“Itu suara dia sendiri, yang direkam terus kusuruh dia dengar lagi terus-terusan,” Ryoko menjelaskan.

“Conditioning ya... Atau hipnotis diri sendiri?” Prabu meneruskan pemeriksaannya. Lalu ke bawah. Vagina Thalia banjir karena dirangsang terus.

“Moga-moga tidak ada yang netes ke lantai, sayang karpetnya mahal, haha,” Ryoko bercanda. “Lagian biar dia basah terus, supaya siap pakai.”

“Menarik...”

Ke atas lagi, Prabu melihat bahwa kalung ketat yang dipakai Thalia punya liontin berupa tulisan “BITCH”.  Mata Prabu memancarkan kepuasan ketika melihat tato di atas vagina Thalia mengikuti alur perut bawahnya yang datar itu, tulisan “FUCK ME HARD” sementara di atas belahan pantat sekal Thalia ada tato “LONTE”. Wajah Thalia juga dirias tebal. Kelopak matanya diwarnai kombinasi biru-ungu, alisnya dibentuk dengan sulam alis. Prabu sedang memperhatikan bibir merah Thalia ketika Ryoko menceletuk, “Itu dibikin permanen juga lho.”

“Permanen?”

“Iya. Eyeliner-nya juga. Kalau lainnya sih nggak, tergantung yang ngedandanin aja.”

Prabu sekali lagi memperhatikan gadis yang sudah diubah total itu. Lalu Ryoko menyodorkan dua foto: satu foto penampilan lama Savitri, satu lagi foto telanjang Savitri sebelum diubah.

“Seperti ini ya hasil ‘Sex Doll Project’ yang kamu tawarkan... Sangat menarik!” Prabu antusias.

“Kan udah kubilang, I put your money into good use,” ujar Ryoko bangga. “Pasti lebih asyik daripada patung cewek telanjang kan....”

“Pasti,” kata Prabu singkat. “Tapi satu lagi: Performance. Kalau bukan cuma tampang... pasti hebat banget.”

Ryoko menoleh ke Irina.

“Your turn,” kata Ryoko sambil melangkah meninggalkan Prabu untuk menikmati sex doll barunya itu

 

Dan Prabu benar-benar tidak kecewa. Di dalam kamar mewahnya itu ia menikmati bagaimana Irina mengintimidasi Thalia, menampari pantat sekal sang gadis, memecuti sang gadis dengan menggunakan riding crop, lalu memerintah sang gadis untuk merangkak ke arah sang tuan, lalu menurunkan resleting celana Prabu hanya dengan menggunakan gigi.  Irina lalu menjambak rambut Thalia, membuka paksa mulut sang gadis dan menekan kepala sang gadis hingga seluruh batang penis sang tuan bersarang di hangatnya mulut dan kerongkongan Thalia. Sang tuan begitu menikmati suara seruput dan kecipak mulut Thalia yang memulas penisnya, menikmati sensasi lidah yang membasahi penisnya dengan liur yang berleleran hingga ke buah zakarnya, bahkan sampai ke lubang anusnya. Prabu tak tahan lagi, ia merenggut tubuh montok Thalia ke atas kasur dan segera menindih tubuh sekal sang gadis dengan payudara baru yang kini habis diremasinya, dicupanginya digigitinya. Dan gairahnya makin menggila ketika di belakang pantatnya yang bergerak ritmis menumbuki selangkangan Thalia, Irina membuka celah pantat sang tuan dan memberi anal rimming terhebat yang pernah dirasakan Prabu. Akhirnya lelaki itu mengecup kening kedua gadis yang berada dalam pelukannya. Ia lalu bangkit dari ranjang empuk tempat pertempuran birahi mereka.

“Beristirahatlah kelinci-kelinci kecilku. Kita akan bermain lagi nanti,” katanya sambil berganti pakaian.

Pintu kamar itu menutup…Savitri menerjang Nisa hingga Nisa terjengkang dari tempat tidur. Gadis itu menyerbu Nisa dengan membabi buta, namun Nisa dengan tenang melayani serangan membabi buta Savitri yang penuh emosi itu hingga akhirnya Savitri kelelahan. Tamparan keras dari Nisa mambuat Savitri terhuyung dan terhempas ke atas kasur. Savitri meraung frustasi sebelum akhirnya menangis sejadinya. Ia merapatkan pahanya ke dada, mendekap lututnya, merundukkan kepala, dan terisak. Cukup lama Nisa membiarkan Savitri menangis sebelum akhirnya ia beringsut, mendekati Savitri dan merangkulnya. Savitri merapatkan wajahnya ke dada Nisa dan kembali menangis di sana.

“Aku benci kamu… aku benci kamu…” tangis Savitri dalam pelukan Nisa.

Nisa membiarkan tangan sang gadis memukuli punggung dan dadanya, ia biarkan Savitri meluapkan amarahnya.

“Kenapa kamu nggak tolong aku? Kenapa kamu biarin mereka nyiksa aku, bikin aku seperti ini?” isaknya lagi.

“Aku nggak bisa balik lagi ke kehidupanku…  aku sekarang jadi apa…?”

Namun Nisa belum bisa berbuat banyak, karena waktunya belum tiba. Ia harus kembali ke Ryoko… meninggalkan Thalia di tangan Prabu.

 

****

Beberapa malam berikutnya…

 
Juanisa


Malam itu Nisa kembali merasakan kedamaian, ia kembali berada dalam pelukan ‘bapaknya’, Bambang Harjadi. Ini sudah kelima kalinya ia di-booking Kombes Bambang. Lama-lama Nisa merasa bangga dapat mempersembahkan tubuhnya bagi idolanya, dapat memberikan kepuasan ragawi bagi sosok yang sangat dikaguminya itu, dan ia merasa sangat hangat dalam peukan lelaki itu.

Dan Nisa merasa sangat dihargai ketika sang perwira mulai mengajaknya berbicara.

“Bagaimana kabarmu, nDuk?” tanyanya sambil mengusap kepala Nisa, bagai mengusap anak kecil yang sangat menggemaskan.

“Saya selalu siap menjalankan amanah dari bapak,” jawabnya sambil mengelus dada sang perwira.

“Bagaimana kabar tentang wartawati yang hilang itu?” tanya sang perwira. Nisa terkejut dan kagum atas ketepatan informasi yang dimiliki sang perwira dan bagaimana Kombes Bambang mampu mendeduksi bahwa ada kaitan antara kasus itu dengan Ryoko.

“Saya tidak bisa selamatkan dia…” kata Nisa lirih, “Tubuhnya sudah diubah, dia tidak bisa apa-apa lagi kecuali menjadi pemuas laki-laki.”

“Kamu sendiri?” tanya sang perwira, yang kembali membuat Nisa sedih karena ia khawatir apakah masih bisa menjadi Ipda Nisa yang dulu.

“Saya…. Saya siap jalani penugasan ini sampai selesai…” jawab Nisa yang membuat sang perwira memberi kecupan kepuasan di dahi sang gadis yang makin mengeratkan pelukan di tubuhnya.

“Maaf Pak… Bagaimana dengan komandan Rasidi? Kalau info saya tidak salah… dia membocorkan penyusupan saya di jaringan Ryoko ke Savitri. Dia mungkin mau mencelakakan saya, Pak.”

Sang perwira terdiam… skenario demi skenario berseliweran dalam benaknya… dan akhirnya ia berkata.

“Biar aku sowan ke tempat tugas Rasidi…. Aku akan siapkan sesuatu untuk bereskan dia. Tapi setelah itu, kamu harus siap hadapi Rasidi. Ia kejam…. Berhati-hatilah, nDuk. Dan kalau perhitunganku benar, Ryoko akan bergerak untuk membantumu… dan caranya membantu akan dapat memberi jalan untuk menghentikan sang ratu germo…”

Adrenalin Nisa timbul demi mendengar rencana yang disampaikan sang perwira. Rasa girang dan terlindungi membuatnya bahagia, maka sambil bangkit dan menurunkan selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka, Nisa berkata dalam desahan kepada sang perwira…

“Saya siap jalankan perintah Bapak… dan saya akan layani Bapak sebaik-baiknya.”

Dan sang perwira mendesis nikmat ketika Nisa memberinya deepthroat dan memberi liukan pinggul terhebat dalam posisi cow girl yang liar….

 

****

“Goblok kamu Nisa! Kenapa telat laporin transaksi Ryoko? Kita jadi kehilangan peluang tangkap dia!” sembur Rasidi, yang beberapa jam lau habis dimaki-maki Bambang Harjadi yang melakukan inspeksi mendadak ke kantornya didampingi beberapa ajudan.

Kini Rasidi balik memaki-maki Nisa di kantor yang telah sepi karena hari yang telah malam. Hanya tiga anggota jaga yang notabene pengikut setia sang komandan yang tetap ada di sana.

“Kamu sekarang udah lebih suka jadi WTS-nya Ryoko ya!?”

Sambil berdiri dengan sikap sempurna Nisa menahan semua kegeramannya. Secara struktural dan kode etik, ia tau kalau ia tak bisa membantah sang komandan. Terlebih ia sudah bersumpah pada panutannya untuk bertahan walau apapun yang terjadi….

“Siap, tidak Komandan!” hanya itu yang bisa dia katakan.

Rasidi menekan intercom dan memerintahkan tiga petugas piket untuk masuk ke dalam kantornya. Ia segera memberi perintah.

“Telanjangin perek  ini, dia nggak pantas memakai seragam polisi!”

“Siap Komandan!” kata ketiga orang yang tanpa hati mau saja melaksanakan perintah yang tidak layak itu. Nisa mencoba meronta, namun tenaganya jelas kalah melawan tiga serigala kelaparan yang menangkap mangsa. Seragam yang dikenakan Nisa dengan rasa bangga kini tergeletak di lantai, dan tak lama kemudian pakaian dalamnya direnggut paksa.

Tubuh sang gadis dipaksa menelungkup di meja dinas sang komandan dengan tangan ditelikung ke belakang tubuhnya. Nisa terus berusaha meronta. Ia melihat Rasidi melangkah ke belakang tubuhnya. Dan…Swoooossssshhh……CTAAAARRRR!!!!

Nisa menjerit dari dasar paru-parunya. Sabetan rotan yang biasa digunakan Rasidi untuk menyiksa tahanan menyentuh bagian belakang kedua pahanya dan meninggalkan bilur keunguan di kulit mulus sang gadis. Lalu pecutan itu bergerak liar sekenanya, di betis, di pantatnya. Dan ketika tangannya dipaksa terentang ke samping, gilran punggungnya yang menerima belaian rotan itu.

Dan jeritan terdengar ketika sabetan rotan itu menghantam vaginanya.

“Enak, kan, lonte?” bentak Rasidi sambil menurunkan celananya. “Sekarang, kamu jadi lonte buat kita aja!” katanya dengan penuh ejekan sambil menghujamkan penisnya ke dalam anus Nisa. Nisa kembali menjerit-jerit kesakitan dan mendesis-desis menahan perih karena ketiga serigala lainnya menjilati bekas luka di tubuhnya, juga meremasinya dengan kasar, sekasar sentakan penis Rasidi di anusnya. Polisi bejad itu lalu mencabut penisnya dari anus Nisa yang kini menganga, lalu ia memerintahkan anakbuahnya untuk menelentangkan tubuh Nisa di atas meja kerjanya lalu mengatur posisi sang gadis hingga kepalanya terjuntai di ujung meja. Nisa melejang-lejang….

Dengan buas Rasidi memperkosa mulut Nisa menggunakan penis yang baru saja bersarang di anusnya. Ia tersedak oleh penis yang dilesakkan dengan kasar ke dalam tenggorokannya, hingga ia megap-megap bahkan muntah dan mengotori wajahnya. Sementara di selangkangannya yang terjuntai… para serigala berseragam polisi mulai menghujamkan penis mereka di vagina dan anus sang gadis. Mereka begitu girang karena bisa menikmati polwan tercantik di kesatuan mereka yang selalu menjadi objek masturbasi mereka. Nisa begitu lemah, tubuhnya bagai kain usang yang dilempar ke sana-ke mari seenaknya, dipergunakan untuk memuaskan birahi mereka. Akhirnya keempat orang itu menghela nafas lega. Nafsu mereka sudah terlampiaskan. Mereka memandang tubuh Nisa yang tergeletak di lantai, luluh lantak, penuh luka, cupangan, bekas remasan dan tamparan, serta belepotan sperma. Mereka puas bisa merendahkan gadis itu, membuatnya tak berharga. Rasidi lalu berkata pada anak buahnya,

“Lempar pelacur ini ke dalam sel, biar malam ini dia ladeni bajingan-bajingan di dalam sana.”

Nisa begitu lemah, ia tak sanggup lagi meronta ketika diseret ke dalam sel besar yang berisi sekitar sepuluh tahanan yang segera bersemangat karena mendapatkan penghangat tubuh di malam itu.

Malam itu neraka menghampiri Nisa.

 

****

Ryoko yang cemas karena sudah tiga hari tak mendengar kabar Irina segera mendatangi kamar kos sang gadis.

“Astaga! Irina…. Apa yang terjadi?” Ryoko panik melihat luka di sekujur tubuh sang gadis, juga bekas gigitan dan cupangan yang belum lagi sembuh.

“Aku diciduk dan diinterogasi polisi… Mungkin gara-gara fitnah Savitri…”

“Dia lagi…” umpat Ryoko.

“Dia sudah membayarnya, kak…” bela Irina, “polisi saja yang sudah terlanjur curiga”

“Apa kamu….”

“Cuma liurku, muntahanku, dan peju mereka yang nggak kutampung yang keluar dari mulutku.”

Ryoko tertegun dengan keketusan Irina, namun ia sadar, ia memang takut Irina tak kuat siksaan dan akhirnya ‘bernyanyi’ pada polisi.

“Maafkan aku Irina…. Mari, kita pulihkan tubuhmu dengan perawatan terbaik. Dan jangan takut… aku akan mengatur orang-orangku untuk memberi pelajaran kepada bajingan itu.

Benar-benar seperti dugaan bapak…’ batin Nisa yang semakin kagum dengan panutannya itu, yang memiliki pemandangan jauh ke depan.

Dan dengan langkah perlahan, ia mengikuti Ryoko….

 

***

Wajah Rasidi pucat pasi bagai kapas, ketika rekaman video penyiksaannya pada Nisa terpampang jelas di ruang kerja Bambang Harjadi…..Dan perintah mutasi dan demosi menjadi hukuman baginya. Dia dipindah ke sektor terpencil di perbatasan timur negara… .Kelak Nisa akan melihat lagi nama Rasidi di koran, sebagai korban tewas ketika pos yang dipimpinnya diserang gerombolan separatis.  Dan yang tidak masuk koran namun diberikan kepadanya oleh Kombes Bambang Harjadi, foto-foto wujud terakhir Rasidi di dunia. Mayat termutilasi yang kehilangan berbagai anggota tubuh, termasuk yang pernah dipakainya menyiksa anus dan mulut Nisa. Sementara ketiga bawahannya “bernasib buruk". Ada yang dikeroyok massa yang diprovokasi orang suruhan Ryoko. Ada yang mati di atas perut seorang pelacur murahan yang dengan sengaja menaruh racun ke dalam minuman. Dan yang seorang lagi ditabrak truk besar…

 

***

“Aku masih ingat cara kamu melihatku waktu pertama kali kita ketemu, Irina,” kata Ryoko lembut. Mereka telah berada jauh dari kota. Ryoko membawa Nisa ke suatu spa di pinggir laut, milik salah seorang langganan lamanya.

“Apa yang kamu lihat waktu itu?” Nada bicara Nisa lemah pasrah. Tubuhnya yang lelah memang sudah tidak sesakit ketika dia baru saja lepas dari siksaan namun belum pulih. Dia telungkup telanjang di atas ranjang selagi seorang perempuan tukang pijat melemaskan otot-ototnya. Sesekali dia merasakan tangan Ryoko ikut mengelusnya.

“Diriku waktu dulu, Irina…” kata Ryoko. Selanjutnya Ryoko menyuruh si tukang pijat pergi.

“Eh, kok si Mbak disuruh pergi?” Nisa heran.

“Biar aku sendiri yang melayani kamu kali ini…” kata Ryoko. Kemudian Ryoko mulai memijat punggung Nisa.

“Aku masih bisa ilmunya…” kata Ryoko. “Dulu sekali aku mulai dengan memijat. Sebagian besar yang kupijat laki-laki. Aku belajar tentang tubuh manusia dari memijat. Termasuk bagian itunya laki-laki yang sebenarnya otak sejati mereka…”

“Ahhmmm,” Irina menggumam keenakan. Rasa aman dan tenang melanda dirinya, disampaikan oleh sentuhan Ryoko, selagi Ryoko meneruskan cerita masa lalunya. Ryoko yang awalnya bekerja sebagai terapis pijat plus-plus jadi kenal banyak laki-laki, dan sempat jadi simpanan seorang pejabat. Ketika kepergok istri pejabat itu, dia pun diusir dan kembali ke dunia malam. Relasi-relasi lamanya kadang mengontak dia lagi, baik untuk membooking dia maupun meminta dia mencarikan penghibur. Lama-lama Ryoko “naik kelas”. Dia pacaran dengan seorang aparat dan dibiayai kuliah, sehingga kehidupannya pun menanjak. Lulus kuliah, dia gagal dinikahi aparat itu karena tidak disetujui orangtuanya, lalu dia pun beralih ke pelukan seorang pengusaha. Tapi lagi-lagi kisah cintanya kandas karena pengusaha itu kurang percaya dengan Ryoko. Sementara itu dunia malam tak pernah lepas dari dirinya. Orang terus memanfaatkan jasanya. Akhirnya Ryoko pun menjadi germo dengan jaringan prostitusi kelas atas yang besar.

“Balik badan,” kata Ryoko. Nisa mengikuti perintahnya. “Aku ingin berikan sesuatu buat kamu…”

Nisa telentang di atas ranjang pijat. Ryoko duduk di sebelahnya. Spa itu adalah spa mahal dengan privasi terjaga dan pemandangan luar biasa; kamar tempat mereka berada berjendela besar, membuka ke arah laut. Tidak bakal ada yang mengintip karena kamar itu terletak di pinggir tebing yang langsung berbatasan dengan laut. Nisa melihat Ryoko berpenampilan “geisha” seperti biasa, dengan rambut digelung di atas kepala dan kimono hitam.

Ryoko mulai memijat payudara Nisa. Dimulai dengan menepuk-nepuk bagian samping, lalu memijat sampingnya dengan menekan ke atas sehingga sepasang bukit itu membusung lalu melepasnya, berkali-kali.

“Hihi,” Nisa kegelian. “Ini biar apa, biar gede?”

“Enggaklah. Biar enak aja. Kalau mau bikin gede apa mau dibikin seperti si Thalia?”

Keduanya cekikikan genit. Kalau hanya mendengar itu saja, orang akan mengira ada dua gadis remaja bercanda. Bukan seorang polwan dan germo.

Dan Ryoko melanjutkan dengan menyentuh kedua puting Nisa dengan ibu jari dan telunjuk. Dengan lembut dia memutar keduanya, searah jarum jam lalu berbalik.

“Enak?” tanyanya.

Nisa mengangguk sambil tersenyum. Lalu Ryoko menaruh kedua telapak tangan di atas masing-masing puting dan kembali melakukan gerakan memutar. Kemudian pelan-pelan dia menarik ke atas puting Nisa satu demi satu, mencubit halus dengan ibu jari dan jari tengah, membuat puting Nisa mencuat. Gerakannya sangat lembut dan perlahan. Nisa menggelinjang dan mendesah keenakan.

Ryoko lalu turun memijat bagian depan betis Nisa, naik ke atas ke paha, lalu pangkal paha.

 

Pijat sensual itu mencapai bagian paling sensitif. Ryoko membasahi tangannya dengan minyak aromaterapi lalu menggosok-gosokkan kedua tangannya. Dengan lembut dia mengusapkan minyak ke sekujur bagian luar kewanitaan Nisa, bibir luar kiri dan kanan, terus ke bawah sampai anus. Ujung ibu jarinya mengelus bagian luar anus Nisa lalu berjalan ke atas, ke ujung bawah rekahan vagina. Rekahan itu dibuka lembut dengan kedua ibu jari, kedua bibir bawah luar Nisa dipijat-pijat, lalu Ryoko masuk lagi ke dalam. Terlihat bibir-bibir itu membengkak, tanda Nisa terangsang.

Jari-jari Ryoko lalu mengelus klitoris Nisa. Dua jarinya merangsang kacang kecil penuh syaraf sensitif itu. Ryoko merasakan Nisa terus menggelinjang, meracau tak keruan karena keenakan. Nisa memang terbawa oleh suasana kamar yang membuai, musik yang menghanyutkan, dan sentuhan Ryoko yang memabukkan. Sejenak dia melupakan bahwa yang sedang memberinya kenikmatan adalah orang yang akan dia seret ke pengadilan dan penjara kelak. Vaginanya sudah banjir, cairannya sendiri bercampur pelumas dari tangan Ryoko. Apalagi Ryoko juga berbisik-bisik di telinganya memuji kecantikannya.

“Irina… Ayo buka kakimu buat aku…” Nisa mengangkang dan Ryoko bersimpuh di depannya.

Ryoko lalu mencolokkan jari tengahnya ke dalam liang kewanitaan Nisa dan mulai mencolek-colek G-spot Nisa di dalam. Setelah beberapa colekan jari telunjuknya ikut masuk menggoda. Menekan, memutar-mutar. Ryoko memperhatikan reaksi Nisa terhadap semua perubahan gerakannya dan menyesuaikan. Sesudah menemukan tempat yang tepat, Ryoko merangsangnya tak henti-henti, membawa Nisa mendaki puncak gairah. Dinding dalam vaginanya mulai terasa menggembung.

“Ayo terus sayang, enak kan dirangsang gini? Enak ya Irina? You sound so sexy babe… Scream for me, ayo Irina, aku pengen kamu ngejerit keenakan sayang…” Ryoko juga terus merangsang otak Nisa dengan kata-kata. Nisa mulai merasakan ada sesuatu yang tak tertahan. Bukan, ini bukan orgasme biasa… Ada sesuatu yang lebih yang mau ikut keluar. “Ahh… AHN! RYO…KO!... DKIT… LAG…GIH! KLU… ARH!” racaunya.

“Rileks, Irina… Jangan ditahan…!” perintah Ryoko. Dia tahu bahwa apa yang hendak diberikannya, sebenarnya harus dihasilkan sendiri oleh Nisa.

“AHHHH!!! HHHNGGG!!!”

CRAATTT!!

Ryoko langsung menarik tangannya ketika air bening memancar dari dalam vagina Nisa. Nisa merasa seperti meledak; dia mendapat squirting orgasm untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia sampai merasa pandangannya berkunang-kunang. Tubuhnya seperti meledak, dibuyarkan kenikmatan yang memancar ke mana-mana. Jeritannya panjang dan keras, membuat Ryoko tersenyum bangga. Ryoko langsung memeluk dan mencium pipi Nisa yang terengah-engah sesudah semburannya berhenti. “I hope you like my gift,” bisiknya. Nisa tak kuasa menjawab, karena masih dilanda euforia.

 

*****

Nisa terbangun beberapa jam kemudian, sesudah tidur pulas karena orgasme yang kuat. Ryoko sudah tidak bersamanya.

“Ke mana dia?” Nisa mencari pakaian di dalam kamar spa itu. Dilihatnya kimono handuk. Di dalam sana juga ada shower, sehingga Nisa memutuskan untuk mandi air panas dulu, lalu dia mengenakan kimono handuk itu dan keluar kamar.

Ketika berjalan di koridor, Nisa mendengar jeritan perempuan. Ryoko?

“Hyaahh!!”

BUGG!

Nisa langsung berlari menuju arah suara. Dia membuka satu pintu.

BUKK! DHESS!

Dan di dalam ruangan itu dilihatnya Ryoko sedang bertarung dengan seorang laki-laki.

Ruangan itu adalah ruangan gym, di tengahnya ada ring dan Ryoko di sana sedang sparring dengan seorang bodyguard-nya. Baru kali ini Nisa melihat Ryoko seperti itu. Ryoko ternyata cukup menguasai kickboxing. Namun si bodyguard sepertinya diminta untuk serius karena dia tidak cuma jadi sansak. Sesudah menangkis satu tendangan Ryoko dan menerima satu lagi tanpa bergeser, dia balas menerjang Ryoko sehingga Ryoko terpental mundur sampai tali ring. Seolah-olah mau menghancurkan musuh dia berusaha menginjak Ryoko yang terhuyung hampir jatuh. Ryoko dengan gesit berkelit memutar lalu menarik lengan si bodyguard sekaligus mengacau keseimbangan lawannya—jurus aikido—dan membuat tubuh besar si bodyguard terbanting ke kanvas.

Pada saat itulah Ryoko melihat Nisa.

“Oh, sudah bangun?” sapanya.

“Aku baru tau kamu bisa bela diri juga,” kata Nisa. Sebagai polwan yang punya kemampuan bela diri, Nisa jadi penasaran ingin menjajal kemampuan Ryoko. Tapi dia menahan diri. Itu bisa membuka penyamarannya.

“Ah, ini cuma hobi. Ya… mungkin ada gunanya juga. Cewek kayak kita harus selalu bisa jaga diri kan?” Ryoko lalu pasang kuda-kuda lagi melihat si bodyguard bangun. “And more than that…”

Tubuh anggun Ryoko melayang dalam tendangan terbang ke arah muka si bodyguard, yang langsung menghindar. Nisa tidak bisa tidak mengagumi gerak keduanya. Si bodyguard menubruk dan memiting Ryoko dari belakang. Ryoko tak bisa lepas dalam rangkulannya… atau tidak? Ryoko langsung menjatuhkan diri sambil menyeret tubuh si bodyguard ke bawah sehingga keduanya jatuh berdebam di kanvas.

“I find it…” Ryoko bangun lebih cepat, dia langsung melilitkan tubuhnya ke si bodyguard. Tak lama kemudian si bodyguard dalam posisi tak berdaya, lehernya terjepit sepasang paha Ryoko sementara lengan kanannya ditelikung…

“…sexy.”

Ryoko berdiri, menarik lengan si bodyguard yang masih ditelikung sambil menginjak kepalanya. Laki-laki bertubuh besar itu dipaksa menungging dengan kepala diinjak.

“Irina! Lemparin yang di atas bangku itu,” perintahnya. Nisa memungut benda yang dimaksud. Borgol… Dia lemparkan sepasang gelang baja berantai itu tepat ke Ryoko, yang dengan lihai menangkapnya tanpa melepas kuncian, dan langsung menggunakannya untuk membelenggu kedua pergelangan si bodyguard.

 
Amry


“Amry ini kalah taruhan denganku,” kata Ryoko yang kemudian duduk di atas tubuh si bodyguard yang bernama Amry itu. “Tadi pagi dia ngaku bisa ngalahin aku di ring. Yaudah, kita taruhan. Kalau dia benar bisa bikin aku KO atau nyerah di atas ring, dia boleh merkosa aku, hihihi… Kalau nggak terserah aku mau ngapain dia. Mau ikutan ngerjain dia gak?”

“Ayo,” Nisa tersenyum dan setuju. “Mau diapain?”

“Di situ ada pelumas. Bawain ke sini,” kata Ryoko sambil menunjuk ke satu tas di dekat ring.

Nisa mengambil botol pelumas. Sambil terus menduduki Amry yang berposisi menungging, Ryoko melumuri tangannya dengan pelumas, lalu dia berubah posisi sehingga duduk mengangkang di atas pantat Amry, menghadap ke belakang. Ryoko lalu meminta Nisa juga melumuri tangan dengan pelumas.

“Kita ‘petik mangga’ dia,” kata Ryoko.

Nisa awalnya tak ngerti apa yang dimaksud, tapi dia langsung paham begitu Ryoko mencontohkan. Ryoko memelorotkan celana pendek dan celana dalam Amry, lalu tangannya menjalar ke selangkangan Amry. Tangannya mengelus-elus kejantanan Amry sambil sekali-sekali juga memijat pantat. Nisa ikutan dengan memain-mainkan dua bola dalam kantung pelir Amry.

“Kamu tau kapan laki-laki pasti cuekin ceweknya, Irina?” kata Ryoko.

“Kalau sudah bosan?” Nisa menanggapi.

Ryoko menunjuk ke lubang anus Amry. Nisa berinsiatif menggoda si bodygoard dengan mengelus dan kemudian menjilat bagian luar lubang itu, membuat Amry mendesah kaget sekaligus keenakan.

“Banyak cowok suka dimainin itunya, tapi kebanyakan cewek jijik,” celetuk Ryoko. “Padahal… tuh lihat… ngacengnya tambah keras kan?” Memang, batang Amry tambah keras, menggantung ke bawah.

“Kamu suka kan dimain-mainin bo’olnya? Ngaku aja… Nih kontol kamu jadi keras gini!” kata Ryoko menantang Amry. Amry tak menjawab. Ryoko iseng mencolokkan jari tengahnya ke lubang pantat Amry dan laki-laki itu keenakan.

“Laki-laki cuma pengen sampai CROT aja, habis itu pasti ceweknya dicuekin,” Ryoko melanjutkan. “Puas, tinggalin. Semua cowok gitu. Makanya, kita pikir sebaliknya. Supaya cowok gak ke mana-mana… bikin dia mau crot,” Ryoko dan Nisa makin gencar mengocok ereksi Amry, “habis itu…”

Kemudian Ryoko berhenti, dan menjauhkan tangan Nisa.

“Kita LARANG dia crot.”

Amry terdengar menggumam mengeluh.

“Kamu tau? Laki-laki jadi lebih perhatian ke perempuan sebelum dia crot, karena ada maunya. Jadi supaya dia terus perhatiin kita… jangan kasih apa yang dia mau, tapi GODA terus. Kalau sudah gitu, dia bakal berbuat apa aja asal kita bolehin dia crot,” kata Ryoko.

“Kita kendaliin ini…” Ryoko menggenggam kemaluan Amry yang mau melemas, tapi langsung dibangunkan lagi dengan beberapa kocokan, “…dia jadi budak kita.”

 

Ryoko lalu menyuruh Amry berdiri dan keluar ring. Ketiganya pindah ke kamar lain, satu kamar tidur. Amry menurut seolah budak kepada Ryoko. Dia tak melawan ketika dia disuruh duduk di satu kursi dan tangannya diborgol di belakang kursi. Nisa mengerutkan alis melihat Ryoko sudah membawa sesuatu. Tali seperti tali sepatu. Ryoko lalu melilitkan tali itu sekeliling pangkal kemaluan dan kantong pelir Amry. Di bagian atas dia mengetatkan tali sepatu itu lalu melilitkannya lagi ke bawah, ke pertemuan batang dan kantong. Lalu sekali lagi mengelilingi pangkal kantong pelir. Terakhir Ryoko menyimpul tali itu di atas pangkal penis Amry. Amry terlihat meringis. Bukan kesakitan tapi pasrah. Ereksinya tadi sedikit melemah. Ryoko menyuruh Nisa mengocokinya. Tanpa pelumas, Nisa mengelus-elus lembut batang itu, yang langsung menegang. Selagi penis Amry tegak, ikatannya juga terasa makin erat. Amry melihat ke bawah dengan tak berdaya, memperhatikan pelacur bosnya terus membelai-belai dan kemudian mengoral kemaluannya. Lima menit berlalu. Amry mengeluh. “Uhh… Kok gak keluar… pengen…”

“Kenapa, nggak bisa crot yaa? Duh kasihaaan…” ejek Ryoko yang ikut-ikutan menggoda Amry dengan mengelus-elus dada Amry. Kemaluan yang terikat itu disiksa dengan berbagai cara oleh kedua wanita penggoda. Dikelitiki, dicubit-cubit, dijilat kanan kiri, dihisap. Amry belingsatan dan mengerang-erang tapi tak kunjung dapat kepuasan karena semburan orgasmenya terhambat di cekikan tali.

“Kamu pengen apa Amry?” tanya Ryoko

“Pengen… crot…” pinta Amry lemah.

“Enak aja,” Ryoko menampik. “Dilarang crot sebelum kamu bikin aku dan Irina puas!”

Amry mengangguk-angguk, dia tak punya pilihan selain memuaskan nafsu majikannya. Ryoko terus menyiksa Amry dengan merangsang puting Amry. “Kalau enak, ayo mendesah!”

“Annhhh… aahhg!” Amry menggeliat-geliat keenakan. Tiba-tiba bibirnya dibekap bibir Ryoko. Sementara Nisa terus mengocoknya.

“Berdiri dari kursi,” perintah Ryoko. Amry berdiri. Ryoko duduk di kursi lain, sebuah sofa. “Berlutut!” perintah selanjutnya. Si bodyguard yang sudah jadi budak itu pun menurut, berlutut di depan Ryoko. Ryoko pun membuka seluruh pakaiannya. “Buka baju juga, Irina,” katanya ke Nisa yang sekarang tidak sedang melakukan apa-apa.

“Isep pentilku,” perintah Ryoko. Amry langsung melakukan apa yang disuruh, mencumbu dan memain-mainkan puting payudara kiri Ryoko dengan bibir dan lidahnya. Ryoko lalu memanggil Nisa mendekat. “Kamu juga, Irina,” perintahnya. Jadilah Nisa ikutan. Ryoko keenakan kedua payudaranya diisap. Seolah ibu yang punya bayi kembar beda jenis kelamin. Rintih nikmat Ryoko membuat kedua “anak” tahu bahwa si germo sedang penuh gairah. Selagi mengenyot pentil Ryoko, Amry juga meremas lembut dan memijat payudara Ryoko. Nisa merasakan geliat paha Ryoko di dekat tubuhnya, pertanda sesuatu sedang membara di selangkangan Ryoko. Dan ketika menoleh ke arah sana tampaklah aliran di antara kedua paha putih itu. Kepala Amry ditekan turun sehingga kini dia menjilati perut, dan turun lagi…

“Bikin aku puas.”

Amry pun menyurukkan kepalanya di antara sepasang paha Ryoko. Lidahnya mulai menjelajahi daerah intim Ryoko, menggoda klitoris Ryoko yang membesar terangsang.

“Oh, yess…” desis Ryoko. Dia menyorongkan selangkangannya ke mulut Amry, tangannya mencengkeram kepala Amry selagi dia menggeliat. “Terusin… “ Lalu dia menyentuh dagu Nisa dan menarik wajah Nisa mendekat. Nisa kaget ketika Ryoko menciumnya mesra.

Amry terus merasakan daging kewanitaan Ryoko. Ryoko meminta Nisa mengangkang menghadapnya di pangkuannya. Amry jadinya disuguhi selangkangan Nisa juga, dan Ryoko memerintahkan dia menyervis Nisa. Lidah Amry ganti menyentuh bagian-bagian pembangkit gairah Nisa dan bibirnya menyedot itil Nisa. Nisa merintih keenakan menanggapinya. Amry menjilati naik turun kemaluan Nisa, berlama-lama di klitoris Nisa. Sementara tugas merangsang Ryoko dialihkan ke jarinya yang mulai keluar masuk merangsang di sana. Ryoko pun membalas perlakuan Nisa tadi dengan ganti menciumi dan mengisap payudara Nisa.

 

Dan, sewaktu Ryoko mengerang, “Ahh fuck me,” Amry tahu majikannya sudah tak tahan dan ingin merasakan batang keras dalam vagina. Tapi dia akan memberi kenikmatan pertama dulu. Jari-jarinya makin gencar merangsang Ryoko, yang membalas dengan menggoyang selangkangannya, sambil merintih lirih. Tiba-tiba orgasme datang. Tubuh Ryoko menegang, lalu mengejang disertai lolongan panjang. Tapi Amry tidak berhenti… malah dia teruskan menjilati dan menggodai kemaluan Ryoko. Tak lama kemudian, orgasme terjadi lagi, sekujur tubuh Ryoko bergetar keenakan. Ryoko memejamkan mata dalam keadaan dilanda kenikmatan, terengah-engah. Tangannya menjulur dan menggenggam penis Amry yang terus tegang.

“Kamu pengen crot?” tanyanya.

“Iya, Non Ryoko,” kata Amry.

“Belum boleh sampai Nisa puas juga,” kata Ryoko, “Dua kali.”

Nisa memperhatikan penis Amry, urat-uratnya menonjol. Ryoko menyuruhnya duduk di pangkuan Amry. Bukan cuma duduk tentunya. Nisa membuka kemaluannya untuk kejantanan Amry, mengangkang dan berposisi berhadapan dengan Amry. Keduanya mengerang selagi Nisa menurunkan tubuhnya sepanjang penis Amry. Dia sendiri sudah basah. Jepitan vagina Nisa membuat Amry terengah keenakan, tapi dia ingat apa yang harus dia lakukan, dan Amry mulai menggenjot Nisa dengan kuat. Nisa membalas tiap tusukan, mengulek kemaluan Amry dalam dirinya, menggesek-gesekkan klitorisnya. Amry diperlakukan seperti mesin pemuas wanita. Nisa merangkul Amry dengan lengan dan bahunya selagi orgasme pertama melanda.

“Stop,” perintah Ryoko. Amry berhenti bergerak, Nisa ambruk memeluknya.

“Kamu mau crot, Amry?” kata Ryoko.

“Iya…” kata Amry lemah, tak bisa ejakulasi karena penisnya masih diikat.

“Silakan…” Ryoko melepas ikatan di seputar kejantanan Amry. Nisa tahu Amry tak akan tahan lama dan bakal menyemprotkan simpanan spermanya di dalam. Amry tidak pakai kondom. Tapi Nisa sudah mengamankan diri sejak pertama ditugasi menyamar dengan suntik KB.

Amry kembali mengentot kemaluan Nisa yang basah, berusaha memuaskan diri dengan meraih orgasme yang dari tadi tak bisa dilakukannya.

Ryoko mendekati mereka berdua, lalu berkata, “Ayo crot di dalam lonteku ini, Amry… Kasih dia peju kamu sebanyak-banyaknya!”

Kata-katanya mendorong Amry. Semburan air maninya sekaligus mengaktifkan semburan kenikmatan dalam otaknya, dan memenuhi ruang kewanitaan Nisa dengan sperma. Nisa menjerit lemah selagi kemaluannya dibanjiri peju, karena terlanda orgasme lagi. Nisa begitu menikmati hiburan ringan yang di berikan Ryoko ke padanya.

 

To be continued....

By: Ninja Gaijin & Pimp Lord