Tampilkan postingan dengan label Karya Yohana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Yohana. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Slutty Doll Anita: Diperawani Tukang Becak Langgananku


  • Cerita ini hanyalah Fiksi belaka……
  • Bacaan Khusus dewasa, bukan untuk anak dibawah umur, alias Adult Only…!! ^_^
  • Say NO To Rape and DRUG’S in The Real World
  • Maaf, buat yang nggak suka cerita bertema slutty, numpang lewat ya he he he
  • Satu lagi ^ _ ^, dilarang meng-Copy Paste, dan menampilkan cerita ini ditempat lain selain DiKBB dan Telur Rebus n Arsipgue.
#########################
Anita
 “Haiii!!“ aku melambaikan tanganku ke arah seseorang
Orang itu menengok ke arahku, sebuah senyum yang mengembang di bibirnya, sebuah senyuman yang selalu membuat hatiku berbunga-bunga, hanya sebuah senyuman?
Ya hanya sebuah senyuman, sebuah senyuman dari kekasihku, sebuah senyuman yang selalu memberiku hari-hari yang bahagia, sebuah senyuman yang selalu memberiku kekuatan, sebuah senyuman yang membuatku menjadi lebih hidup.
“Anita…..” ia berteriak menyebut namaku kemudian berlari kecil menghampiriku
Ia berlari bagaikan seorang anak kecil yang polos, tangannya yang kekar memeluk kedua bahuku, tatapanku dan tatapan matanya bertemu, saling menatap dengan mesra, tidak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya namun sinar matanya telah mengatakan seribu kata-kata cinta untukku.
“Duhhhhhhh….. Rendy dan Anita, jadi iri nehhh….” suara seseorang seperti menyadarkan kami berdua, aku hanya menatap si pengganggu itu sebentar kemudian berusaha tersenyum
Aku kurang menyukainya, bukan karena wajahnya yang buruk dipenuhi dengan bekas bopeng, namun karena kelakuannya yang ugal-ugalan dan kasar, aku tidak mau kekasihku menjadi seperti dia, aku tidak mau…, kutarik tangan kekasihku untuk mengantri membeli tiket bioskop, sementara si pengganggu duduk sambil tersenyum-senyum mesum menatap “bunga-bunga segar” di sekelilingnya.
“Rendy…, ngapain sich kamu bawa-bawa Si Benny ?? “ aku berbisik di telinga Rendy kekasihku
“Hahhh… ? Napa Emang ? “Rendy menatapku dengan polos.
“Aku…, aku kurang suka sama dia…..” bibirku meruncing.
“Anitaaa…., dia kan sahabatku…jangan gitu ya sayanggg….” Rendy mengelus rambutku, aku menghela nafas panjang dan berusaha mengangguk sambil tersenyum.
“Waduhhhh…..!! “Rendy tiba-tiba meringis
“Ehhh…, kenapa ?? “aku terkejut ketika Rendy meringis.
“PAHIT… pahit sekali…”
“Pahit ?? “Aku tidak mengerti dan menatapnya dengan keheranan.
“Senyumannya pahitttttt……..” Rendy mencubit pipiku kemudian tertawa lebar.
“Kamu…, ichhhh….” Aku menepiskan tangannya kemudian melemparkan senyuman manisku, sebuah senyuman untuk kekasihku, hanya untuknya
“Nahhhhhh… githuuuu dhuonggggggg……Yuuuk….”

#########################
Jam 10.30

Sebuah mobil berhenti di sebuah rumah kost. Seorang berwajah bopeng turun dari dalam mobil itu, senyumannya yang menyebalkan melintas sesaat di wajahnya.
“Thanks ya…, sering-sering ajha ngajak gue yakkk, en jangan lupa tuan putrinya yang kinclong ini selalu dibawa he he he” Benny cengengesan dengan tampangnya yang tidak tahu diri itu, nangkring di jendela mobil dan melirik ke arahku.
“Udahhh…tidur sana husss husss ha ha ha ha ha ha…., eittttt…, matanya dijaga browwww….” Rendy protes ketika Benny melirik nakal ke arah dadaku.
“Soryy…. Canda, he he he….Yawdahh Yukk ahhh.. kita bobo bareng bertiga…”Rendi bertambah norak.
“BENNNYYYY…..!!! Tokkkkkk….“ Rendy mengetuk kepala Benny
Si pengacau itu buru-buru melompat ke belakang ketika Rendy hendak menjitak kepalanya sekali lagi, terdengar suara tawanya yang menjauh, dan menghilang di balik pintu gerbang rumah kost. Mobil Rendy membawaku menjauhi rumah kostnya dan berhenti di depan rumahku yang terlihat sepi.
“Benny itu orangnya yak, kaya gitu, bicaranya ceplas-ceploss…seenaknya,  jadi jangan disimpen dihati…. , nahhhhh manyun lagi dahhhhhhhh… runcing amat bibirnyaaaaaa…….” Rendy mencubit kecil hidungku
“Ehhhh apa?“ aku menarik bibirku ketika Rendy menyodorkan pipi kanannya.
“Lohhhhh ?? nggak dicium dulu nehhhhhh….., ntar nyeselllll, nggak bisa tidurrr……” Rendy menggodaku.
“Enak aja…, siapa yang nggak bisa tidur, lagian siapa yang mau nyium kamuummhhhhh….” Rendy menyumpal bibirku, aku segera mendorong dadanya agar ciuman kami terlepas, wajahku terasa hangat.
“Koqq gelap ya ?? “ Rendy bertanya kepadaku.
“Yaaaa…, lagi pada keluar kota siccchhh…,nengok temennya bokap yang lagi sakit…..” aku melompat keluar dari dalam mobil, Rendy mengunci pintu mobil dan kemudian mengekoriku dari belakang.

“Rendy udah malam, emmmhh.., pulang gihhh….nanti kemalaman” aku menahannya agar tidak melewati pintu gerbang rumahku
Dengan lembut Rendy menarik tanganku, diraihnya tas kecilku , ia menarikku ke depan pintu rumahku dan ckleekkk…., ia membuka pintu rumahku dan menarikku masuk ke dalam. Aku terdiam ketika Rendy memelukku, aku tetap terdiam ketika tangannya merayap turun dan bermain di pemukaan kaos ketat yang kukenakan. Ia meremas sepasang bukit kembar putih yang masih tersembunyi dibalik kaos ketat yang kukenakan, aku hanya menatapnya ketika tangannya bergerak meremas payudaraku. Kemudian menyelinap ke dalam bajuku, mataku terasa berat, ada rasa nikmat yang membuatku terlena ketika tangannya perlahan-lahan menyelinap ke dalam braku.
“Ohhhh…. “Aku mendesah pendek merasakan remas-remasan tangan Rendy yang semakin aktif.
“Anitaaa sayangggg, aku ingin lihat kamarmu ya….” Rendy menarik tangannya dari balik bajuku, ia membalikkan tubuhku dan mendorongku ke sebuah kamar.
“Bukan…, bukan disini, diatas…..” aku tertunduk dan berkata pelan, suaraku hampir seperti sedang berbisik, tubuhku terangkat melayang dalam bopongan Rendy yang membawaku menaiki tangga , menuju kamarku, aku tahu ia ingin melihat sesuatu yang lain, yang pasti bukan melihat isi kamarku, aku tahu itu…., aku tahu apa yang sebenarnya ingin ia lihat, dan aku membiarkannya, aku membiarkannya melihat apa yang ingin ia lihat, satu persatu pakaianku terlepas dari tubuhku, tubuhku dan tubuhnya telanjang bulat tanpa selembar benangpun menutupi tubuh kami berdua.
“Hhhhhhhh…. Rendyyyyyy…… “ aku mendesah memanggil namanya ketika tubuh kami menyatu erat, pelukannya begitu hangat, hangat sekali ketika tubuh kami yang sudah polos saling bergesekan dan saling dekap
Kekasihku menundukkan wajahnya, bibirnya menciumi rahang dan daguku, kemudian menciumi dan melumati bibirku yang terus mendesah-desah, air liurnya membasuh leherku, jilatan-jilatan lidahnya mengulasi batang leherku. Ada rasa hangat yang menggelitik ketika ia membenamkan wajahnya di belahan dadaku.
“Unnnhhhh… REnddddyyy Ahhhhhhhhh…“ aku kembali mendesah merasakan kenyotan-kenyotan lembut mengenyot puting susuku,
Kriiiinggg……….!!! Suara dering jam yang berbunyi mencabik-cabik khayalan liarku, kuhentikan gerakan jemari lentikku sedang menekan-nekan permukaan celana dalamku, kugeliatkan tubuhku kesana kemari untuk mengusir gairah birahi yang begitu menyiksa. (aku dan tokoh khayalanku yang tampan),

Aku seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota ini. Namaku Anita, aku adalah seorang gadis keturunan Tionghoa, tubuhku putih molek, sepasang bukit indah menonjol menghiasi dadaku, aku anak tunggal dari sebuah keluarga yang cukup berada.
“Mang ….. “ aku menyapa seorang tukang becak langgananku yang ngetem di seberang rumahku.
“Efff…Non Anita…,ayo Nonnn!!” Bang Sudin langsung mempersilahkanku untuk segera naik duduk di becaknya, beberapa saat kemudian becak bang Sudin membawaku dengan kencang keluar dari komplek perumahanku, digenjotnya becak itu hingga melesat dengan cepat.
“Nanti sore ya Mang, jangan lupa….”
“Iya Non…, jangan khawatir, Mang Sudin pasti nungguin Non Anita…” Mang Sudin menatap wajahku yang cantik.
Aku tersenyum nakal, ia sepertinya mengharapkan kedatanganku, dan aku tahu itu, mang Sudin selalu setia menungguku turun dari angkot atau tepatnya berusaha untuk  dapat mengintip sesuatu yang tersembunyi di balik rok miniku ketika aku berusaha untuk turun dari dalam angkot jurusan XXX..

##################
Sore hari…hujan angin yang lebat.

Hari itu benar-benar menyebalkan, siang hujan gerimis, ehhh, sore malah  hujan turun dengan lebih lebat, aduh, nggak mungkin deh Mang Sudin berhujan-hujan ria untuk menungguku,
“Pak… Kiriii…..!!” teriakan-ku menghentikan laju angkutan kota yang kutumpangi
Hupp, aku melompat turun dari dalam angkot, aku berusaha berlari – lari kecil di bawah kucuran hujan lebat, dinginnya Brrrrrrr…..
“Nonnn…, Non Anitaaaaaa…..!!“ aku menolehkan kepalaku ke samping belakang.
“Ehhhh…?“ aku tersentak terkejut
Gila, ternyata Mang Sudin dengan setianya menungguku sambil berhujan-hujanan, aku berlari menghampiri becaknya, kemudian meringkuk duduk kedinginan di dalam becak Mang Sudin, tidak begitu lama becak mang Sudin mendarat di depan rumahku.
“Masuk dulu mangg…, hujannn….!!“ aku membukakan pintu gerbang rumahku.
“Jangan Nonnn, nggak enak sama orang rumah….”Mang Sudin menolak tawaranku.
“Nggak apa koq.., lagi pada pergi piknik seminggu….” aku menanti mang Sudin yang tergopoh – gopoh mendorong becanya masuk ke dalam pelataran rumahku.
“Ayo Mangg, masuk…… “ aku membuka pintu rumahku.
“Permisi Nonnn….” tubuh Mang Sudin yang tinggi hitam membungkuk kemudian masuk ke dalam rumahku
Matanya sering sekali melirik kearah dadaku, aku tahu ada sesuatu yang indah tercetak di sana dan kini mata mang Sudin mulai berani  menatap wajah cantikku sebentar kemudian tatapan matanya kembali turun ke arah cetakan dadaku..
“Sebentar ya mangggg….. “ aku masuk ke dalam kamarku, kemudian kembali keluar dan memberikan selembar kain handuk kecil kepada mang Sudin.
“M’kasih  Nonnn….” Bang Sudin meraih handuk kecil pemberianku kemudian menyeka wajah dan lehernya, setelah menuangkan segelas air aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku.
“Sebentar ya mangg, aku mandi dulu….”
“Ooo.., silahkan Non , Silahkan……..”.
Mang Sudin

Aku masuk ke dalam kamar mandi berukuran sedang, kulepaskan seluruh penutup tubuhku dan kunyalakan kran shower itu. Emmmhhhh…, Hangatt,,, sambil meresapi rasa hangat, kubersihkan tubuhku. Entah kenapa tiba-tiba gairah liar ini kembali datang menyiksaku, pikiranku begitu kotor, liar dan binal, dengan terburu-buru aku mematikan kran shower di kamar mandiku, kulilitkan kain handuk tebal meliliti tubuhku. Aaaaaahhhh, kenapa ini, jantungku berdetak dengan lebih kencang, kedua kakiku melangkah mendekati pintu kamarku yang terkunci, tanganku terulur untuk membuka pintu kamarku “Clikkk….” , dorongan itu semakin hebat menyadari ada seorang tukang becak di ruang tamuku. Ia bertubuh tinggi, berkulit hitam dan kekar, wajahnya sangat jauh dari kata lumayan,matanya berbeda jauh dengan mataku yang sipit, gairah liar itu mendorongku untuk berani melangkah keluar dari dalam kamar, menghampiri Mang Sudin dengan hanya mengenakan selembar handuk yang membalut tubuh mulusku.
“Haahhhhh ??? !! “ Mang Sudin berseru terkejut, matanya melotot merayapi tubuh mulusku dengan liar dan beringas, aku melangkah dan terus melangkah hingga berada di hadapan mang Sudin, tubuhku menggeliat indah dan melepaskan kain handuk yang melilit di tubuhku.
“ANJINGG….!! Non.?? “ Mang Sudin mengumpat kaget, matanya mendelik menyaksikan kemolekan tubuhku yang putih mulus, tubuhnya yang tinggi hitam kekar menghampiriku
“Manggg Sudin….” Aku merintih pelan menyebut namanya.
Dengan mudahnya mang Sudin memanggul tubuh mungilku masuk ke dalam kamarku, dibaringkannya tubuhku dengan posisi kedua kakiku terjuntai pasrah dipinggiran ranjang, aku menutup kedua mataku rapat-rapat, ketika satu persatu Pakaian Mang Sudin terlepas dari tubuh hitamnya. Lagi-lagi gairah binalku memaksaku untuk membuka kedua mataku, mata sipitku menatap tajam pada sesuatu yang menggantung di selangkangan Mang Sudin, aku memekik ketika mang Sudin menerkamku.
“Ohhhh….. Manggggg Sudinnn hennnnmmmmmm…..” Aku merinding ketika bibirnya mengecupi telingaku, lidahnya yang basah menari-nari didaun telingaku.

“Non Anitaaa…,sebenarnya Mamang udah lama pengen ngentotin Amoy secantik Non Anita, eh nggak taunya sekarang Non Anita malah menyerahkan diri minta dientot sama mamang he he he”bisikan-bisikan mesumnya malah membuat gairah-ku semakin liar.
“Mmmmmaaanggggg….. Nurrrrdinnnnnnnnn…. Aaahhhhhhhhhh….”
Rasa nikmat itu semakin menenggelamkanku ke dalam sebuah jurang yang begitu dalam disebuah lautan kenikmatan, ciuman-ciuman liarnya menjalari rahang, dagu dan bibirku.
“Uhhhh.., Aduhhhh….” Mang Sudin menyeretku ke tengah ranjang
Dengan kasar ia membalikkan tubuhku, sekujur tubuhku merinding ketika merasakan tubuh mang Sudin meneduhi tubuhku yang terlungkup di atas ranjangku.
“Essshhhhh…, Nonn…, Anjinggg siah AMOY, si-mulussssshh” Mang Sudin mendesak-desakkkan selangkangannya pada bongkahan buah pantatku
Aku menggigil merasakan sebuah benda yang menggesek-gesek belahan pantatku , menekan, dan bermain-main di antara himpitan buah pantatku.
“Urrrhhhhh…. Mmaannngggg…. Manggggggg…. Sudinnn….eeeesssshhh“
Mang Sudin membelit tubuhku dari belakang, nafasnya yang hangat berdengusan di tengkukku. Aku menggigil ketika rasa nikmat menyengati leherku, kecupan-kecupan liar dan gigitan-gigitan gemas mang Sudin berkali-kali menyengati leher dan tengkukku, lidahnya menjilati belakang telingaku dan mulutnya mencaplok serta melumat – lumat daun telingaku sebelah kiri.
“aaaaaa….., Hssshhhhaaahhhh…. Ohhhhh…” aku memalingkan kepalaku ke arah kanan karena sudah tidak tahan menahan rasa geli yang menyengat leher dan daun telingaku sebelah kiri
Namun  Mang Sudin justru memanfaatkan situasi dengan menyerang leher dan daun telingaku sebelah kanan. Batang lidahnya menggeliat liat menggelitiki belakang telingaku sebelah kanan kemudian menelusuri daun telingaku, terkadang  gigitan-gigitan gemas mang Sudin mampir di daun telingaku. Ia terkekeh ketika aku tersentak menahan rasa nikmat yang menggelitiki leher dan daun telingaku, aku merasa lega ketika Mang Sudin  mengangkat tubuhnya yang hitam dan kekar,
“Sini Nonnnn… rebahan disini…..” Mang Sudin menepuk-nepuk bantal empukku, entah kenapa aku menurutinya, aku merangkak dan merebahkan diriku terlentang dengan pasrah..
“Rentangkan tangannya keatas….Non, bagus..,ha ha ha dasar lonte disuruh apa aja nurut…….he he he, jarang ada lonte Amoy secantik Non Anita…, kalau ada juga ya,  bayarannya mahal, selangit……” aku merentangkan kedua tanganku ke atas

Desahan nafas Mang Sudin menerpa ketiakku. Aku tidak marah ketika Mang Sudin mengejekku, ia menyebutku lonte. Aku memejamkan mataku ketika merasakan ulasan-ulasan batang lidahnya menyapu ketiakku, hidungnya terbenam dan mengendusi ketiakku, mulutnya mengemut ketiakku dan lidahnya terjulur menjilati ketiakku ssslcccckkk… lllcccckkkk… slllccckkk cupppp…, cuphhhhh cuppppp, terdengar suara kecupan-kecupan mang Sudin yang begitu bernafsu mencumbui lekuk ketiakku.
“Aahhhhhhhhhhhh…… !! “ tubuhku tersentak dan sedikit meronta ketika mang Sudin membelitku sambil membenamkan wajahnya pada belahan dadaku
Aku berusaha meronta untuk menyadarkan akal sehatku sedangkan mang Sudin terus menyerang mencumbui susuku untuk menenggelamkan kesadaranku. Aku berbaring terbujuk oleh bujuk rayu gairah binalku, akal sehatku terbuai oleh kecupan-kecupan liar Mang Sudin yang menggeluti buah dadau.
“Anita…., muahhh he he he….Muummmm Cpokkkkk…. Muummmmmhhh Cpokkkkk ”Mang Sudin mengenyot puncak payudaraku kemudian menarik kepalanya kebelakang, terdengar suara letupan keras yang semakin membakar gairah nafsu binalku ketika susuku terlepas dari emut-emutan mulut mang Sudin yang mempermainkan payudaraku yang semakin keras mengenyal, aku menggigit bibir bawahku menahan rasa nikmat ketika batang lidahnya mengulas-ngulas pentil susuku, kemudian happpp….., mulutnya kembali mencucup puncak susuku, dikenyotnya puncak payudaraku hingga tubuh mungilku meronta dan melenting keenakan.
“Ahhhhhh…. Aaaaaa…. Ahhhhhhhhhhhhh……”.
Betapapun hebatnya aku meronta dan berontak namun belitan mang Sudin begitu kuat membelit tubuh molekku, dengus nafas tukang becak itu terasa hangat menerpa kedua bukit payudaraku. Air liurnya membasahi bulatan susuku, lidahnya semakin liar terjulur-julur menjilati pentilku yang meruncing dan kemudian batang lidahnya yang basah dan hangat membasuhi kedua bulatan dadaku.
“Ohhhh… manggggg… Sudinnnn…..” aku menggeliat resah ketika kecupan-kecupan liarnya bergerak turun ke perut, pinggul dan kemudian terdengar perintah mang Sudin.
“Tekuk dan rentangkan kedua kakimu Anita…..”
“Mangggg…. Kita…. Ohhhhhhhhh…..”tanpa meminta persetujuan lebih lanjut mang Sudin menekuk dan menekan kedua lututku ke samping
Selangkanganku merekah dengan indah dihadapan wajah seorang tukang becak bernama MANG SUDIN…!! Aku hanya sanggup mendesah dan terus mendesah merasakan kecupan-kecupan liarnya mengecupi permukaan vaginaku. Aku merintih ketika batang lidahnya yang basah hangat membasuh rambut jembutku yang tipis. Dengan reflek aku mengangkat punggungku, kedua tanganku menopang ke belakang, ketika merasakan batang lidah Mang Sudin menggeliut memasuki cepitan bibir vaginaku, aku menekuk wajahku, kepala mang Sudin terbenam di selangkanganku, kedua kaki mulusku tertekuk mengangkang ke samping. Batang lidah itu menggeliat semakin liar dan terjulur semakin dalam.

“Unnnnrrrhhhh…. Ahhhhhhhh…. Akkkkkkhhhhhhhh….Mangg”
Sesekali aku menarik pinggulku untuk menghindari rasa geli dan nikmat yang menyerang belahan vaginaku.
“Aoohhh ampunnnn aaaaaaaa…., Blukkkkk Crrr Crrrrrr….. “ punggungku terjatuh ke belakang, cairan vaginaku berdenyutan dengan nikmat, serrrr.. serrrrrrrrrrr….
Desiran kenikmatan itu mengiris – ngiris sekujur tubuhku yang mengejang sebelum akhirnya aku terkulai lemas dengan desah nafas yang tersendat-sendat, butiran keringat nakal mengucur melelehi tubuh mulusku. Aku menggelinjang kegelian ketika Mang Sudin menggesekkan kepala penisnya pada belahan vaginaku, digesek dan terus digesekkan kemudian mang Sudin mulai menjejal-jejalkan kepala penisnya yang perlahan mulai tenggelam dalam cepitan vaginaku.
“Mang akuuu.. akuuu…, sebentar, ooohhhh hentikan akkkhhhhh…..!!”tiba-tiba aku tersentak tersadar, apa yang tengah aku lakukan bersama SEORANG TUKANG BECAK diatas ranjangku, aku tersadar dan berusaha keras menghentikan gerakan penis mang Sudin yang sudah tertelan oleh vaginaku sampai sebatas leher penis. Ia mencengkram buah pinggulku sambil menusukkan batang penisnya menusuk belahan vaginaku kuat-kuat.
“JEBOLLL… SIAHHH…! JEBOL… !! HEUU.. JEBOLLLLL…!!“
“AWWWWWWW…….!! “ aku menjerit keras ketika merasakan tusukan-tusukan kuat yang membuat vaginaku terasa melar dan merekah
Rasa sakit menggigit selangkanganku., aku menatap mang Sudin yang tengah asik menjejal-jejalkan batang penisnya menusuk belahan vaginaku. Tidak ada lagi raut wajahnya yang sopan, TIDAK ADA…!! Yang ada hanya seraut wajah keji yang tengah tersenyum mesum menatapku yang terisak menahan rasa sakit di selangkanganku. Kegadisanku direngut dan vaginaku digenjot oleh seorang tukang becak bertubuh hitam kekar, batang penisnya tenggelam sedalam 14 cm kedalam jepitan vaginaku.
“Sakiittt… manggggg… ouhhh sakitttt… khhh hhkk hakkk..”
“Tenanggg Nonnnn, ntar kalau udah biasa ngentot nggak akan kerasa sakit lagi…, malah kalau udah ngerasa enaknya ngentot, non Anita bakal ketagihan batang kontol Mamang…..” Mang Sudin menusukkan batang penisnya semakin dalam hingga selangkangannya mendesak selangkanganku. Batang penisnya tenggelam dan tertancap dengan sempurna dicepitan vaginaku.  Tubuhnya yang hitam kekar mulai meneduhi tubuhku, aku mendesah menahan beban tubuh seorang tukang becak yang tersenyum mesum sambil menikmati kecantikanku.
“Aaaaaaaaaaaaa…., Aaaaahhhhhhhhh Mangggggg…..!”
Tanganku terangkat berusaha mencari pegangan ketika Mang Sudin mulai menghempas-hempaskan batang penisnya menumbuki belahan vaginaku, kubenamkan kesepuluh kuku jariku ke punggungnya, kedua tanganku memeluk tubuh hitam si tukang becak yang tengah asik menggenjoti belahan vaginaku. Batang penisnya bergerak keluar masuk dengan teratur, menusuk dan terus menusuki liang memekku. Clepppp… Cleppppp… Clllppppp… Bleppp.. cleppppppp…, terdengar suara decakan becek ketika liang vaginaku digenjot oleh batang penis Mang Sudin.

“Enak ya nonn ?? he he he cupphh cupphhh.. mmmmhhh….”
Mang Sudin menatapku kemudian wajahnya menunduk, bibirnya melekat dibibir mungil-ku. Bibirnya menjepit bibirku sebelah bawah, Mang Sudin mengemut bibirku bergantian sebelah atas dan sebelah bawah. Sesekali ia menggigit kecil bibirku, lidahnya menjilati sela-sela bibirku, kubuka rongga mulutku, batang lidahku terjulur keluar bergelut dan saling mengait dengan batang lidah mang Sudin.
“Srrrphhhh… Srrrpppppphhh…. Ckk Mmmmmmmpphhh… Ckkk“
Aku membalas lumatan – lumatan bibir Mang Sudin, lidahku kembali terjulur keluar, dengan bernafsu mang Sudin menghisapi batang lidahku. Air liur Mang Sudin belepotan di dagu, dan bibirku, sementara tubuhku terus tersentak-sentak dengan lembut di bawah tindihan seorang TUKANG BECAK yang tengah menggenjotkan batang penisnya, menyodoki liang vaginaku.
“Aaaaaaaaaaaaa… Hhhhh Hhhhoosssshhh.. Hhhhhhhhhssshhhh.. Cruttt… Crutttttt………” kedua kakiku membelit tubuh Mang Sudin, tubuhku kembali menggigil dengan nikmat ketika vaginaku berdenyut-denyut memuntahkan cairan klimaksku.
Kepalaku terkulai lemah kearah samping kiri, tubuhku bergidik dengan nikmat di bawah tindihan bang Sudin, tangan seorang tukang becak mengelusi rambutku yang acak-acakan, kedua kaki mulusku terkangkang pasrah.
“Mmmpphhh… Jrebbbb.. Memek Non makin licin peret,  makin enakk Jrebbb… Blessshhh… Crrrrbbbbbb… Bleeeppppp……buat dientot…” nafasku kembali tersendat-sendat merasakan tusukan-tusukan penis Mang Sudin kembali menggenjot vaginaku, aku semakin sengsara ketika mang Sudin mempercepat tusukan-tusukan batang penisnya.
“Ennggg Mampus Aaaaaaa,  Affffhhhh, Mangg…,!! owwwww…….!! “Aku mengeluh merasakan tusukan-tusukannya yang semakin liar dan kasar, semakin kasar dan lebih KASAR lagi….
“Ya nggak akan lahhhh….nonn, masa mampus, yang ada juga enak dan nikmat, bukannya mampussss he he he he….”
Aku memalingkan wajahku ke kiri dan kanan, vaginaku disodok dan tubuhku tersentak-sentak, terguncang dengan hebat di atas ranjangku sendiri. Keringat mang Sudin meleleh menetesi tubuh mulusku, terdengar suara tawa bejatnya ketika ia mendengar lolongan dan pekikan kecilku. Semakin keras aku aku melolong semakin keras pula ia menghentak-hentakkan batang penisnya, dipercepatnya irama genjotan-genjotan batang penisnya menggenjoti liang vaginaku.
“aaaa….., aaaaaaa… aaaahhhhhhh….. “ aku mendesah dan terus mendesah ketika merasakan sodokan-sodokan penis Mang Sudin yang merojok vaginaku dengan kuat dan kencang, agak lama juga ia mengerahkan seluruh tenaganya menyodoki vaginaku kuat-kuat.

Aku menarik nafas lega ketika tubuhku berhenti terguncang. Untuk sesaat mang Sudin beristirahat di atas tubuhku. Wajahnya tepat berada di atas wajahku, sementara batang penisnya tertancap dijepitan liang vaginaku, ia memandangiku dengan tatapan matanya yang penuh dengan kobaran nafsu binatang. Aku terdiam dan menatapnya, tangan mang Sudin membelai wajahku yang cantik jelita.
“Duhhh, Non Amoy koq murung sich ?? kurang ya dientotnya, sini biar mamang tambahinnnn….”
Desahan nafasku kembali membakar nafsu binatang Mang Sudin, ia kembali menghempas-hempaskan batang penisnya. Dengan bernafsu ia merojok-rojokkan batang penisnya menyodoki vaginaku, tanpa melepaskan batangnya dari cepitan vaginaku Mang Sudin merubah posisi. Kini aku duduk saling berhadapan, aku menduduki batang penis mang Sudin, kedua kakiku mengangkang menjepit tubuh Mang Sudin, sementara kedua tanganku berpegangan pada pundak mang Sudin.
 “Ayoo Non…, Mamang pengen nyobain goyangan Amoy….”
Aku terdiam untuk sesaat, dengan menahan rasa malu, aku mulai memberanikan diri mengangkat pinggulku kemudian perlahan-lahan aku mendesakkan kembali vaginaku ke bawah. Rasa nikmat itu membuat wajahku terangkat ke atas, mataku menatap langit-langit kamarku. Sesekali aku mengatur posisiku agar lebih leluasa menaik turunkan vaginaku. Dengan sabar mang Sudin membantuku menaik turunkan pinggulku, kedua tangannya yang kekar mencapit pinggang rampingku dan membantuku agar lebih lancar menghempas-hempaskan vaginaku mendesak batang penisnya yang dengan otomatis bergerak keluar masuk menusuk-nusuk belahan vaginaku..
“Ahhh… Hssshhh Ahhhhh… Mangggg…. “ tangan kiriku menekan belakang kepala Mang Sudin hingga terbenam di belahan payudaraku
Aku semakin cepat menaik turunkan pinggulku, mang Sudin semakin bersemangat menggeluti buah dadaku ketika aku merintih dengan liar.
“Aaaaaa… aaaaaa…….wwwwww…oohhhh mannnnggggggg”Aku menjerit liar merasakan kenyotan-kenyotan mulut Mang Sudin yang mengenyoti buah dadaku
Kupercepat hempasan vaginaku dan mang Sudin menyambut hempasan liarku dengan menyodokkan batang penisnya kuat-kuat ke atas.
“Hmmmmaanggggg, akh.. akuu.. aku mau keluarrrrr……”
“Sebentar… kita barengan….Nonnn Tahannnnn…., Tahan sebentar” Mang Sudin semakin menyentak-nyentakkan penisnya ke atas.
“Nggakkk khuatt manggggg akhhhh…, nggakk kuatttt… aduhhhh” aku mengeluh
Aku semakin dekat dengan puncak klimaks-ku, tubuhku tersentak-sentak tanpa daya.

“Sebentar lagi Nonnn TAHANNNNNNN……..!!!”
“Owwwhhhhh…. Crrrutttt…. Cruutttt………Maaaaangggg.”
“KECROTTTTTTTT…….”
Tubuh Mang Sudin rubuh ke belakang sambil memeluk tubuhku yang terengah keenakan di dalam pelukannya. Aku terdiam, mataku terasa berat, dan tubuhku terasa pegal karena kecapaian. Aku mendesah ketika tangan kanannya merayap dan meremas-remas buah pantatku, sedangkan tangan kirinya mengusapi punggungku yang basah. Aku menggeliatkan tubuhku dan meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Mang Sudin, namun kedua kakinya malah membelit tubuhku, tangannya yang kekar memeluk-ku, batang penisnya mengecil di dalam jepitan vaginaku.
“Mau kemana Nonnn, temenin Mamang tidur ya, Mamang belon puas koq, masih kepengen ngentotin Non Amoy yang mulusss he he he, dohhh Non Anita Bohay amat sich he he.. napsuin….” Mang Sudin memujiku, kedua tangannya berkeliaran dengan bebas, menggerayangi lekuk liku tubuhku yang putih mulus, aku merasakan batang penis mang Sudin berdenyut-denyut dan kembali menyesaki jepitan vaginaku.
“Uhhhhh…., sudahh mangggg, sudahhhh……cukup, kan tadi udah….” aku yang sudah kelelahan berusaha menolak keinginannya.
“Waduhhhh… itu mah baru pemanasan aja Nonnn… yukkk ikut mamang…kita ngentot lagi….” Mang Sudin menarikku keluar dari dalam kamar
Aku pasrah ketika mang Sudin menyuruhku untuk duduk di bangku sofa, di ruangan tamu. Kedua tungkai kakiku dikaitkan mengangkang pada lengan kursi sofa itu.
“Utssshh….. “ aku menarik pinggulku ketika jari telunjuk kanan Mang Sudin mencoblos belahan vaginaku, mataku beradu pandang dengan tatapan mata mesum mang Sudin yang menatapku sambil menusuk-nusukkan jari telunjuknya dalam-dalam,
Wajah mesumnya kembali memacu gairah binalku, ia tersenyum lebar ketika aku mulai merintih dan mendesah.
“Enak ga Non…..? “ tanya mang Sudin
“Jrossshhh….!! “ tiba-tiba Mang Sudin menusukkan jari telunjuknya kuat-kuat, ia menuntut jawaban-ku
“Enn Enakkk… enakkkk nnnnnhhhhh.. hsssshhh ahhhhhh” tangan kiriku mencekal pergelangan tangan kanannya, sementara tangan kananku bertumpu ke belakang. Aku menggeser posisi-ku agar dapat menyandarkan punggungku bersandar ke belakang. Telapak tangan kiri Mang Sudin mengelus-ngelus pangkal pahaku.
“Hsssshhhh… Hssshhhhhhhh Shhhhhaaaaaaaaaaaa….” aku mendesis-desis nikmat ketika jari telunjuk mang Sudin merojok-rojok belahan vaginaku
Kutekuk wajahku , nafsu semakin terbakar menyaksikan dua buah jari Mang Sudin yang basah oleh cairan vaginaku yang sudah tercampur dengan darah keperawananku.

“Ahhhhhhhhh” aku tersentak
Kesadaran dan akal sehatku datang terlambat.  Seorang tukang becak tengah menindih tubuh mulusku, semuanya jauh dari khayalanku selama ini. Sangat jauh sekali…., hancur sudah khayalan indahku selama ini. Aku?? seorang gadis keturunan Tionghoa cantik jelita, berkulit putih mulus, bercinta dengan seorang tukang becak?? Aku menyerahkan tubuh dan kesucianku kepada Mang Sudin?? berbagai macam pertanyaan mencambuk hatiku, gairah binalku kembali berkobar, aku memohon pada Mang Sudin.
“Colokkkk Manggg…, colokkk terussss… ahhhhh……”
“Mau pake jari atau pake kontol Non ?? “ Mang Sudin memberikan-ku dua buah pilihan sambil terus menusuk-nusukkan kedua jarinya.
“Pake kontolll… unnggghh… kontollll… mangggggg….” aku menjawab dengan terbata-bata.
“Ha ha ha, boleh…, bolehhhh.., tapi nanti kalau mamang udah puas bikin memek non bucat pake jari….”
Aku terengah, percuma saja aku memintanya untuk menyetubuhiku,  mang Sudin sedang asik menusuk-nusukkan jarinya merojoki vaginaku.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa…..! Mannnngggg Ouuhhhhhh….!! “ aku tambah kelabakan ketika jempol mang Sudin ikut memijiti clitorisku, matanya berbinar-binar menyaksikan tubuh mulusku yang mengangkang menggeliat-geliat dengan erotis, aku mati-matian menahan sesuatu yang hampir meledak di selangkanganku, rintihan-rintihanku semakin sering terdengar.
“Udah Nonnnn, nggak usah ditahan-tahan gitu dehhhh, nyerah aja…” Mang Sudin menatapku dengan tatapan mata mengejek
Jarinya semakin aktif menusuki vaginaku, jari jempolnya mengucek-ngucek clitorisku aku tidak mau..! tidakk, aku tidak mau, TIDAKKKKKKK……!! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk mengusir rasa nikmat yang menghampiri-ku, Akkhhhh Crrrrttttttttt… crrrttttt…., aku roboh di bawah tatapan mata mesum Mang Sudin yang mengejekku. Mang Sudin menundukkan wajah mesumnya ke arah selangkanganku, terdengar bunyi menyeruput ketika mulutnya mengenyot-ngenyot vaginaku. Kedua kakiku menumpang di punggung mang Sudin sementara mulutnya masih asik mengenyoti selangkanganku. Tangan kiriku mengelus-ngelus rambut mang Sudin, sesekali tangan kiriku menekan belakang kepala mang Sudin sambil sedikit mengangkat vaginaku dan aku kembali menarik pinggulku ketika merasakan mang Sudin semakin lahap  menyantap selangkanganku.
“he he he.. geli mangggg oohhhhhh…, nikmatttssshhhh….ampunnn manggg Ampunnnnnn he he he he” aku terkekeh merasakan emut-emutan nakal mengemut bibir vaginaku.
Aku memekik sambil berusaha menarik vaginaku

Mang Sudin mengangkat kepalanya, ia menatapku sesaat, jemarinya mencapit dan membuka bibir vaginaku kemudian ia kembali membenamkan wajahnya di selangkanganku. Aku membelai-belai rambut Mang Sudin yang ikal, berkali-kali aku harus rela mendesah dan merintih ketika batang lidahnya menggaruk-garuk isi vaginaku, ohhhh…. Hhssshhh manggggg… hsssshhhhh, seperti itulah aku mendesah dan mendesis. Entah apa yang sedang dicari oleh batang lidah mang Sudin yang terjulur keluar dan berkali-kali menyelinap masuk kedalam belahan vaginaku, yang jelas aku menikmati gerakan batang lidahnya yang basah dan hangat.
“Owww… ihhhh.. mang Sudinnnnnnn…. “ aku memekik sambil menarik pinggulku
Ujung lidah mang Sudin mencokel clitorisku hingga aku tersentak nikmat. Aku mengangkangkan selangkanganku selebar-lebarnya ketika ujung lidah mang Sudin kembali mengejar daging clitorisku.
“Ahhhhhh…, owww….! .Owww maaaanggggg…Sudinnn, akhhhh…!!.”
Tubuh mulusku berkali-kali tersengat nikmat ketika ujung lidah Mang Sudin mencolek-colek kelentit-ku. Aku bertahan agar kedua kaki mulusku tetap mengangkang lebar walaupun rasa nikmat dan geli itu begitu kejam menyiksa kemaluanku..
“Emmmmmaaahhhh… Ahhhhhhh….. Offffhhhhh…….Oooooo “mulut-ku ternganga-nganga lebar,
Mataku yang sipit berkali-kali membeliak ketika mang Sudin melumat dan mengemut-ngemut daging clitorisku yang semakin menonjol, terkadang tangannya menepuk-nepuk permukaan vaginaku. Aku mengeluh ketika ia meremas gemas selangkanganku yang sengaja kukangkangkan selebar mungkin.
“Sini Nonnn…., mamang pengen disepong he heh e…”
Kini mang Sudin yang duduk mengangkang disebuah kursi sofa panjang, aku merangkak dan berlutut dihadapan kedua kakinya yang mengangkang lebar, kedua tanganku menangkap batang penis Mang Sudin, aku agak gugup ketika menggenggam batang penis mang Sudin..
“Ha ha ha, santai aja nonnn, nggak usah tegang gituuu…, mamang jadi ikut gugup nehhhh….” Mang Sudin menyandarkan punggungnya ke belakang.
“Iyy.. Iya Mang.., Iyaaa….” aku berusaha mengendalikan diriku
Ternyata begini rasanya menyentuh batang penis seorang pria, ada rasa gugup, horny, ihhhhh…, penis mang Sudin sesekali berkedut dalam genggaman telapak tanganku.

“Koqq diemmmm…?? langsung diservice atuh Nonnnn, sampe jamuran nih mamang nunggunya…..”
Aku menuruti keinginan Mang Sudin, entah kenapa aku tunduk mengikuti keinginan seorang tukang becak yang seenaknya memerintahku. Aneh…, benar benar aneh, aku mulai mengocok-ngocok batang penisnya, hmmm, aku mengangkat wajahku, sambil mengocoki batang penisnya aku menatap wajah Mang Sudin yang tersenyum lebar, dengan nakal aku membalas senyumannya.
“Enak ya manggg ?? he he he….” sesekali tangan kiriku mengelus dan meremas kepala penisnya, sedangkan tangan kananku mengocoki batang kemaluan mang Sudin. Aku terkekeh-kekeh ketika mata mang Sudin mendelik menatapku., mulutku meruncing dan meniupi batok penis mang Sudin. Fuuhhhhhh…., Fuuuuuuhhhh… Haaaaaahhhhhh… Fuuuuuuhhhh.
“Mangggg.. aku pengen dientot lagiiii….”
“Ntarrrr…., kalau Non Anita bisa bikin kontol mamang bucat, baru Mamang kasihhh…..he he he”
“Idihhhhh…. Mang Sudinnnnn………” aku semakin giat mengocok dan meremas-remas batang penis Mang Sudin. Kepalaku meneduhi kepala penisnya dan Hummm….nyummmm…, kuemut dan kuhisap kepala penisnya sekuat yang aku mampu.
“WADOOOHHHHH…. GELO SIAHH…., ARRHHHHH… ANJINGGGG”
Kata-kata kasar mang Sudin  membuatku semakin bergairah, kepalaku bergerak turun naik sambil menghisapi batang penis Mang Sudin. Kuletakkan rongga mulutku 1 cm di atas kepala penisnya. Haaaaahh.. Haaaaa….hh,  Haaahhhhhhh….,kuhangatkan kepala penis mang Sudin dengan udara yang terhembus dari rongga  mulutku. Sesekali ujung lidahku terjulur meruncing dan mengorek-ngorek lubang penisnya, kurang lebih sudah 10 meni-an aku berusaha memuaskan mang Sudin namun tampaknya ia tenang-tenang saja melayaniku yang sudah berusaha dengan keras.

“Mangg Sudinnnn… Aku pengennnnn…..maaanggggg , Ayooo Manggggg… entot aku lagi yaaaa….” aku merengek-rengek, bahkan hampir menangis, memohon pada seorang tukang becak yang tertawa senang menyaksikanku yang tengah tersiksa oleh gairah liarku.
“Yaa ha ha ha ha, tapi mamang pengen Non Anita yang di batas ya…, yukk sini naikkkkk…..mainnya harus yang liar ya kaya bondon, nggak usah malu-malu, ha ha ha ha  ”Mang Sudin tidur terlentang mengangkang di atas kursi sofa panjang.
“Iyaa Mangggg…, Aku mauuuu, divatasssss…, liar kayak bondon “
Dengan liar kunaiki dan kukangkangi tubuh Mang Sudin yang hitam akibat terlalu sering tersengat oleh sinar matahati, tubuhku yang putih mulus mengangkangi tubuh seorang tukang becak berambut ikat bernama Sudin yang berusia seumuran ayahku yang tangannya tengah mengacungkan batang penisnya ke arah belahan vaginaku yang mungil. Kuarahkan vaginaku dan kuturunkan pinggulku, kepalaku terangkat ke atas, bibirku mendesis keras merasakan batang penis Mang Sudin kembali membelah belahan vaginaku,
“HSSSSSSSSSSSSSHHHH… HSSSSSHHHH”, aku mendesis dan mendesis dengan liar sambil mendesakkan vaginaku hingga penis mang Sudin tertancap dan selangkangannya bersatu dengan selangkanganku, perlahan-lahan aku menggerakkan pinggulku, wajahku terasa panas karena jengah, tengah asik-asiknya aku menaik turunkan pinggulku.
“PLOFFHHH… Aaaaa.hhh… ke  ken kenapa dicabut mangggg….”
“TADIKAN Non Janji, maennya bakal liar kayak bondon…!!, mana nih janjinyaaaaa…., jangan kaya partai-partai politik dongggg…cuma bisa mengumbar janji doanggg….ehh begitu udah dipilih malah menyengsarakan rakyat….,nggak inget sama wong cilik…, malah sibuk menaikkan gaji pegawai negri, tapi lupa sama kami-kami ini yang selalu menderita…..”
“Aduhh...Mang koq jadi masalah partai sichhh…, masukin lagi dooonggg….,  Mang Sudinnnn…., ayo dong mangggggg” aku merengek-rengek dengan manja.
“YAWDAHH…, tapi yang liar dan binal ya Nonn…!!”

Mang Sudin kembali menempelkan ujung penisnya di belahan vaginaku. Kutekankan vaginaku ke bawah hingga penis mang Sudin kembali menyelusup kedalam cepitan vaginaku. Kali ini aku mengusir jauh-jauh rasa malu dan rasa risihku, kutegakkan tubuhku, kutatap mang Sudin yang melotot menatap susuku yang membuntal padat.
“HIAAAHHH…AHHHHH…AHHH … HIATSSSHHHH.”
Dengan liar dan binal aku menaik turunkan pinggulku, kebinalanku dan jeritan-jeritan liarku disambut oleh mang Sudin dengan menyodokkan batang penisnya kuat-kuat ke atas. Kedua tangannya mengangkat dan menarik membenamkan pinggangku ke bawah hingga hempasan – hempasan vaginaku lebih kuat dan bertenaga karena dibantu oleh mang Sudin.
“Hiaaaahhhmpppphhhh crrrruttt crrutttt…..” aku kembali  mengalami puncak klimaks.
“TERUS… TERUSSS Non AMOYY, Non nggak boleh berhenti biarpun memek Non  udah bucatttt…TERUSSSSS…..!! “ Mang Sudin memaksaku untuk bekerja dengan lebih giat
Aku melolong keras untuk melepaskan nafsu dan gairah liarku yang terasa menyesakki dadaku. Pinggulku terus melompat-lompat turun naik di atas sodokan-sodokan kuat penis seorang tukang becak yang menggeram-geram dengan gemas sambil mendelikkan katanya menatap gerakan-gerakan buah dadaku yang semakin membuntal indah. Crut sekali lagi, cruttt lagi dan cruuttt lagii….akhirnya aku benar-benar terkulai lemas tanpa tenaga ketika kenikmatan puncak klimaks kembali berdenyutan menyedot tenagaku terakhirku hingga benar-benar habis. Tubuhku basah kuyup oleh cairan keringatku yang menetes dan meleleh dengan deras. Blukkkk… Mang Sudin membalikkan posisi kami. Kini posisiku di bawah tindihan tubuhnya yang sudah sama-sama basah banjir keringat seperti tubuhku. Pompaannya semakin cepat dan liar hingga aku terengah-engah kewalahan, cumbuan liarnya menghujani leher, bibir dan daguku. Lama sekali mang Sudin menggeluti tubuhku.
“NGAHAKKK…ANJIINGG..!! CRRROTTT…CROOOTTT“
Aku yang setengah tertidur terbangun mendengar suara seruan keras mang Sudin. Aku merintih lirih merasakan semburan spermanya yang panas di dalam cepitan vaginaku. Tubuhnya yang basah ambruk menindih tubuh mungilku. Aku berusaha membuka mataku, aku menengokkan wajahku dan menatap ke arah jendela. Masih terdengar suara rintik-rintik air hujan, gelap, segelap langkah pilihanku yang dibutakan oleh nafsu birahi yang liar dan binal. Aku memejamkan kedua mata sipitku, lalu tertidur kelelahan di bawah tindihan Mang Sudin. Tubuhku yang putih mulus tertindih oleh tubuh seorang tukang becak bertubuh hitam kekar berambut ikal.

To be… next time
he eh he he he ^_^
See’ u next episode
Thank’s for reading
Meowww
….

Selasa, 16 Oktober 2012

Dejavu, Second Chance??

Ellis
Prologue

Taman yang indah dengan air mancur di tengah-tengahnya, air mancur yang indah berbentuk seorang dewi yang menuangkan air dari gucinya dikelilingi oleh malaikat-malaikat kecil seperti cupid yang membawa busur dan anak panahnya. Pemandangan yang sangat familiar untuk Ellis, dia coba mengingat-ingat kapan dia menikmati pemandangan ini. Pikirannya menerawang kembali saat dia menimba ilmu di negri paman Sam, ini adalah taman kecil yang berada di salah satu sudut Central Park.
Di tempat ini pula dia pertama kali bertemu dengan Jack, pria tampan yang mengisi hari-harinya dengan keceriaan dan tawa. Jack, pria berumur 29 tahun yang bekerja sebagai pengacara terkenal di kota new jersey yang selalu setia menemani Ellis dalam masa-masa susahnya dan membagi keceriaan bersamanya.

“Jack … dimana kamu?” bisik Ellis lirih.
Ellis mulai merasakan ada sesuatu yang janggal, Central Park terasa sepi sekali, tidak ada kehidupan, tidak ada suara, tidak ada sirine polisi yang meraung tiap 5 menit, tidak ada tupai-tupai yang bermain dan tiada pula burung-burung yang rajin berkicau seakan menyampaikan gosip-gosip yang didengarnya. Tiba-tiba semuanya memudar, pandangan Ellis terasa kabur, kabut pekat seakan mengambang di depan matanya dan Ellis seakan terbawa oleh kabut ke sebuah ruangan. Seakan silau oleh lampu TL yang terang, Ellis menutupi matanya dan mulai memperhatikan keadaan sekitarnya, meja metal di tengah-tengah ruangan dengan dua kursi yang saling berhadapan, cermin besar di belakangnya. Meja itu terlihat kokoh dengan kaki-kakinya yang tertanam di lantai. Ruangan itu adalah ruang interogasi FBI tempatnya bekerja, tiba-tiba Ellis menyadari bahwa dia telah menamatkan akademi polisinya dengan gemilang dan langsung ditawari pekerjaan di FBI, di umurnya yang baru menginjak 21 dialah salah satu anggota FBI termuda. Ellis tidak hanya memiliki bakat menonjol, tubuhnya pun seindah patung Aphrodite di tengah-tengah Central Park. Lekukan tubuh yang sangat menggiurkan, ramping, kulitnya yang putih bersih dengan rambut hitam berkilat lurus mengembang sebahu dan selalu terlihat rapih. Dadanya termasuk cukup besar dengan ukuran 34D terlihat sangat menonjol apabila dibandingkan dengan ukuran tubuhnya yang termasuk ramping dengan perut rata dan cukup berotot.
Ellis memiliki tubuh campuran baik dari wajahnya sampai bentuk tubuhnya, ayahnya berasal dari Jepang sedangkan ibunya adalah orang bule asli berambut pirang dengan tubuh yang tidak kalah menggiurkannya dengan anaknya. Ingatannya membawanya kembali ke saat-saat briefing akan adanya penyalahgunaan dan pencurian kartu kredit besar-besaran yang diduga bahwa pusatnya berada di salah satu negara Asia Tenggara. Tepatnya Indonesia dan dugaan semula bahwa jaringan itu besar sekali sampai mencakup seluruh Asia Tenggara. Cukup besar untuk menarik perhatian FBI karena tidak sedikit perusahaan asing yang terlibat didalamnya, claim asuransi dari bank-bank luar negri terkenal yang semakin menjamur membuat FBI mengirimkan agent-agent terbaiknya untuk menginfiltrasi dan membabat bos-bos dari jaringan network pencuri tersebut.Keberhasilan team Ellis di Thailand dan China membuat bangga FBI sehingga mereka tidak ragu lagi untuk membabat sampai ke pusatnya yaitu di Indonesia, yang merupakan kesalahan mereka yang terbesar ….

####################################
Indonesia

Team Ellis tiba di bandar udara Ahmad Yani Semarang dengan pesawat pribadi milik FBI, Fokker kecil bermotor jet ganda itu mendarat tanpa ada masalah sama sekali. FBI sudah menyewa sebuah gudang tua bertempat sedikit diluar kota, di tempat yang cukup sepi dan jauh dari kediaman. Dua buah mobil Mitsubishi Pajero Sport putih dan hitam tampak mendekati markas sementara FBI itu. Dari dalam Pajero Putih keluarlah 3 orang lelaki tegap, mereka mengenakan baju santai dan celana pendek, mereka adalah Chris dan Robert, rekan sekerja Ellis dan Bernard yang merupakan pilot Fokker itu. Dari dalam Pajero Hitam keluarlah Ellis dan 2 orang lelaki, yang satu bernama Patrick, dia adalah teknisi serba guna dan ahli network sedangkan yang satunya lagi bernama Wong, dia adalah orang Chinese blasteran yang lahir di Amerika. Wong adalah ahli komunikasi dan infiltrasi. Gudang itu cukup bersih walaupun pengap dan panas sekali karena memang tidak dilengkapi oleh AC. Berbeda dengan tempat persembunyian mereka sebelumya yang paling tidak dilengkapi AC di kamar tidurnya. Ellis membuka pintu depan dan memandang berkeliling. Gudang tua itu adalah bekas penyimpanan mobil rongsokan, tak heran apabila lantainya agak berbau oli. Gudang tersebut dibagi dua, sepertiga gudang itu adalah daerah tempat tinggal, terdapat dua kamar dengan dua buah ranjang besar, dapurnya terletak disebelah kamar dan di belakang dapur tersebut adalah kamar mandi dan WC yang menjadi satu.Setelah melihat sekeliling dan memberi instruksi pada anak buahnya, Ellis dan Bernard sang pilot berangkat menuju kota untuk membeli bekal dan alat-alat pembersih. Dengan berbekal peta yang penuh coretan dan tanda-tanda dari informan mereka yang menggambarkan dengan jelas dimana letak semua tempat-tempat penting di kota tersebut, mereka meninggalkan crew yang bekerja dengan cekatan untuk memasang semua peralatan mereka. Mobil putih itu meluncur menuju Simpang Lima, tanpa ada hambatan mereka mencapai tujuan dalam waktu sekitar setengah jam. Dengan mobil yang penuh sesak dijejali barang-barang belanjaan mereka yang luar biasa banyaknya itu mereka kembali meluncur ke tempat persembunyian mereka. Di tengah jalan mereka sempat membeli makan malam dan mereka meneruskan perjalanan kembali. Sesampainya di gudang tua itu merekapun bersama-sama menurunkan semua barang-barang belanjaan mereka, sebuah kulkas kecilpun tak lupa mereka beli. Ruangan kosong itu sudah berubah 180 derajat, kabel-kabel berkeliaran dimana-mana, meja-meja sudah dipenuhi oleh peralatan elektronik yang terhubung dengan pemancar satelit militer yang terpasang diatap gudang itu. Keesokan harinya operasi pembasmian dimulai, dengan modus operandi yang sama seperti operasi sebelumnya yang membuahkan hasil gemilang, mereka memulai dari mencari informasi. Setelah merasa mendapatkan cukup informasi, mereka memulai proses infiltrasi, dengan berlaku seolah-olah mereka busines group dari luar negri yang juga bergerak di bidang pencurian kartu kredit, mereka ingin bekerja sama dan hanya mau berbicara dengan pimpinan pusat.

Abah Rohmat

Pimpinan tertinggi jaringan itu adalah Abah Rohmat, seorang lelaki di umur sekitar 55 tahunan, rambutnya sudah mulai beruban, tubuhnya tegap dan penuh bekas luka, wajahnya buruk dan terkesan galak. Dia adalah pimpinan yang disegani anak buahnya, terlihat sekali bahwa wibawanya tinggi terhadap bawahannya. Hal itu membuat Ellis dan timnya yakin sekali bahwa apabila mereka berhasil membabat Abah Rohmat, jaringan itu pasti langsung bubar. Pajero sport hitam itu melaju menerobos malam, Ellis dan Chris berbincang-bincang membahas skenario penyergapan dan pembunuhan Abah Rohmat, mereka sudah membina hubungan yang cukup kuat menurut mereka, lagipula mereka sudah berada di Indonesia selama 3 bulan, pimpinan pusat FBI sudah beberapa kali menanyakan kapan mereka akan mendengar hasil misi ini. Mereka cukup memahami bahwa ini adalah operasi yang sangat berbahaya, oleh karena itu pula mereka ingin misi ini segera berakhir dari kedua belah pihak, baik pusat maupun team Ellis.
“Guys, kalian sudah sia …..” napas Ellis tercekap saat dia membuka pintu gudang dan mendapati gudang itu berantakan, alat-alat canggih mereka hancur berantakan dan yang lebih mengejutkan lagi adalah cipratan darah segar dimana-mana.
Tiba-tiba Ellis merasakan pukulan di tengkuknya dan selanjutnya semua menjadi gelap. Ellis merasakan kepalanya terasa berat, kesadarannya mulai pulih kembali. Dengan mengerjap-erjapkan matanya Ellis mencoba membiasakan diri dengan ruangan yang terlihat asing baginya. Dia merasa aneh pada dirinya, pakaian yang dikenakannya sudah hilang entah dimana, Ellis hanya mengenakan G-string hitam yang hampir tidak menutupi apa-apa, payudaranya yang besar dan tegak menantang dengan putingnya dan aerolanya yang merah muda terekspos, udara di ruangan itu terasa panas dan pengap, tak ada jendela satu pun disana, dia mengira-ira bahwa dia disekap di ruangan bawah tanah.Dia melihat di dinding sebelah kanannya ada ranjang besi tanpa kaki-kaki yang terlihat rapat dengan dinding di belakangnya, di keempat sudutnya ada ikatan dari kulit. Tak jauh dari ranjang itu terdapat kuda-kuda kayu dengan rantai-rantai di atasnya. Pada kuda-kuda itu terdapat alat yang dapat bergetar dengan tonjolan-tonjolan kecil dari karet. Ada pula pasung dan masih banyak lagi alat-alat yang membuat Ellis bergidik.
“Ah rupanya bidadari satu ini sudah siuman, kalian anjing-anjing FBI mengira bahwa kalian itu pandai ya? Hahahahaha …” terdengar tawa Abah Rohmat dengan nada yang jelas-jelas menghina.
Abah Rohmat terlihat memasuki ruangan itu bersama dua orang bawahannya. Mereka memasuki ruangan hanya dengan mengenakan celana dalam, bawahan Abah Rohmat yang satu bertampang sama buruknya dengan Abah Rohmat tetapi buncit dan yang satunya lagi terlihat kurus dan bertubuh lebih tinggi dari keduanya, tampangnya tidak lebih baik dari keduanya, kulit mereka sama-sama hitam karena sering terbakar matahari.
“Semenjak kedatangan kalian di Indonesia kami sudah memata-matai kalian, harus kuakui kalian cukup hebat karena dapat menggulung partner kami di Thailand dan China. Rupanya kalian sudah terlalu berbangga diri sehingga kalian cukup lengah, atau memang kalian memang bodoh?”
“Apa … apa yang terjadi dengan rekan-rekanku?” tanya Ellis
“Jangan khawatir, mereka sudah kukirim ke alam baka, kami ingin informasi dan hal itu bisa kami dapatkan darimu” jawab Abah Rohmat.
“Oh Tuhan … kalian memang biadab!” teriak Ellis sambil menangis setelah mengetahui kalau semua rekan-rekannya sudah dibunuh oleh Abah Rohmat.
“Sekarang kamu akan memberi tahu kami akses kode ke database FBI, posisimu cukup tinggi jadi kamu pasti memiliki clearance yang lumayan tinggi, sebutkan nama pengguna dan kata sandinya!!” hardik Abah Rohmat

Ellis terkejut karena Abah Rohmat tahu bahwa dirinya cukup berpangkat di FBI, dengan clearance level milik Ellis, Abah Rohmat bisa saja dengan mudah menghapus nama-nama yang termasuk daftar cekal FBI atau mereka juga bisa membuat nama-nama tertentu masuk dalam daftar special FBI sehingga mereka tidak perlu melewati custom atau memiliki visa untuk dapat masuk ke negri paman Sam. Sadar dengan apa yang mereka mungkin rencanakan, Ellis memutuskan untuk menutup mulutnya. Gemas karena Ellis tidak menjawab pertanyaan yang diajukannya, Abah Rohmat memerintahkan si buncit Daro dan si tinggi Jali untuk membawa Ellis ke arah kuda-kuda kayu dan mengikat kedua tangan Ellis menjadi satu dengan borgol rantai yang tergantung diatas kuda-kuda tersebut. Kaki Ellis berlutut mengangkangi kuda-kuda itu, celana dalamnya sudah dirobek-robek sehingga vaginanya langsung menyentuh karet bergerinjal-gerinjal itu, kedua tangannya terikat keatas dan dengan posisi tersebut payudara Ellis terlihat semakin tegak mencuat kencang menantang. Dengan hanya menjentikkan jarinya Daro dan Jali sudah tahu bahwa mereka boleh melakukan apa saja yang mereka inginkan. Abah Rohmat sendiri mengambil tempat duduk di depan mereka dan sambil menikmati tontonan di depannya tangannya mengusap-usap penisnya yang mulai terangsang. Daro mulai menjilati putting payudara Ellis dan sekali-kali digigit-gigitnya puting yang tegak menantang itu sementara Jali mengambil sebuah kotak yang seperti remote itu dan mulai memutar tombol yang bertuliskan vibration.
“Hkkkk …. Eeehhhmmmmm ….. mmmmhhhh ….”
Nafas Ellis tercekat karena dia mulai merasakan rasa nikmat dari puting payudaranya yang digigiti Daro dan juga dari karet di vaginanya yang mulai bergetar perlahan-lahan. Jali yang tidak puas dengan ekspresi Ellis segera memutar tombol vibration hingga setengah kekuatan dan memutar tombol yang bertuliskan heater juga sampai setengahnya. Ellis mulai tidak tahan untuk tidak mengerang seiring dengan getaran yang makin menguat dan dia mulai merasakan vaginanya mulai panas. Butir-butir keringat terlihat bertonjolan di sekujur tubuh putih mulus yang menggeliat-geliat dalam rangsangan-rangsangan kenikmatan yang di terimanya secara bertubi-tubi. Jali menempatkan diri di belakang Ellis dan tangannya meremasi payudara Ellis yang kini bebas karena Daro sudah melepaskan kulumannya dari puting Ellis dan sekarang melumat bibir Ellis yang merekah karena menahan gejolak birahinya. Ellis yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan lelaki mulai blingsatan dan tubuhnya terasa sensitif sekali. Tangan-tangan Jali dan Daro yang menggerayangi tubuhnya yang putih mulus mengkilat berkeringat itu semakin cepat membawanya ke gerbang orgasme. Jari jemari Daro tidak tinggal diam, klitoris Ellis yang sudah membengkak di usap-usapnya sambil sesekali di pencet-pencetnya klitoris Ellis yang membuat yang empunya mengerang-erang dengan penuh kenikmatan.
“OOHHHH….. AAAHHHH…. AAARRGGGHHHHH….. SHHH ….. HHGGHHHH…..” Teriakan keras Ellis menggaung di ruangan itu, setelah 15 menit penuh dengan rangsangan-rangsangan akhirnya Ellis tidak tahan lagi dan orgasme pertamanya pun meledak dengan kuatnya. Punggungnya menekuk membusur, kuluman Daro terlepas hingga Daro terjungkal ke belakang, begitu pula Jali yang saking kagetnya sampai mengumpat-umpat sambil meloncat ke belakang. Abah Rohmat tertawa tergelak-gelak melihat pertunjukan yang menggelikan itu.
Jali


Sementara tubuh Ellis terlihat mengejang-ejang selama satu menit dan akhirnya tergolek lemas, Ellis merasakan sakit di pergelangan tangannya yang terborgol dan menopang tubuhnya.
“Jali, kita harus memberi tamu kita pelayanan kita yang sebaik-baiknya” kata Abah sambil jari telunjuknya mengungkit keatas seperti memberi kode.
Jali yang mengerti maksudnya segera memungut remote kuda-kuda itu dan memutar semua tombol kontrolnya ke maksimum. Kuda-kuda itu segera bergetar dengan dahsyatnya, begitu pula pemanasnya semakin terasa panas. Tubuh Ellis tersentak kaget, Ellis berteriak-teriak seperti orang gila karena vaginanya yang sudah terasa sensitif itu kini dirangsang dengan ganasnya oleh mesin kuda-kuda itu, kepalanya menengadah, pergelangan tangannya terasa sakit oleh borgol yang membelenggu tangannya. Butiran-butiran peluh terlihat membanjiri tubuh basah mengkilat itu bagaikan anak sungai yang berlomba-lomba menuruni gunung, kaki Ellis bergetar-getar oleh rangsangan-rangsangan itu.
“OOHHHH … TIDDDAAAKKKK …. AAAAHHHHH …. AARRRGGGHHH …. GGGHHH …. HHHHAAAHHHHHH….. UUUGGHHHHHHH…. AAAAAAAAAAA ….” Akhirnya Ellis mendapatkan orgasme susulannya setelah 6 menit mesin itu berpacu merangsang Ellis, orgasme yang tak kunjung reda selama 5 menit selanjutnya benar-benar terlihat dampaknya pada tubuh Ellis, seakan-akan tubuhnya menginginkan yang lebih lagi, orgasme demi orgasme menghantam Ellis bagaikan palu yang seakan-akan ingin meluluh lantakkan tubuhnya dan hampir merenggut kesadarannya.
Abah menjentikkan jarinya dan Daro serta Jali segera mematikan mesin itu dan membebaskan pergelangan tangan Ellis. Dengan nafas terengah-engah dan tubuh yang masih bergetar-getar Ellis segera ambruk setelah tidak ada lagi yang menyangga tubuhnya.
Abah Rohmat yang sudah bugil itu menghampiri tubuh basah bersimbah keringat itu, mengangkatnya untuk memindahkannya ke kasur yang ada di lantai itu. Kepala Ellis bersandar di dada Abah sementara tangan Abah sibuk meremasi payudara Ellis.
“Wah kenyal sekali, nikmat sekali wanita ini” kata Abah sambil lidahnya menjilati leher Ellis yang bermandikan keringat itu. Ellis hanya dapat mengerang lirih ketika jari jemari Abah menggosok-gosok vaginanya dan memencet-mencet klitorisnya sementara lidahnya sudah turun ke ketiak Ellis dan merambati payudaranya dan akhirnya mengenyoti puting payudara Ellis.
“AAAHHHHH …..” teriakan Ellis terdengar pilu saat Abah menggigit kuat-kuat puting payudara Ellis. Abah yang sudah dibakar nafsu akhirnya mengubah posisi dan mendudukkan Ellis berhadap-hadapan dengannya, kepala penisnya perlahan-lahan membelah vagina Ellis saat tubuh Ellis yang licin melorot dari pelukan Abah.
“Ahhh … hmmmm ….. nnggghhhh ….” Kenikmatan yang dirasakan vagina Ellis yang dirojok oleh penis yang kokoh, besar dan panjang itu ternyata direspon secara tak terduga oleh tubuh Ellis.
 Tanpa disadarinya tubuhnya bergerak sendiri mencari kenikmatannya, dengan kakinya menjepit pinggul Abah Rohmat, tubuh Ellis bergerak naik turun menggenjot penis Abah yang serasa dijepit dengan kencangnya oleh liang surgawi milik gadis muda itu. Daro dan Jali yang tidak mau ketinggalan segera menempatkan diri mereka di sekeliling Abah bagaikan anjing yang meminta jatah makanan.

Setelah 15 menit dengan posisi saling menunggang, Abah membalik tubuh Ellis dan Abah Rohmat berbaring tiduran sementara Ellis mengulum penis Abah dengan mulutnya. Jali mengangkangi Ellis dengan penisnya menggosok-gosok punggung Ellis sambil kedua tangannya meremasi payudara Ellis yang menggantung bebas.
“Hmmmhhh … hhhmmmm …. Mmmm ….” Ellis hanya bisa mengerang-erang penuh kenikmatan saat vaginanya disodok-sodok dengan kencang dari belakang oleh Daro. Payudaranya terpental-pental maju mundur oleh gerakan Daro yang lumayan brutal, Jali tidak tahan lagi dan meremas-remas buntalan payudara Ellis dengan gemasnya. Tangan Abah merenggut rambut Ellis dan memaksa kepala Ellis untuk maju mundur lebih cepat lagi, Ellis pun berkali-kali tersedak dan menggapai-gapai mencari udara saat kepalanya terbenam di selangkangan Abah dan penis Abah merojok tenggorokannya. Daro berbaring sambil penisnya masih tetap mengocok vagina Ellis dan Jali mengambil posisi di belakang Ellis, tanpa ampun lagi penisnya merojok masuk membelah anus Ellis yang masih kering disertai oleh teriakan Ellis yang teredam penis Abah. Abah sendiri merasa lebih nikmat karena getaran-getaran yang ditimbulkan oleh tenggorokan Ellis. Posisi itu bertahan selama 20 menit dan sementara ketiga pria itu belum juga mendapatkan orgasmenya, Ellis sendiri sudah 4 kali orgasme, tubuhnya berkali-kali mengejang dan menggeliat dalam kenikmatan. Akhirnya Ellis tidak tahan lagi oleh siksaan kenikmatan yang diterimanya secara bertubi-tubi dan dengan satu erangan keras Ellis mencapai orgasme kelima dan terkuatnya.
“HHHHOOOOOHHHHH …. AAAAHHGGHHHHH ….. UHHNMMHHHH ….” punggung Ellis melengkung ke atas, keringatnya yang membanjir menetes-netes dari dagu, puting dan perutnya menghujani tubuh Abah yang berada di bawahnya.
Mata Ellis mendelik ke atas dan kulumannya pada penis Abah terlepas, pada saat yang sama ketiga pemerkosanya juga mendapatkan orgasme mereka, punggung Ellis terhujani sperma Jali, mukanya terhujani sperma Abah dan dari vaginanya menetes sperma Daro yang tidak tertampung lagi saking banyaknya. Setelah orgasme panjangnya, Ellis pun ambruk tergeletak tak sadarkan diri. Ketiga pemerkosanya hanya tertawa tergelak-gelak sambil meludahi tubuh Ellis yang terkapar terengah-engah bersimbah keringat dan sperma ketiga pemerkosanya. Ellis merasa dunia berputar dan dia melihat tubuhnya yang pingsan dan bermandikan keringat itu digotong oleh Jali dan Daro ke ruangan kecil dengan satu selang air, tubuhnya yang tak sadarkan diri itu disemprot air oleh keduanya dan dibersihkan dari keringat dan sperma. Ellis mendengar percakapan mereka dengan jelas.
“Wah pegawai FBI ternyata nikmat juga ya?”
“Dengan tubuh seperti ini pasti dia tidak ada masalah naik pangkat, cukup ngentotin bosnya, hahahaha …”
“Wah abah masih belum puas nih sepertinya, dia belum mendapatkan kode sandinya, jangan-jangan dia akan mengalami siksaan ranjang?”

Daro

Lalu semuanya kembali gelap dan berputar-putar, saat Ellis membuka matanya, tubuhnya sudah terikat terlentang berdiri dengan ranjang besi tanpa kasur itu menempel di punggungnya. Tubuh Ellis terasa bersih, rupanya selama dia tidak sadarkan diri, tubuhnya yang lengket karena sprema dan keringatnya maupun keringat para pemerkosa itu sudah dibersihkan.
“Sudah bangun rupanya, banyak yang takluk di siksaan ranjang, mari kita lihat apakah kamu bisa bertahan, ha ha ha ha ….” Abah tertawa-tawa hingga perutnya yang buncit terlihat terguncang-guncang.
Abah mencengkeram belakang rambut Ellis dan wajahnya tiba-tiba terlihat bengis, nafasnya terasa berhembus di pipi Ellis.
“Aku beri kamu kesempatan terakhir sebelum menjalani siksaan yang lebih ganas lagi, sebutkan kata sandi database FBI atau kita lihat seberapa tahannya dirimu.”
“Aku tak akan menghianati kepercayaan dan negaraku, you all can go to hell for all I care!” Ellis menolak memberikan kata sandi kepada Abah, hal itu benar-benar membuat Abah marah besar.
“Jali! Pegangi wanita jalang ini, sebentar lagi dia akan menjadi pelacur paling rendah, ha ha ha” Jali yang kelihatannya sudah tidak asing lagi dengan penyiksaan ini langsung tahu bahwa dia harus memegangi kepala Ellis sementara Daro memegangi lengan Ellis.
Abah mengambil tabung yang berisi cairan bening, menusukkan jarum suntik melalui membran karet yang menjaga agar isinya tetap steril dan mengisi tabung suntik itu dengan cairan bening tersebut. Setelah penuh dan memastikan bahwa tidak ada lagi udara dalam tabung maupun jarum suntik itu, Abah mendekati Ellis dan menusukkan jarum suntik itu ke leher Ellis, langsung ke aortanya. Abah mengosongkan isi tabung suntik itu diiringi oleh mata Jali dan Daro yang terbelalak melihat hal itu, rupanya dosis yang diberikan pada Ellis kali ini melebihi dosis biasa. Ellis merasa tubuhnya aneh, keringat mulai membanjir keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya, tubuhnya terasa gatal ingin disentuh. Putingnya mencuat keluar lebih kencang daripada biasanya, klitorisnya mengembang dan terasa gatal pula. Kepalanya terasa pening bukan main. Ellis mulai menggeliat-geliat resah, tangannya sudah ingin menyentuh tubuhnya sendiri, meremas-remas payudaranya dan menggosok vaginanya tetapi posisi tubuhnya yang terikat erat membuatnya tak berdaya. Jali terlihat memasuki ruangan sambi membawa dildo besar berwarna hitam yang ditancapkan pada gergaji listrik sehingga jika gergaji tersebut dinyalakan dildo itu juga akan ikut bergerak maju mundur dengan kecepatan tinggi. Cairan vagina Ellis sudah membanjir keluar karena afrodisiac yang disuntikkan pada tubuhnya membuat dildo itu masuk dengan mudahnya menembus liang vaginanya.
"HHHGGG .... Aaahhhh .... aaahhhhh ..... aaaahhhhhhh" Ellis tercekat dan berteriak-teriak ketika dildo itu dinyalakan dan mulai mengocok vaginanya dengan kecepatan tinggi. Dalam waktu singkat Ellis sudah mendapatkan orgasme berturut-turut yang tidak dapat diredam karena dildo itu terus mengocok vaginanya. Keringatnya sudah menetes-netes membasahi lantai dibawahnya, tubuhnya bergetar-getar tanpa dapat dikontrol. Ketika dildo itu berhenti Ellis sudah tidak kuat lagi berdiri, tubuhnya ambruk dengan lemas dengan hanya bergantung pada kedua tangannya yang terikat di ranjang besi itu.

Selama satu jam berikutnya siksaan demi siksaan terus diterima Ellis, mereka entah melumat-lumat payudaranya, menempelkan alat pijat getar di putingnya dan klitorisnya, bahkan mengocok vagina Ellis dengan dildo yang ditempelkan pada mesin bor listrik.
Vaginanya sudah memar-memar dan terlihat membengkak karena siksaan demi siksaan yang terus diterimanya, orgasme demi orgasme yang menghantam makin menjebloskan Ellis ke dalam lembah kelam. Akhirnya semua menjadi gelap bagi Ellis 
Tik. Tik tik tik. Tik…, air hujan mengguyur semakin deras, ellis merasakan tubuhnya serasa remuk, lelah, putus asa menghinggapi dirinya tapi ia tetap bertahan walaupun sudah kesulitan untuk membuka kedua matanya.
Abah memaki panjang lebar, “sialan, brengsek.., masih tetap membandel..!! Jali.. ikat dia…,kita lanjutkan besok…!!! ” dengan kasar Jali mengikat kedua tangan ellis kebelakang, “besok ?? !! tapi bah… saya masih pengen…” Jali cengengesan. “ Ahh, terserah…, aku capek” Abah tidak mempedulikan Jali dan daro dan meninggalkan mereka.
“Stop it, pleaseee, no more, no more…” Ellis memohon
“haaaa ?? !! no more ?? di film – film juga biasanya mah cewe bule kuat begituan.. iya ngak ro…?”
“Bener , malahan bisa ngadepin banyak cowo…, di genjot sana sini, jungkir balik kaya akrobat…”
“Hssssshhhh ouchhhh…its hurtt” Ellis meringis saat Jali menjewer gemas bibir vaginanya.
“Ngaha ha ha ha ha…, sakit ya…, kalo ngak mau sakit, nihhh lu isep batang gw” Tangan Jali menjambak rambut dan menarik kepala ellis agar segera melakukan “tugasnya”, sementara Daro merenggangkan kedua paha ellis , mulut Daro mengecup ngecup paha ellis bagian dalam dan terus naik mengejar selangkangan ellis, mulut Daro terbuka lebar kemudian bagaikan seekor ikan hiu ganas yang kelaparan ia menerkam vagina gadis itu, melumat liar dan menghisap rakus menikmati cairan lendir lendir vagina ellis yang menggeliat lemah saat nafsu birahinya kembali bergolak semakin panas.
“Hmmmoufffhhh, hmmmouufffhhhhh” kedua mata Ellis mendelik delik saat batang Jali mendesak masuk kedalam tenggorokannya,
Mata Jali merem melek akibat rasa nikmat saat dinding tengggorokan Ellis berkontraksi kuat meremas – remas benda panjang di selangkangan laki laki itu. Daro mulai mengambil posisi menyerang, kedua kaki ellis mengangkang keatas dicengkram oleh tangan daro, batang yang berurat itu kembali menempel di vagina ellis, dengan sekali sodok Daro membenamkan batang kemaluannya tubuh moleknya yang bersimbah peluh berpeluk kembali terguncang dengan hebat saat batang milik Daro melesat keluar masuk mengocoki belahan sempit diselangkangan gadis itu yang memar kemerahan, aura mesum menyelimuti ketiga orang yang tengah asik “bekerja”

“No more!!, no more dimulut doang..!!! he he he, buktinya sekarang lu ketagihan ngisepin kontol gue kan… nga ha ha ha ha”Jali keenakan saat Ellis menjilati batang kemaluannya, batang lidah ellis seperti sedang mengikir menjelajahi lekukan – lekukan “topi” diselangkangannya, kemudian mulutnya bergerak turun naik mengecupi batang perkasa yang semakin menegang.
“ahhh, ahhhhh crettt crrrrrttttt” wajah ellis merona menahan nikmatnya gelombang klimaks , bibirnya meringis menikmati sentakan kuat aliran nafsu yang menggebu merayapi urat-urat syaraf disekujur tubuhnya hingga ia menggigil hebat.
Bagaikan gila tiba tiba Daro dan Jali menerkam Ellis, mereka menyusu dengan rakus sambil menggerayangi lekuk liku tubuh si gadis, buah ranum yang empuk empuk kenyal di dada ellis menjadi santapan bagi kerakusan dua orang laki laki liar yang berebut menikmati kehangatan tubuhnya, erangan dan rintihan lirih ellis menjadi pemicu kegarangan jali dengan kasar Jali menyeret ellis dan memposisikan tubuh gadis itu menungging, ujung kemaluan jali mencongkel congkel belahan Vagina yang berlendir kemudian mangarah pada kerutan lubang anus yang mengkerut saat ujung benda diselangkangan Jali menoelnya.
“BLOSSSHHHHH….”
“HEGGGHHH Akhhhhhh…, AOWWWWW,, Amphunn aWwwwwkkkkhhh, .”
Pedih sekali rasanya saat batang Jali merangsek kasar, jeritan dan erangan silih berganti keluar dari bibir ellis , tanpa ampun Jali menghentak hentakkan batangnya menyodomi ellis, kedua tangan jali mencengkram kuat kuat pinggangnya yang ramping, pekikan dan jerit kesakitan memanjakan telinga jali yang asik menunggangi ellis sementara Daro meraih dan meremas-remas buah dada Ellis yang terayun mengikuti irama sodokan kasar penis Jali.
“Uhhh, Auggghhh heeennnggghhh aaaaaa…..”
Sambil menarik tubuh Ellis, Jali menjatuhkan diri ke belakang, Mata Daro melotot melihat belahan Vagina Ellis yang merekah sementara batang Jali menancap kuat pada lubang anusnya, dengan senyuman mesum Daro mulai bergerak mensandwich Ellis.
“Oooooo, Ooooohhhhhhhh….”
“HA HA HA HA HA…”
Suara lenguhan keras ellis disambut oleh suara tawa bejat Jali dan Daro, liang anus dan liang Vagina Ellis menyempit diisi sesak oleh dua batang yang berusaha bergerak dengan susah payah, merayap berusaha masuk lebih dalam kedalam “sarungnya” masing masing, dengus nafas yang memburu terdengar keras , suara lenguhan tertahan mendirikan bulu roma dan geliatan lemah seorang gadis bertubuh putih  molek terlihat indah di antara jepitan tubuh – tubuh berkulit gelap yang tengah menikmatinya.
“ohhhhhhhh cruttt crutttt…nnggggghhh” entah untuk yang ke seberapa kali Ellis mencapai puncak klimaks sementara Jali dan Daro masih sibuk mengasah batang kemaluannya menikmati anus dan vagina sicantik hingga akhirnya terasa semburan lahar panas dan pelukan kuat kedua laki-laki itu yang seakan ingin melumat keindahan tubuh yang lunglai tak berdaya dan akhirnya ketiganya terengah dengan nafas tersenggal.

“Ellisss.. Ellissss…”
Antara sadar dan tidak Ellis membuka kedua matanya, ia seperti mendengar suara Jack,
“Jjaccckk. Toloooonggg akuuu…”
“Ellis…, ikut aku.. Ellisss…”
“aku tidak sanggup Jack, aku kesakitan, lelahhh…, sakit sekali Jackk”
“Ayo Ellis.. ayoooo…, aku tahu kau sanggup Ellis..”
Entah mendapat kekuatan dari mana tiba – tiba ellis berontak, sikunya menghantam ke belakang pada leher Jali sementara tinjunya mengarah pada dada Daro, Jali yang masih termegap hanya dapat mengeluh keras kemudian terkapar pingsan, sementara Daro terjungkal kebelakang “BRUKKKKK…”
“sialan….. “
Bagaikan macan betina Ellis menerkam Daro, kedua tangannya meelingkari leher laki-laki itu dan lututnya menghantam tepat keselangkangannya, “DUGGG…” “HUUUUNGGGGHHH” Daro melenguh keras, kedua matanya melotot dan kedua tangannya menekap sesuatu yang menggantung di selangkangan.
“Ellis.., Ellis..”
“j-jackkk.. kau dimana ?? Ohhhh…”
Dengan tubuh tergontai Ellis berpegangan pada dinding, dengan hati-hati ia menaiki anak tangga,
“krokkkk.. krokkkk.. kroooooook” suara orang yang sedang mengorok terdengar semakin keras, ellis mengendap memungut botol bir kosong , dengan sekali kemplang, disikatnya kepala Abar yang mendelik terbangun dari tidurnya”BUKKKKKKK “
“hegggghhhh croottttttt….” Abah mengalami mimpi basah yang ngak tuntas karena sudah keburu kelenger.
“ellisssss… ELLLISSSSS….” suara jack yang memanggil terdengar semakin jelas,
Ellis menolehkan kepalanya kearah kaca jendela, seraut wajah di balik jendela seperti membuat semangat dan tenaganya pulih, “Itu JACK”, kaki Ellis melangkah semakin cepat mengejar sosok bayangan Jack, aneh..!! berapa cepatpun ia berusaha mengejar, sosok Jack yang terlihat berjalan tetap tidak terkejar olehnya hingga suatu saat dan di suatu tempat, Jack berhenti.
“J-jack.. hhh .. aku rindu sekali… akuu…”Ellis memeluk Jack erat-erat dan dengan lembut Jack membalas pelukannya, detik demi detik berjalan lambat seolah memberikan kesempatan bagi kedua insan untuk saling melepas kerinduan,
“Ohhh…!” Ellis seperti teringat sesuatu, Jack masih hidup ?? bukankah ?? karena terkejut Ellis melepaskan pelukannya dan mundur ke belakang, ingatannya seolah menyadarkan ellis, akan sesuatu, kontan saja Ellis pucat pasi.

“NEW YORK —  A US Airways jet crash  Thursday between Manhattan and New Jersey after a flock of birds apparently struck its engines —  no one Survived” dan salah seorang korbannya adalah Jack.

“Jack ?? bukankan kau sudah….”
“Diitttttttt…… “Dengan spontan Ellis menoleh ke arah kanan, matanya silau oleh lampu sebuah mobil yang melaju kencang, dan…………
“Ellis.. Ellis…?? “
“Jack ?? “
“Apakah kau baik-baik saja ??”
“aku ?? ini ? ini dimana Jack ?”
“Lohhh… ?? apakah kau lupa empat ini ? ini tempat dimana kita pertama kali bertemu…, benar- benar keterlaluan…, mana hidungmu biar aku cubit… ha ha ha” jack mencubit hidung ellis yang mancung, karena ellis yang masih terdiam dan pucat pasi , jack menghentikan candaannya, dengan nada khawatir jack kembali bertanya
“Ellis…??whats wrong ? Are you ok ? “
“i…, no., noo, I,m ok, fine..”
Seorang pelayan memecah keheningan, menu ini, adalah menu yang sama dengan ingatan Ellis, makan malam yang romantis bersama Jack, semuanya seperti diputar ulang dan Ellis dapat mengingatnya, ia merasa pernah mengalami hal yang sama.

------------------
Dejavu : meaning "all over again") is the experience of feeling sure that one has already witnessed or experienced a current situation 
---------------------
Dan kini lampu berubah redup, Jack berdiri di atas panggung dan bernyanyi dengan suara emasnya.”Unchained melody” ya lagu itu lagu kesukaan Ellis.

Oh, my love my darling 
I've hungered for your touch  
a long lonely time  
and time goes by so slowly 
and time can do so much 
are you still mine? 
I need your love I need your love  
Godspeed your love to me  

Lonely rivers flow to the sea, to the sea  
to the open arms of the sea 
lonely rivers sigh 'wait for me, wait for me'  
I'll be coming home wait for me   

Oh, my love my darling  
I've hungered for your touch  
a long lonely time  
and time goes by so slowly  
and time can do so much 
are you still mine? 
I need your love I need your love 
Godspeed your love to me

Jack menghampiri Ellis dan berlutut, sebuah cincin , ya Ellis melihat sebuah cincin
“Ellis.., jadilah istriku..”
“maaf Jack.., aku.. akuu…”
“kenapa ? apakah kau tidak mencintaiku ?”
“Bukan itu….”
Kejadian hari itu kembali berulang, Ellis kembali harus memilih, antara karier dan cinta, apakah ia akan menerima cinta Jack hari itu ataukah ia akan memilih untuk menjadi agen FBI, cita-citanya yang diperjuangkan dengan keras dan kini ada di depan mata.
“aku belum siap Jack.. aku…”
“Tidak apa. Apa sayang… aku mengerti…” Jack tersenyum dan kemudian mengecup kening Ellis, canda dan tawa saling berganti dalam kemesraan yang membuat iri orang yang melihatnya, Jack yang jauh dari kata tampan tampak mesra dengan Ellis yang cantik menggoda. Kulit Jack yang hitam tampak kontras dengan kulit Ellis yang putih, keduanya bergandengan tangan menuju mobil, Jack mengantar ellis pulang entah kenapa semakin lama Ellis semakin gelisah. Ia tambah gelisah saat Jack berencana naik pesawat terbang, apakah kejadian itu akan berulang kembali, apakah kesepian yang mendalam itu akan benar-benar terjadi?? Setengah jam kemudian mereka sampai dirumah Ellis.
“yaaa.., tadinya jika kamu menerima lamaranku, aku berencana mengajakmu menemui pamanku di ranch miliknya, setelah orang tuaku meninggal, hanya dialah satu-satunya yang menjagaku selama ini…., tapi… rencana berubah… “
“maafkan aku Jack….”. batin Ellis berkecamuk
“no, no, its okay, I will always love …, and waiting for you.” Jack mengecup kening Ellis kemudian ia turun dan mengantarnya sampai ke depan pintu rumah gadis cantik itu, Dari depan pintu rumah Ellis terus menatap punggung Jack yang akan masuk ke dalam mobil
“Jackkkk.. tunggu…..”
“Ellis ? “
“Aku menerima lamaranmu Jack.. aku …”
“ohhh Elllis…..sungguhkah ?”
“ya Jack.., Sungguh….”

Di kemudian hari , ellis duduk dengan santai dikursi sofa , jantungnya berdebar keras saat melihat tajuk utama koran hari ini ...

“NEW YORK —  A US Airways jet crash  Thursday between Manhattan and New Jersey after a flock of birds apparently struck its engines —  no one Survived”

“Good morning…” seseorang keluar dari dalam kamar
“morning jack…”Ellis balas menyapa, ia tersenyum
Jack batal menjadi pengacara dan membantu pamannya mengurus sebuah ranch yang kini berkembang dengan pesat. Seorang negro bertubuh kekar memeluk tubuh putih yang sedang duduk santai di sofa dengan hanya mengenakan g-string berwarna merah.
"You're so sexy, baby ..." Jack memuji Ellis sambil tangannya meremas payudara putih berputing merah muda yang kenyal dan padat itu dengan disertai erangan lembut sang empunya.
Ellis memalingkan wajahnya dan bibirnya yang merah ranum berpagutan dengan bibir tebal Jack, keduanya saling memagut dalam gairah, lidah mereka saling bertemu, membelit dan bertarung. Tangan Ellis melingkar di leher Jack dan menariknya tiduran di sofa. Dua sejoli itu memadu cinta sepanjang hari bagaikan tiada hari akhir, saling menikmati setiap detik yang mereka miliki.

Mungkingkah dejavu adalah kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang kita lakukan ??  the answers is yours…

Minami & Yohanna